Just another alif site

20130321-212705.jpg
Dibawah hujan yang membasahi jalanan Jakarta, saya dan 2 orang rekan memantabkan hati untuk menghadiri konser Bloc Party, sebuah band asal inggris dengan aliran indie techno rock.
Walaupun kami belum punya tiket, ternyata ticket box sepi tidak ada antrian. Sedangkan calo juga menawarkan tiketnya lebih rendah dari harga ticketbox. Saya sendiri akhirnya beli tiket dr calo seharga 300rb, dari yang seharusnya 490rb untuk kelas festival. Kelar beli tiket, kami pun masuk dan ternyata pertunjukan sudah dimulau dengan band pembuka the Adams. Tepat pukul 22:00 akhirnya yang dinanti naik ke atas panggung. Yang menarik perhatian saya dari mereka, kaos Kele yang bertuliskan “Support Your local Artist”, sedangkan si Matt Tong seperti biasa topless, hanya mengenakan celana pendek saja.
Secara keseluruhan, Bloc Party sangat fantastis! Permainan gitar Russel edan banget! Gebukan drum Matt juga seperti orang kesetanan. Sehingga tanpa sadar badan saia pun tergerak untuk selalu moshing atau head banging. Sayang 2 lagu favorit saia gak ada dalam set list semalam, yaitu Mercury ama The Prayer, padahal 2 lagu itulah yang memperkenalkan kuping saia ini dengan musik Bloc Party. Anyway, it was a great night, awesome show… Inilah Party yang selalu saia tunggu-tunggu semenjak pertama kali dengar lagu the Prayer, gak nyangka akhirnya kesampaian juga.

20130321-214238.jpg

Semangat Baru

Aktivitas yang sama dalam kurun waktu yang cukup lama pasti akan membuat perasaan bosan menghinggapi. Tak terkecuali di dunia kerja, pekerjaan yang dirasa monoton dalam kurun waktu hampir 6 tahun membuat motivasi bekerja agak berkurang.

Alhamdulillah, akhirnya di awal tahun ini ada pencerahan untuk dapat berpindah kerja, bukan pindah perusahaan sih, hanya pindah unit kerja saja. Tapi efek yang timbul dengan adanya hal yang baru ini adalah motivasi kerja yang kembali lahir. Kembali belajar lagi hal-hal baru, partner kerja baru, tantangan baru dan hal-hal baru lainnya.

Perasaan ini sama dengan perasaan ketika travelling ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Ketika kita travelling ke tempat yang biasa saja, misal Bandung, kita cenderung datar-datar saja. Tapi misalkan kita pergi ke tempat yang masih asing, pasti kita akan semangat untuk belajar tentang tempat asing itu, membuat itinerary, mempersiapkan budget, perlengkapan, dll. Jadi boleh dibilang dunia kerja itu seperti travelling, kita butuh tujuan baru dan tantangan baru agar hidup kita semakin kaya dengan pengalaman dan cerita. Well, semoga saya berhasil di unit kerja ini.

Sebagai pembuka tahun 2013, Jakarta lagi-lagi kedatangan sebuah band asal California. Weezer yang mulai saya kenal ketika masih duduk di bangku SMP akhirnya mewujudkan konser pertama mereka di Indonesia pada 8 Januari 2013.

20130110-135219.jpg

Total ada 21 lagu yang dibawakan di konser, dan yang bikin kaget pas mereka mainin lagu “Heavy Rotation” nya JKT48, lagu yang masyarakat kenal karena iklan Pocari Sweat. Secara garis besar ada 2 bagian di konser tersebut, bagian pertama mereka memainkan setlist yang dianggap greatest hits mereka, dan di bagian kedua giliran Blue album yang digeber. Sesuai dengan tagline mereka di poster “Performs a Greatest Hits Set, Followed by the Blue Album From Start To Finish”. Pergantian bagian ini ditandai dengan perubahan backdrop panggung, dari yang tadinya berwarna kuning menjadi biru. Dan ada sebuah presentasi dari Karl yang menampilkan beberapa slide foto Weezer dari masa ke masa. Seperti gaya rambut, kendaraan yang mereka pakai di awal-awal karir, artikel pertama dari sebuah Majalah yang membahas tentang Weezer, dan beberapa poster-poster pertunjukkan awal Weezer yang rata-rata gratis :)

Performansi Weezer pada malam itu saya acungi jempol, di beberapa waktu jeda antar lagu mereka sempatkan untuk menyapa penonton dengan bahasa Indonesia. Sound cukup lumayan, tapi lighting sangat standar abis. Yang membikin penonton agak kesal mungkin karena venue konser yang mengambil tempat di Lapangan D Senayan. Dimana karena pada siang hari nya sempat hujan dan di saat beberapa lagu terakhir hujan turun, lapangan pun menjadi becek penuh lumpur. Kondisi seperti ini cukup menyulitkan kaki untuk loncat-loncat mengikuti lagu Weezer yang cukup energik.

Semalem pas beli tiket pulang ke rumah, ada tempelan surat dari PT KAI, yang mengintruksikan bahwa penumpang KRL yang membawa sepeda jinjing/lipat, wajib beli karcis. Surat tersebut tertanggal 21 April 2011. Ternyata sudah lama toh ada peraturan seperti itu, tapi kok saya baru tahu kemarin yah.

Memang saya sendiri juga sudah lama gak pernah bawa masuk sepeda lipat naik KRL, karena memang kondisi penumpang KRL sekarang yang menurut saya sudah melebihi kapasitas normal, terutama pada jam sibuk berangkat/pulang kerja. Jadi memang rada gak enak bawa sepeda masuk KRL. Cuma kok rasanya peraturan ini terlalu berlebihan. Karena pangkal permasalahan sih sebenarnya ada pada daya angkut KRL yang dirasa sangat kurang dengan animo masyarakat pengguna KRL. Sudah bukan rahasia lagi kalau KRL AC tapi suasana berasa dalam sauna saking banyaknya orang yang berjubel di dalamnya. Apalagi kalau ditilik dari alasan para pengguna KRL yang membawa sepeda, yaitu untuk memudahkan perjalanan dari stasiun ke kantor. Contoh nya saya, dulu saya membawa sepeda lipat karena saya merasa agak susah menentukan moda penghubung stasiun Palmerah dengan kantor saya yang terletak di Wisma Mulia. Karena memang posisi stasiun Palmerah nanggung, tidak terhubung dengan moda transportasi yang lain. Memang sih, bisa jalan dulu ke jalan Gatot Subroto, terus naik bis kota / busway, tapi jalan kaki menuju jalan Gatot Subroto/Slipi sangat tidak nyaman. Trotoar yang tidak manusiawi, sehingga kadang kita harus jalan kaki di pinggir jalan raya dengan resiko kena sruduk sepeda motor. Jadi naik sepeda sangat menyenangkan, irit, dan yang pasti lebih go green. Andai saja stasiun Palmerah bisa digeser letaknya ke tempat yang lebih strategis, yaitu dibawah fly over diantara gedung DPR dan perempatan slipi/JDC, tentu akan lebih enak untuk berpindah ke moda bus untuk ke kantor.

Tapi ada yang lucu di surat tersebut, disitu tertulis jenis sepeda yang dimaksud, yaitu sepeda jinjing/lipat. Berarti kalau bawa sepeda gunung gak wajib beli karcis kereta kan =)

20121123-185317.jpg

Pergi ke Mall di akhir pekan menjadi pilihan banyak orang di Jakarta. Lonjakan pengunjung ini terkadang membuat jaringan 2G/3G di Mall tersebut menjadi menurun performansinya. Dengan semakin besarnya data yang diakses dari perangkat mobile, beberapa operator telah menawarkan solusi penggunaan WiFi.
Mobile WiFi seamless merupakan solusi perpindahan koneksi jaringan dari 2G/3G ke WiFi secara otomatis tanpa login. Hal ini dimungkinkan apabila pelanggan menggunakan perangkat yang mendukung teknologi EAP-SIM. Untuk itu kita perlu men-setting perangkat mobile kita terlebih dahulu. Tinggal kita ketikkan saja alamat URL konfigurasi WiFi seamless ini di mobile browser, nanti secara otomatis kita akan dipandu untuk menuju ke Setting Control. Tinggal ikuti saja wizard untuk instalasi profile konfigurasinya. Apabila sudah selesai, kita tinggal mencari network WiFi dengan SID “flashzone-seamless”, dan perangkat mobile kita akan otomatis menggunakan jalur WiFi untuk koneksi data.

20121116-000257.jpg
Kebetulan penulis sedang lagi di salah satu mall di Jakarta yang telah terpasang WiFi Seamless Telkomsel, setelah berhasil autentifikasi jaringan WiFi, saatnya mencoba test koneksi menggunakan aplikasi speedtest.

20121116-000848.jpg
Hasil test koneksi cukup lumayan. Dengan menggunakan WiFi, pelanggan dapat menghemat kuota pemakaian data dan lumayan juga baterei jadi awet karena koneksi data yang stabil. Dan buat operator, penggunaan Wifi ini lumayan dapat membantu untuk mengurangi beban jaringan GSM mereka.

Angka penjualan sepeda motor di Indonesia sangat fantastis, wajar apabila beberapa pabrikan motor memasukkan tagline mereka dalam bahasa Indonesia pada bodi motor MotoGP. Misalkan “Satu Hati” pada team Honda Repsol, dan “Semakin di Depan” dan “Jupiter Z1″ pada team Yamaha Factory Racing.
Pameran Jakarta Motor Cycle Show 2012 seakan menjadi pelepas dahaga buat masyarakat Indonesia yang demen ama motor. Berbagai lapisan masyakat dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak muda datang ke event ini untuk melihat motor favorit mereka. Hanya saja sayangnya gelaran kali ini kurang greget, karena area pameran harus berbagi dengan event Indocomtech, dimana Indocomtech malah lebih luas. Merk motor favorit saya, yaitu Piaggio, juga tidak hadir.
Jika rata-rata orang lebih demen ngelihat motor besar merk Eropa, kalau saya lebih tertarik dengan stand Honda yang menawarkan motor-motor konsep dengan tema elektrik. Ada 3 motor konsep yang dipamerkan, yaitu:
1. Honda RCE
Sesuai namanya, RC merupakan penamaan seri motor balap Honda. Pertama kali dikenalkan pada ajang Tokyo Motor Show 2012.

20121103-220027.jpg
2. Honda EV Cub
Seri Cub merupakan model jelmaan dari super cub. EV cub mengingatkan saya akan motor C-70 alias sipitung.

20121103-222048.jpg
3. Honda EV Neo
Model skuter dengan konsep motor niaga, ada rak barang yang cukup lebar di bagian buritan.

20121103-221936.jpg

Saya sendiri tertarik untuk beli motor elektrik tersebut apabila nantinya jadi dijual ke pasaran. Tapi kok rasanya jadi percuma kalau kena macet juga. Kita budayakan naik angkutan umum yuk…

Jika sedang di Surabaya, sempatkanlah untuk berkunjung ke House of Sampoerna. Kompleks seluas 1,5 Hektar yang awalnya dibangun untuk sebuah panti asuhan yatim piatu khusus laki-laki. Kompleks bangunan bergaya kolonial Belanda ini juga dikenal sebagai Sampoerna Theater dibeli oleh Liem Seeng Tee pada tahun 1932. Atas prakarsa Sim Tjiang Nio, istri Seeng Tee, auditorium sentral dari kompleks ini dimanfaatkan sebagai gedung pertunjukkan dan mulai beroperasi pada tahun 1933.

Sampoerna Theater

Awalnya Sampoerna Theater dikenal dengan nama Bioscoop Dapoean yang merujuk kepada kawasan dimana bioskop ini berdiri. Di kemudian hari, Sampoerna Theater dikenal sebagai gedung pertunjukkan yang megah dan nyaman dengan kapasitas 1.000 orang. Hal ini tertuang pada semboyan “Theater Luas Hawa Tjukup” yang tertulis pada setiap iklan film yang diputar disini.

Keberadaan Sampoerna Theater juga menjadi saksi perkembangan perfilman pada era 1930-1960an, dimana gedung ini memutar berbagai jenis film mulai dari film bisu, film hitam putih hingga film bersuara dan berwarna, baik dari luar maupun dalam negeri. Seperti yang dapat dilihat dari koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum House of Sampoerna, yaitu piringan hitam, iklan bioskop tahun 1930-1960an, maupun berbagai poster film yang pernah diputar di Sampoerna Theater seperti film Stowaway (1936), Northern Pursuit (1943), Niagara (1952) yang dibintangi oleh Marlyn Monroe (peraih Golden Globe award tahun 1961). Selain difungsikan sebagai tempat pemutaran film, berbagai pentas budaya seperti sirkus China dari Shanghai maupun drama dari Beijing dan Hongkong digelar disini. Tidak mengherankan bila Sampoerna Theater menjadi satu-satunya gedung pertunjukan di Surabaya yang memiliki panggung berputar dan lantai buatan untuk efek khusus. Charlie Chaplin mengunjungi teater ini ketika ia datang ke Surabaya tahun 1932. Gedung bioskop ini juga pernah digunakan oleh Dr. Ir. Soekarno, yang nantinya menjadi presiden pertama Indonesia, untuk serangkaian pidato-pidato untuk mendukung perlawanan Indonesia terhadap penjajah.

Poster Film Nasional

Pada masanya, Sampoerna Theater juga merupakan satu-satunya bioskop di Surabaya yang memberikan penawaran menarik bagi para penonton, yaitu dengan diadakannya undian berhadiah. Pengundian dilakukan oleh portir dengan mengundi nomor seri yang tertera pada karcis masuk. Berbeda dengan bioskop lain yang mayoritas portirnya laki-laki, kebanyakan portir yang bertugas di Sampoerna Theater adalah perempuan. Sampoerna Theater berhenti beroperasi di tahun 1963 karena auditorium sentral difungsikan menjadi tempat pelintingan tembakau.

Poster Film Asing

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.