Just another alif site

Archive for August, 2011

Hutong Tour: Jelajah Kampung Tua-nya Beijing

Hutong, kalau diartikan adalah gang atau kampung. Jika ingin melihat bagaimana masyarakat Beijing pada jaman dahulu tinggal, maka datanglah ke salah satu hutong yang yang bernama Shicahai District.  Hutong memang sengaja dijaga kelestariannya oleh pemerintah China sebagai warisan tata kota China pada jaman dulu.

Hutong Rickshaw

Keberadaan hutong sendiri diatur oleh pemerintah untuk mendukung pariwisata kota Beijing. Begitu kita datang di Shicahai District, kita akan melihat deretan becak khas China. Untuk berkeliling hutong, kita akan ditawari paket untuk naik becak tersebut seharga RMB 240. Dengan mengambil paket tersebut, kita akan ditemani oleh seorang guide yang akan membuntuti becak kita dengan naik sepeda. Terus terang, harga nya cukup mahal, apalagi guide nya juga tidak begitu bagus bahasa Inggris nya.
Dengan melihat kawasan Hutong ini, kita bisa melihat bahwa ilmu tata kota rakyat China sudah berkembang bagus sejak jaman dulu. Tata ruang tiap rumah juga selalu menyediakan halaman tengah untuk memberikan aliran udara positif bagi penghuni rumah.

suasana rumah di hutong

Apabila kita perhatikan baik-baik ornamen yang melekat di pintu rumah, maka kita akan menemukan simbol yang menjadi pertanda jabatan atau strata sosial sang pemilik rumah. Walaupun kawasan ini memang sengaja diperuntukkan untuk pariwisata, tetapi rumah-rumah yang berada di Hutong ini tetap dihuni oleh warga untuk merawat kelestariannya. Hanya saja, simbol-simbol yang menempel di pintu sudah tidak berlaku lagi di tatanan masyarakat Beijing sekarang.

ornamen pintu, simbol jabatan

Roadtrip to Pangandaran

roadtrip to pangandaran

Bulan Juni lalu, saya bersama teman-teman kantor mengadakan roadtrip ke Pangandaran. Dengan kendaraan 1 buah Avanza, kami bertujuh mengawali start dari Wisma Mulia. Perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama, karena kami masih belum terbiasa dengan jalur selatan yang sempit. Terlebih kami terjebak macet yang cukup lama di Nagrek. Rute kami adalah sbb: Jakarta – Tol Cikampek – Tol Cipularang – Cileunyi – Garut -  Tasikmalaya – Ciamis – Banjar – Banjarsari – Kadangherang – Pangandaran – Batu Karas.

Pangandaran mempunyai garis pantai yang panjang, sehingga ada beberapa obyek wisata pantai disana. Tempat wisata yang pertama kali kami datangi adalah Pantai Karang Nini, sebuah tempat yang menyuguhkan pantai dengan deretan karang batu, dimana salah satu karang tersebut mirip dengan wajah seorang nenek. Untuk menuju lokasi ini, kita harus memasuki kawasan hutan yang dikelola perhutani. Mobil kami pun terpaksa berjalan pelan-pelan karena jalan menuju pantai yang rusak. Di dekat pantai, tersedia areal parkir kendaraan yang cukup luas. Setelah merenggangkan otot tubuh setelah perjalanan panjang, kami segera menuju ke pantai. Penamaan pantai ini tidak lepas dari legenda seorang nenek yang menunggu suaminya yang hilang di laut selatan ketika sedang mencari ikan. Setelah memohon kepada Penguasa Laut Selatan, suaminya dikembalikan tetapi dalam bentuk karang yang menyerupai sang suami (karang balekambang). Akhirnya sang nenek pun meminta untuk menjadi batu karang juga agar cinta bisa abadi. Dan jadilah karang Nini (Nini adalah bahasa sunda dari nenek). Entah apa karena daya imajinasi saya yang kurang yah, tapi saya tidak berhasil menemukan rupa seorang nenek pada batu yang dimaksud.

Pantai Karang Nini

Selepas dari Pantai Karang Nini, kami menuju ke Batu Karas, lokasi kami menginap untuk 2 malam ke depan. Kami menginap di penginapan Pondok Putri dengan rate 330rb rupiah/room/day. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena hujan deras menghalangi kami untuk menikmati sunset di batu Karas. Malamnya kami makan di warung Kang Ayi yang tak jauh dari penginapan, sambil cari-cari magic mushroom:)

Keesokan harinya, kami masih belum mendapatkan keberuntungan, awan gelap menutupi sang matahari terbit. Sunrise pun masih belum bisa kami nikmatin. Setelah sarapan, kami bergegas untuk ke pantai batu karas. Cukup ramai pantainya pada hari itu. Pantai Batu Karas ini sangat terkenal dengan ombak nya yang enak digunakan untuk olahraga surfing. Tak tahan dengan godaan ombak yang terus datang bergulung-gulung, saya menyewa papan wave board untuk menikmati ombak Batu Karas. Untuk sewa board cukup murah, cuma 10rb rupiah.

Pantai Batu Karas

Berhubung hari Jumat, rombongan kami yang cowok harus menunaikan sholat jumat dulu. Setelah itu barulah kami menuju ke Green Canyon. Tidak jauh untuk menempuh Green Canyon dari lokasi penginapan. Ternyata apabila hari Jumat, Green Canyon baru buka pada siang hari, sehingga terjadi penumpukan pengunjung yang sudah datang sejak pagi hari. Nomor antrian yang kami dapat adalah 75. Tiket masuk batu karas adalah 75 ribu untuk 1 perahunya. Untuk mengisi waktu, kami memutuskan untuk pergi makan siang dulu di restoran Seafood yang paling ternama di daerah Batu Karas, yaitu Tirta Bahari.

Restoran Seafood Tirta Bahari

Hari itu kami tidak begitu beruntung, hujan yang turun sepanjang 3 hari berturut-turut membuat Green Canyon menjadi Brown Canyon. Walaupun keindahannya sedikit berkurang, tapi tidak menyurutkan kami untuk menikmati indahnya batu-batu Karas yang menjadi dinding sungai.

Green Canyon

Di beberapa spot dinding batu muncul mata air. Hasrat untuk segera nyebur pun tidak tertahan lagi. Setelah perahu merapat, satu persatu dari kami segera nyebur dan menyusuri derasnya sungai dengan berpegangan ke tali yang disediakan oleh guide untuk menuju ke spot batu lompat indah. Satu persatu dari rombongan kami pun mencoba untuk mengadu nyali untuk melompati batu setinggi 6 meter tersebut.

Loncat Indah

Keesokan paginya, kami harus sudah mempersiapkan diri untuk pulang ke Jakarta. Searah dengah perjalanan pulang, kami mengunjungi beberapa tempat wisata. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah jembatan gantung. Nothing special dengan jembatan ini, tapi suasana pedesaan dan kesahajaan penduduk setempat yang membuat kami terkesan.

jembatan gantung

Perjalanan pun kamu lanjutkan dengan menyusuri pantai pangandaran, dan kami pun berhenti sejenak di Pantai Batu Hiu. Pantai ini mempunyai karakter yang sama dengan Pantai Karang Nini, yaitu menonjolkan sculpture batu karang yang berbentuk seperti ikan hiu. Ombak besar yang menghajar bebatuan pantai ini membuat kami tidak bisa terlalu mendekati bibir pantai untuk menikmati pemandangan. Sebuah rambu peringatan bahaya Tsunami terpasang di pantai ini, menandakan pantai ini titik bahaya apabila sewaktu-waktu Tsunami datang.

Pantai Batu Hiu

Selain tempat wisata air, daerah Pangandaran juga menyajikan tempat wisata budaya berupa workshop wayang golek. Ada beberapa workshop yang tersebar di Pangandaran. Wayang golek yang terbuat dari kayu ini mereka jual dengan harga 500 ribu untuk satu boneka nya. Walaupun kami tidak membeli satu pun wayang, tapi para pengrajin dengan ramah melayani pertanyaan-pertanyaan kami.

wayang golek

wooden puppet workshop

nge-Sambel Ganja di RM Seulawah

RM Seulawah

RM Seulawah

Daerah Benhil memang ga ada matinya untuk urusan kuliner. Salah satu favorit saya adalah RM Seulawah-khas Aceh. Berlokasi persis di depan RSAL Mintoharjo. Beragam menu yang menarik membuat saya selalu bingung untuk memilih hidangan yang ingin disantap, karena semuanya enak! Untuk menu favorit saya disini adalah ikan hiu, ayam tangkap, dan desert berupa tape putih. Anyway, apapun makanannya, pastikan selalu ada sambal ganja, ini yang bikin nyandu :) !

nge-ganja di Seulawah

nge-ganja di Seulawah

Unboxing Xperia Play

Apa jadinya PSP diberikan fungsi teleponi, jawabannya adalah Xperia Play, ponsel terbaru dari Sony Ericsson. Ponsel ini pun akhirnya tiba juga di tangan saya pada jumat kemarin.
Setelah membuka kotak, saya mengecek dulu buku manual, ternyata tidak ada bahasa indonesia nya:) Setelah mengeluarkan handset, pandangan saya tertuju pada docking set yang ternyata termasuk dalam paket penjualan ponsel ini. Docking set ini mempunyai colokan jack audio 3,5 mm dan micro usb untuk charging handset. Perlengkapan standar lain yang di box, ada earphone yang sangat nyaman di telinga, dan charger. Ternyata di box ini disertakan juga plastik anti gores untuk layar 4″ ponsel ini.
Tak sabar untuk mencoba ponsel ini, saya segera memasukkan baterei dan sim card Telkomsel HALO. Seperti biasa untuk ponsel baru, wizard setting muncul untuk pengaturan profile maupun pilihan konektivitas. Dan tak ketinggalan, karena ini adalah android phone, saya perlu memasukkan gmail account saya. Dengan mini SD sebesar 8 GB, ponsel ini telah diisi dengan 6 games PlayStation. Salah satu dari games tersebut adalah FIFA Soccer 10. Lansung saja saya mainkan games ini, karena inilah alasan saya membeli ponsel ini. Tombol-tombol didesain sesuai stick Playstation. Hanya saja saya masih kurang nyaman dengan desain tombol L & R. Terlebih untuk memainkan FIFA 10  ini, saya perlu menekan tombol R untuk berlari.
Overall, ponsel ini cukup menyenangkan. Spek teknis yang mumpuni dan OS Android Gingerbread membuat saya cukup senang bermain dengan ponsel ini. Apalagi dengan layarnya yang besar, membuat hobi membaca manga pun semakin enak.

unboxing Xperia Play

Upacara 17an di Istana Negara

Sore 16 Agustus, tiba-tiba mendapat undangan untuk menghadiri upacara bendera 17an di istana negara. Tapi ada satu yang menghalangi, yaitu dress code nya adalah PSL. Setelah googling, ternyata definisi PSL adalah Pakaian Sipil Lengkap. Jenis pakaian yang belum pernah saya kenakan semenjak lulus dari itb. Setelah berbuka puasa di kantor, kami pun segera meluncur ke Plasa Senayan untuk belanja pakaian buat upacara 17an.

undangan upacara 17an di Istana Negara

Kode undangan yang kami dapatkan adalah CC, yang ternyata merupakan kode lokasi tenda tempat kami akan berada nanti selama upacara. Lalu lintas dari rumah ke istana negara cukup lancar, tidak sampai 1 jam kami sudah sampai di monas. Dengan berbekal tanda khusus yang dipasangkan di kaca depan mobil, kami bisa melalui jalan Merdeka Barat yang disterilkan untuk umum. Mobil pun kami parkirkan di Jalan Majapahit, depan kantor SetNeg. Untuk memasuki istana negara, kami harus melalui pemeriksaan dengan mesin X-ray seperti di bandara. Setelah itu, kami diberikan souvenir upacara 17an, berupa 1 goodie bag penuh dengan hasil kerajinan daerah dengan motif Papua, dan 1 goodie bag lagi berisi buku-buku dari beberapa badan pemerintahan.
Upacara dimulai pada jam 10, dengan diawali dentuman meriam sebanyak 17x dan suara sirine. Inti acara seperti biasa adalah menaikkan bendera, dengan ditutup oleh paduan suara. Yang menarik disini, salah satu lagu ciptaan SBY pun ikut dinyanyikan. Selesai upacara, para pengunjung segera berhambur ke lapangan untuk berfoto di halaman istana, suatu kesempatan yang langka memang, kami pun ikut serta untuk berfoto di halaman istana. Tamu-tamu dari negara sahabat pun tidak mau ketinggalan untuk foto-foto. Para hadirin tampak antusias mengikuti rangkaian upacara bendera ini, semangat nasionalisme pun bergelora ketika lagu Indonesia Raya berkumandang. Walaupun ironi masih membayangi kami, sudahkah kita benar-benar merdeka? Mungkin merdeka dari penjajahan Belanda dan Jepang, tapi penjajahan oleh para koruptor? Dirgahayu Indonesia ke-66 !

Bendera Merah Putih

istana negara

G-Class Paspampres

Forbidden City, istananya para Kaisar China

Ada sebuah film China yang saya tonton di TV membuat kesan mendalam buat saya, The Last Emperor: Puyi. Film ini menceritakan kehidupan akhir dari kisah dinasti China dengan mengambil tempat Forbidden City sebagai latar belakang film.
Kesempatan untuk melihat lansung kompleks istana terluas di dunia ini (72 Hektar) mampir ke kami pada April 2011. Forbidden City merupakan nama populer dari kompleks istana yang menjadi pusat pemerintahan dari zaman dinasti Ming hingga dinasti Qing. 24 kaisar pernah hidup disini, 14 kaisar pada masa dinasti Ming, dan 10 kaisar pada masa dinasti Qing. Untuk menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena letaknya berada di jantung kota Beijing. Setelah jalan-jalan ke Tiananmen Square, saya melanjutkan kunjungan wisata sejarah ke Forbidden City.
Kompleks ini dibangun pada tahun 1406 sampai 1420, dengan maksud menghidupkan kembali Beijing sebagai pusat pemerintahan China, setelah beberapa saat sempat dipindahkan ke Nanjing. Beijing sendiri berada di sebelah utara China dan Nanjing berada di sebelah selatan China. Penggunaan istilah Forbidden City sendiri dimulai ketika The Last Emperor Puyi diasingkan di kompleks istana ini atas kesepakatan dengan Pemerintahan baru RRC pada tahun 1912.
Pada masa invasi Jepang ke China, Forbidden City menjadi tempat evakuasi barang-barang yang dianggap harta karun atau warisan budaya kerajaan. Beberapa koleksinya ada yang dilarikan ke Taiwan di masa perang sipil China. Di Taiwan sendiri, barang-barang dari Forbidden City disimpan di National Palace Museum of Taipei.

Setelah melewati Tiananmen, kita akan bertemu dengan Meridien Gate. Gate ini mempunyai 5 pintu, dimana pintu paling tengah merupakan Imperial Way. Pada masa lalu, hanya kaisar yang boleh lewat pintu ini, permaisuri pun hanya boleh lewat pintu ini di hari pernikahannya dengan kaisar.

Meridien Gate

Untuk mendapatkan jasa pemandu otomatis, disediakan alat semacam walkman, yang tersedia dalam berbagai macam bahasa. Tapi karena rada mahal, jadi kami putuskan untuk ga pakai alat tersebut. Di berbagai tempat wisata di China tersedia alat pemandu otomatis semacam ini, dan disana pun saya tidak melihat adanya pemandu wisata liar seperti di Indonesia. Berwisata di Beijing sangatlah nyaman.

Mengunjungi Forbidden City ini sangat melelahkan, karena kompleks ini terdiri dari 980 bangunan, dan ribuan ruangan. Ada beberapa main hall kaisar di dalam kompleks ini yang peruntukannya beda-beda. Ada yang untuk tidur siang atau istirahat siang, ada yang untuk latihan, dll. Salah satu dari beberapa hall tersebut adalah The Hall of Preserving Harmony. Hall ini merupakan salah satu dari 3 hall yang ada di outer court Forbidden City. Hall ini digunakan untuk latihan ceremoni, dan menjadi tempat ujian akhir Imperial Examination. Imperial Examination sendiri merupakan ujian bagi para officer administasi untuk menjadi pejabat birokrasi (semacam gubernur).

inside Hall of Preserving Harmony

Hall of Supreme Harmony

Di beberapa sudut hall dapat kita temukan tong-tong besar. Tadinya tong ini digunakan sebagai wadah untuk menyimpan air, yang disiapkan untuk memadamkan api. Karena bangunan hall-hall di forbidden city ini banyak menggunakan unsur kayu, jadi mudah terbakar apabila suatu saat mendapat serangan. Beberapa ornamen menarik lainnya adalah jam matahari, saya sendiri masih belom ngerti cara baca jam nya :p

tong air pemadam api

Jam Matahari

Di bagian belakang Forbidden City, terdapat Imperial Garden. Ada yang menarik disini, yaitu 2 buah pohon yang usianya sendiri katanya sama dengan usia Forbidden City. Pohon ini sering disebut oleh wisatawan sebagai Wedding Tree, karena bentuk uniknya 2 pohon ini yang tampak serasi bergandengan tangan. Kamipun berfoto di depan pohon ini, konon katanya yang foto ama pasangannya, maka hubungan mereka bisa abadi seperti pohon ini :)

Wedding Tree

Di akhir kompleks Forbidden City, kita akan melewati gerbang belakang yang menghadap ke Jing Shan Park. Nama gerbang ini adalah Gate of Divine Might. Di atas gerbang tersebut terdapat tablet dengan tulisan China yang artinya “The Palace Museum”. Senang rasanya bisa mengunjungi tempat bersejarah yang menjadi salah satu bukti kebesaran kebudayaan Kerajaan China. Beda dengan nasib kerajaan Majapahit di Indonesia yang seperti tak berbekas, padahal klaim nya merupakan kerajaan paling besar di nusantara Indonesia.

Gate of Divine Might

tiket Forbidden City seharga RMB 60

Shaw Theatres Lido Imax

Shaw Theatres Lido Imax

Lido, pertama kali dengar namanya mengingatkan saya akan nama sebuah resor di daerah Sukabumi. Tapi kali ini yang akan saya ceritakan bukan resor tersebut, tapi Lido Imax Shaw Theatres, sebuah bioskop premium dengan teknologi digital Imax yang terletak di salat satu sudut jalan Orchard dan jalan Scott-Singapura. Pengalaman nonton disini bulan lalu berawal dari kisruh dilarangnya peredaran film-film Hollywood di Indonesia, sehingga kami pun pergi kesana untuk menonton film Kungfu Panda 2. Bioskop ini mengklaim bahwa layar Imax mereka merupakan yang terbesar di Asia. Dengan tiket seharga SGD 22 per orang, kami pun menikmati Kungfu Panda 2 in 3D. Tiketnya memang cukup mahal, tapi setelah merasakan lansung, rasanya uang yang telah kami keluarkan cukup sepadan dengan experience nonton 3D yang sangat berasa efek 3D nya, dan tentu saja didukung dengan tata suara yang sangat apik. Walaupun sudah beberapa kali liat film di bioskop Indonesia dengan format 3D, baru kali ini kami merasakan dahsyatnya efek 3D. btw, film yang diputar disini dilengkapi dengan subtitle bahasa Mandarin.

Kungfu Panda 2

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.