Just another alif site

Posts tagged ‘floating market’

Amazing Thailand

Trip kali ini berawal dari iseng-iseng ikutan berburu tiket murah di website AirAsia. Tujuannya ke negara yang kental akan nuansa Buddha. Cocok untuk merayakan ulang tahun saia yang memang terlahir di hari Waisak. Kali ini saya berdua bersama @dhinidounsky. Berhubung @dhinidounsky sudah pernah ke Thailand juga 6 bulan  sebelumnya, maka kami bikin itinerary ke tempat yang dia belum kunjungi.

Day 1
Singkat cerita, kami pun sampai di Bangkok pada malam minggu 5 Mei 2012. Proses imigrasi sampai dengan pengambilan bagasi kami lalui dengan cepat, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 20 menit sejak turun dari pesawat. Pelayanan bandara Suvarnabhumi beda banget ama pelayanan bandara di Indonesia, yah dari fisik bangunannya aja sudah beda jauh.


Brosur mengenai kota Bangkok lansung saya sambar, untungnya disitu ada peta MRT sehingga mulai terbayanglah bagaimana menuju hotel tempat kami akan bermalam 2 malam kedepan ini. Sesuai dengan hasil browsing sebelumnya, tujuan kami selanjutnya adalah stasiun Ratchathewi. Perjalanan kereta pun cukup cepat, hanya memakan waktu 30 menit untuk sampai di tengah kota, dan biaya yang kami bayar hanya 40 bath per orang, sangat murah dah nyaman!
Sesampai di stasiun Ratchadewi kami coba membandingkan peta yang telah kami print sebelumnya dengan kompas yang selalu menemani saia. Karena sepertinya tidak terlalu jauh, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel, sambil mempelajari lingkungan sekitar. Agak susah memang mencari hotel Budacco, karena ternyata posisinya di ujung gang buntu. Walaupun hotelnya masuk gang, ternyata kamar dan fasilitasnya cukup bagus. Tersedia Wi-Fi dengan kecepatan yang lumayan, sehingga kami bisa browsing informasi untuk rencana keesokan hari. Rate per malam untuk menginap disini adalah 1500 Bath. Walaupun kamar ini terasa menggoda badan untuk beristirahat, tapi rasanya sayang untuk menghabiskan waktu hanya di hotel. Well, this is Bangkok! Mari kita bandingkan night life Bangkok dengan Jakarta.

Malam kami habiskan dengan berjalan kaki menyusuri jalanan Petchaburi – Thanon Rama. Ternyata mall di Bangkok sudah pada tutup, ga seperti di Jakarta yang bisa ampe malem jam 22an baru tutup. Yang membuat kami terkesan adalah, pedagang kaki lima ada dimana-mana di sepanjang trotoar. Walaupun begitu, PKL di Bangkok sangat tertib dan bersih. Sehingga ini menjadi hiburan tersendiri dan kami pun tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Langkah kami terhenti di Hard Rock Cafe Bangkok. Berhubung kaki sudah mulai capek, kami coba untuk naik Tuk-Tuk, kendaraan kecil beroda 3 khas Bangkok. Sambil tawar-menawar ongkos, kami minta untuk diantarkan ke Khaosan Road. Tapi ternyata sopir Tuk-Tuk nya malah tidak menyarankan untuk ke situ, malah kami ditawarkan untuk diantar ke PatPong, yaudah kita iyain aja deh tawaran si sopir.

Tuk-Tuk ini memang terkenal, karena bentuknya yang unik dan karena gaya berkendara sopirnya yang ngebut abis. Tidak sampai 10 menit, kami pun sampai di Pat Pong. Ternyata disini ada pasar malam yang dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Belum lama kami mulai berjalan, beberapa pria mendatangi kami untuk menawarkan show “she male” di bar-bar yang berderet di kawasan Pat Pong. Kami pun menolak halus, karena toh kami bisa melihat juga dari luar bar suasana pertunjukkan tarian striptease “she male”. Kami pun terus melangkah menjelajahi gang-gang di kawasan ini, sampai suatu saat langkah kami terhenti di sebuah gang dimana kursi-kursi pengunjung bar nya menghadap ke gang semua. Saya pun mulai merasa aneh ketika dilihatin ama pengunjung-pengunjung bar tersebut, dan herannya lagi semua pengunjung bar tersebut cowok. Errghh, sepertinya ini kawasan bar untuk para Gay, putar balik saja deh, hehehe….

Day 2

Minggu pagi, kawasan di Ratchaprarop sudah ramai dengan pedagang kaki lima lagi. Hm, tapi sepertinya yang jualan beda ama yang semalam. Kalau malam para pedagang di dominasi oleh etnis India, kalau pagi di dominasi oleh etnis China. Dan siapa pun yang jualan, semua nya tetap tertib dan bersih.

Selepas sarapan, sudah ada mobil dari dinas pariwisata yang akan mengantar kami ke Grand Palace. Service ini gratis diberikan dari Hotel, kami hanya cukup request sehari sebelumnya untuk pelayanan ini. Sepertinya memang semua hotel memberikan fasilitas ini, dimana fasilitas ini merupakan hasil kerjasama Dinas Pariwisata Bangkok dengan beberapa sponsor yang akan menjadi tempat terakhir kunjungan, yaitu Gems Stone Factory Export, sebuah toko kerajinan perhiasan emas dan perak. Setiap mobil dilengkapi dengan pemandu wisata yang lumayan lancar dalam berbahasa Inggris.

Grand Palace merupakan istana keluarga Raja Thailand. Walaupun sekarang keluarga Raja sudah tidak tinggal disini lagi, tapi seremoni Kerajaan masih kerap dilakukan disini. Untuk masuk kesini, kita akan dikenakan biaya 400 Bath per orang. Kompleks istana seluas 218.400 meter persegi ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu Outer Court, Temple of Emerald Buddha, Middle Court, inner court, Museum of the Emerald Buddha Temple.

Di belakang kompleks Grand Palace, terdapat kuil Wat Po, untuk kesini tinggal jalan kaki saja. Untuk masuk ke sini, pengunjung harus membeli tiket seharga 100 Bath per orang, dapat bonus 1 botol air minum mineral =p  Wat Po terkenal akan patung Reclining Buddha yang konon katanya terbesar dan terbuat dari emas. Wat Po juga terdiri dari beberapa bangunan, tapi karena keterbatasan waktu, kami hanya sempatkan untuk melihat patung Reclining Buddha nya saja.

Dari Wat Po, tujuan kami selanjutnya adalah Chatuchak, pasar yang terkenal menjual segala macam barang dan hanya buka di hari weekend saja. Hanya saja daerah Grand Palace ini tidak tersedia jalur BTS / MRT, jadi kami agak bingung juga cara menuju kesana. Tiba-tiba saja ada bus dengan tulisan Chatuchak lewat di depan kami, kami pun segera men-stop dan naik bus tersebut. Bus nya sangat bagus dan bersih, hanya saja sayangnya ticketing nya masih manual pake kondektur yang ternyata gak bisa bahasa Inggris. Jadi ketika kami bertanya “How much the fare to Chatuchak?”, dia hanya membalas dengan menunjukkan jari-jari tangannya untuk mengasih tahu harga tiket yang harus dibayar. Terus terang saya juga sudah lupa berapa harga tiketnya, karena kami lansung ngasih duit, dan tidak menghitung berapa kembaliannya. Nah, berhubung kita juga gak tahu rute dan halte pemberhentiannya, jadi kami terpaksa mengeluarkan iphone untuk ngecek posisi kami via googlemaps.

Chatuchak memang pasar yang komplit untuk wisatawan, mau cari baju model terkini, sepatu dengan model girly ampe boots, kerajinan tangan, makanan, cindera mata khas thailand, pokoknya macem-macem dahh… Biar gak bingung, ada baiknya kita mengambil brosur di booth informasi yang tersedia di pintu masuk pasar. Di brosur kita bisa melihat pembagian zona pasar sesuai dengan barang dagangan. Berhubung sudah siang dan perut sudah menjerit-jerit, saya mampir dulu ke sebuah warung mie.

Abis makan mie, ternyata panggilan alam yang lain mulai datang, well kalau yang ini bukan karena makanan sih, emang belum sempat aja hari itu setoran, hehehe. Untuk menemukan toilet sangat mudah karena toiletnya dibagi merata di setiap zona, dan yang ngejutin toiletnya bersih, beda banget dengan bayangan saya akan toilet pasar.

Selesai dari pasar Chatuchak, kami kembali ke pusat kota dengan naik BTS.  Kali ini tetap agendanya wisata belanja, ke Siam Paragon dilanjut ke Platinum. Siam Paragon merupakan pusat perbelanjaan modern dengan tenant-tenant ternama dan disini bisa kita temui juga wahana Siam Ocean World dan Maddam Tussaud Museum. Di Platinum lah, kami baru benar-benar menggila berbelanja. Selain baju-baju yang ditawarkan lucu-lucu, harganya juga sangat menggiurkan. Kalau di Chatuchak kita harus pinter nawar, di Platinum sudah ada patokan harga kalau beli 1 berapa, 2 berapa, 3 berapa, dan diatas 5 potong dapat harganya berapa, jadi memang Platinum ini juga tempat orang-orang kulakan barang dagangan. Platinum ini sekilas seperti ITC Ambas kalau dibandingkan, tapi Platinum barangnya lebih bagus, lebih murah, dan tempatnya rapi dan bersih. Ga ada yang merokok di dalam gedung, ga kayak pedagang di Ambas.

Day 3

Time to Pattaya! Kami cukupkan saja waktu jalan-jalan di Bangkok, sekarang saatnya kami pergi ke kota Pattaya untuk merasakan wisata pantai. Dari Budacco hotel tempat kami menginap di Bangkok, kami jalan kaki ke sebuah kios kecil di pinggir jalan yang menawarkan jasa transportasi ke Pattaya, mirip kayak travel Xtrans. Biaya nya 150 Bath per orang untuk perjalanan 2,5 Jam ke Pattaya. Sebenarnya perjalanan Bangkok ke Pattaya tidak selama itu, hanya saja travel yang kami naiki masih harus mampir ke 2 pool pemberangkatan lainnya untuk menaikkan penumpang, dan ini membutuhkan waktu hampir 1 jam karena harus menghadapi kemacetan jalanan Bangkok.

Sesampai di Pattaya, kami naik Songtaew, kendaraan lokal berbentuk pickup dengan 2 baris kursi yang saling berhadapan di bak nya. Setelah check in di Mike Beach Resort, kami segera mencari tempat persewaan motor untuk bisa putar-putar kota Pattaya. Sewa Motor cukup murah, hanya 160 Bath untuk sehari (24 Jam). Syaratnya juga cukup mudah, fotocopy passport dan menaruh deposit 1000 Bath yang akan dikembalikan ketika kita selesai menyewa motor. Motor yang kami pilih Yamaha Nouvo 135 cc berwarna merah.

Jalanan di Pattaya mudah diingat karena tata kota nya rapi, sehingga buat saya yang baru pertama kali membawa kendaraan di Pattaya lansung hafal. Terus terang saya agak kecewa dengan pantai di Pattaya karena ternyata biasa saja. Jauh lebih bagus pantai-pantai di Bali, ataupun pantai di Ujung Genteng, sehingga motor pun saya arahkan ke bukit untuk melihat pantai Pattaya dari atas.

Tak terasa hari sudah sore, dan kami baru ingat kalau kami belum makan siang. Kami pun ke sebuah mall yang berada dibawah hotel Hilton untuk mencari restoran yang menghadap ke pantai, jadi niatnya pingin menikmati sunset sekalian. Sayangnya semakin sore, awan gelap menutupi langit Pattaya, buyar sudah harapan menikmati sunset.

Kehidupan malam di Pattaya memang ajaib, kita bisa menyaksikan Tiffany show yang menyajikan hiburan kabaret dengan pemeran “she male” semua. Berhubung karena @dhinidounsky sudah pernah lihat, dan harga tiket nya mahal, jadi kami memutuskan untuk mencari tempat lain untuk mengisi malam. Toh saya juga tidak tertarik dengan “she male”, hehehe…

Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di Walking Street Pattaya, sebuah jalan yang apabila malam hari ditutup buat kendaraan bermotor. Jadi para turis harus jalan kaki untuk bisa menikmati hiburan malam yang berjejer di sepanjang jalan ini. Berbagai macam club menawarkan hiburan striptease show, dari yang wanita beneran sampai “she male”. Untuk menikmati hiburan-hiburan tersebut, kita cukup membeli beer sebagai welcome drink. Atraksi sulap jalanan dan pelukis juga ikut meramaikan kehidupan malam jalanan ini. Untung di Thailand ga ada FPI nih, hehehe… Tak lengkap rasanya jika sudah jalan-jalan disini tapi tidak mencoba untuk masuk  ke salah satu club. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke sebuah club bernama Moulin Rouge yang menyajikan tarian striptease dari wanita-wanita Eropa. Sayang kamera tidak diperbolehkan dipergunakan di dalam club, jadi saya juga gak bisa share di tulisan ini =)  Jalanan ini memang sepertinya dikelola serius oleh dinas pariwisata setempat, tersedia official website yang memajang juga daftar festival-festival yang akan diadakan, untuk lebih lengkapnya bisa klik ke http://www.walkingstreetpattaya.com/ .

Day 4

Bad day, hujan deras mengganggu semua rencana kami di pagi hari. Hujan baru berhenti sekitar jam 11 siang. Begitu reda, lansung check out kamar, barang-barang di titipin di concierge, pelintir gas sepeda motor ke Pattaya Floating Market. Lama perjalanan sekitar 15 menit, tapi dengan catatan nyetir motornya ngebut yah, ampe 80-100 Km/h. Berhubung jalanan di Pattaya lebar, mulus dan tidak macet, jadi aman-aman saja ngebut disini.

Sepertinya memang Thailand ini sangat memanjakan buat para pecinta belanja dan kuliner. Suasana floating market disini sangat bersih dan rapi. Tapi memang sepertinya ini floating market buatan sih karena marketnya didirikan di sebuah danau buatan (menurut saya yah), beda dengan floating market di Muara Kuin Banjarmasin yang benar-benar berlokasi di sungai. Jenis makanan atau barang yang diperdagangkan pun seperti sudah diatur dan lebih berorientasi sebagai objek wisata kuliner, beda dengan floating market Muara Kuin yang memperjualkan sayur-mayur dan buah-buahan seperti layaknya pasar tradisional yang menjual barang kebutuhan sehari-hari. Makanan yang ditawarkan disini beragam dan banyak yang aneh, misal nya telor buaya! Tapi yang membikin kami senang berada disini karena keberadaan toko Tao Kae Noi Land, makanan ringan yang berasal dari rumput laut. Di Tao Kae Noi Land, kami bisa memilih berbagai jenis rasa dan kemasan yang tidak dijual di Indonesia. Dan karena ini dijual di negeri asalnya, harganya pun sangat murah.

Waktu sudah menunjukkan jam 14:00 dan sepertinya sudah waktunya bagi kami untuk segera pergi ke Bandara. Setelah mengambil barang kami di hotel, kami naik taxi menuju terminal Pattaya. Untuk transportasi menuju bandara, tersedia layanan bus swasta bernama Bell Travel Service, dengan frekuensi keberangkatan tiap 2 jam sekali, dan biaya per orang adalah 200 Bath. Tapi ternyata untuk naik bus ini kami harus reservasi terlebih dahulu, dan sialnya kami tidak melakukan reservasi. Well, terpaksa kami harus menunggu sampai menit terakhir, untungnya ada calon penumpang yang tidak datang sehingga kami bisa naik bus untuk keberangkatan jam 15:00 . Dan apabila sebelumnya kita sudah melakukan reservasi, kita akan dijemput oleh mobil travel dari hotel ke terminal. Perjalanan dari Pattaya menuju bandara Suvarnabhumi memakan waktu 1,5 jam. Sehingga masih banyak waktu bagi kami untuk jalan-jalan ke pertokoan yang berada di dalam bandara.
Thailand memang benar-benar serius menggarap pariwisata. Menurut kami, tampak jelas peran serta pemerintah dalam sisi infrastruktur bandara, jalan raya, dan transportasi umum, sehingga kami pun merasa lebih mudah travelling di Thailand daripada di negeri sendiri. Mungkin hanya masalah bahasa yang menjadi kendala kami di Thailand, karena sedikit orang Thailand yang bisa bahasa inggris, baca tulisan huruf latin pun juga susah karena memang bahasa Thailand memakai aksara tersendiri yang mirip dengan huruf sansekerta. Dalam hal keseriusan pemerintah, kami harus akui slogan Amazing Thailand. Tapi jika membandingkan objek wisata, Indonesia jauh lebih indah dan eksotis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.