Just another alif site

Archive for July, 2011

Tian’anmen

Tadinya saya menganggap bahwa Tiananmen adalah nama sebuah lapangan. Padahal Tiananmen sebenarnya adalah sebuah bangunan yang difungsikan sebagai gerbang utama istana pemerintahan (forbidden city). Lapangan yang ada di depannya dinamakan Tiananmen Square, yang dulu kita kenal dengan lapangan merah karena peristiwa di bulan Juni 1989, dimana para demonstran dibantai oleh pasukan tentara merah.

Tiananmen

Apabila diartikan secara harfiah, Tiananmen adalah Pintu Surga Yang Damai. Bangunan ini pertama kali dibangun pada zaman Dinasti Ming, tepatnya tahun 1420. Bangunan ini telah menjadi simbol negara, dimana foto raksasa Mao Zedong selalu dipasang disana. Mao Zedong sendiri dianggap sebagai founder dari Republik Rakyat China. Di depan bangunan tersebut terdapat tribun yang digunakan sebagai tempat para undangan untuk melihat acara May Day (Hari Buruh), dan Hari Dirgahayu RRC pada tanggal 1 Oktober.

Tiananmen dapat dijangkau dengan menggunakan MRT dengan tiket seharga 2 yuan dari tempat kami menginap. Terdapat 2 stasiun MRT di masing-masing ujung Tiananmen. Tiananmen Square yang terletak di depan Tiananmen selalu dijaga oleh polisi. Ada mesin x-ray untuk memeriksa tas bawaan kita. Tapi anehnya penjagaan ini tidak terlalu ketat untuk turis asing seperti saya. Justru turis domestik China yang terlihat kumal yang diperiksa serius. Di tengah Tiananmen Square terdapat monumen peringatan pahlawan rakyat. Di salah satu sisi Tiananmen Square terdapat makam Mao Zedong, sayang waktu kami kesana sudah jam 2 siang, pengunjung tidak diperbolehkan masuk diatas jam 12. Di sisi lainnya, kita bisa melihat Gedung Parlemen China dan National Museum of China.

Mao Zedong Mausoleum

Gedung Parlemen China

Monumen Pahlawan Rakyat dengan latar belakang National Museum of China

Indonesia vs Turkmenistan

kabut petasan di Gelora Bung Karno

Rasanya indah sekali malam ini, melihat Timnas Indonesia menang lawan Turkmenistan di laga kualifikasi Pra Piala Dunia 2014 Brasil. Laga yang berakhir 4-3 ini sangat menarik, permainan terbuka Indonesia memberikan banyak gol, termasuk gol lawan karena pemain bertahan Indonesia pun nafsu nyerang juga, jadinya belakangnya keropos deh.
Kemenangan ini seakan memberikan hiburan di tengah carut marutnya Indonesia yg akhir2 ini dilanda isu korupsi dimana-mana. Maju terus Garuda-ku! Kami akan terus selalu mendukung Timnas.
*thanks to mas iwan untuk tiket gratisnya:)

Cranberries emang Keren abies!

Understand what I’ve become
It wasn’t my design
And people everywhere think
Something better than I am
But I miss you, I miss
’cause I liked it, I liked it
When I was out there
D’you know this, d’you know
You did not find me, you did not find
Does anyone care

itulah sepenggal lirik dari Ode to My Family dari Cranberries. Lagu tersebut merupakan salah satu lagu dari album kedua mereka di tahun 1994, No Need to Argue. Thanks to Javarockingland 2011, pada hari sabtu 23 Juli 2011, kami jadi bisa melihat lansung Cranberries. Memang band ini sudah termasuk tua, tapi penampilan mereka seakan tak pernah termakan usia. Stamina Dolores sang vokalis tetap energik sepanjang pertunjukkan. Show mereka dimulai tepat pukul 23:00 dan berakhir pada jam 00:20. Rasanya hampir semua lagu hits mereka bawakan pada malam itu. Ditambah dengan beberapa lagu dari album paling terakhir mereka, yaitu Roses, dimana para penonton cuma bisa diam aja karena memang rata2 tidak pernah dengar dengan album terakhir mereka. Overall saya puas dengan penampilan mereka malam itu. Dan bahkan tak terasa air mata menetes ketika lagu Ode to My Family mereka mainkan…

Cranberries at Javarockingland 2011

Stars - Album Cranberries yang sering saia dengarkan

Last Mocca Show

Jumat, 15 Juli 2011 menjadi malam terakhir bagi group Mocca untuk tampil di hadapan umum. Pertunjukan yang diberi title “the Last Mocca Show” ini mengambil tempat di Hall A Basket Senayan-Jakarta. Alasan dari rencana vakumnya Mocca dari dunia hiburan di Indonesia ini tak lepas dari rencana sang vokalis, yaitu Ariana yang hendak ke Long Beach California untuk tinggal bersama calon suaminya.
Pertunjukkan ini dimeriahkan oleh beberapa artis tamu seperti bbrp personel Sore, Endah&Resa, Float, White Shoes and the Dance Company, dan dipandu oleh duet MC Ringgo Agus dan Soleh Solihin. Di setengah pertunjukkan, kelompok kabaret SMA 7 Bandung turut berpartisipasi sebagai ilustrasi cerita lagu yg dibawakan Mocca. Yang sebenarnya menurut saya, dan mungkin kebanyakan penonton gak ngerti alur cerita kabaretnya. Setting panggung yang tidak terlalu besar, diisi dengan berbagai macam properti pendukung cerita kabaret, alhasil panggung terasa sempit dan sumpek. Apalagi kualitas tata lampu pada malam itu sangat jauh dari memuaskan. Lampu sorot yang hanya berjumlah 2 seakan bingung untuk menyorot para personil band atau pemaen kabaret. Satu kata dari saya: Kacau!
Tata suara pada malam itu juga jauh dari profesional. Suara gitar yg tidak terdengar sepanjang pertunjukkan, membuat saya ingin berkata ke Rico sang Gitaris, “Mas, mending ga usah maen gitar. Suaranya ga kedengaran mas”. Padahal saya duduk persis di depan panggung. Apalagi pemilihan venue yang memang tidak cocok untuk pagelaran musik, seakan membikin pertunjukkan yg tadinya saya kira bakal dramatis dan spektakuler, menjadi sebuah pertunjukkan murahan karena suara sound system nya kalah dengan suara hujan deras yg menghujam atap Hall A. Padahal kalau dipikir2, daripada ga kuat nyewa gedung di Jakarta, mending gelar pertunjukkan saja di Bandung. Toh mereka berasal dari Bandung. Tapi sejujurnya, selama 4.5 tahun saya tinggal di Bandung, kok gak pernah lihat mereka ya, hehehe…
Untung duo MC malam itu lucu banget, dan saya malah lebih senang apabila mereka lagi bicara. Guyonan2 segar dan kadang konyol sangat menghibur para penonton yang didominasi oleh ABG.

Endah & Resa @ Last Mocca Show

Damainya Waisak di Borobudur

Kali ini saya akan menceritakan perjalanan bersama teman-teman dari milis indobackpacker di Mei 2007. Sebelum trip ini, kami belum kenal satu sama lain. Pertemuan kami diawali oleh ajakan salah seorang peserta yang menawarkan trip melihat perayaan Waisak di Borobudur. Sebelum meng-iyakan tawaran tersebut, saya selidiki dulu latar belakang orang yang tsb dengan browsing email dia di facebook dan friendster. Setelah melihat profile nya, saya yakin dia orang baik. Dan di kemudian haripun kami berteman baik sampai sekarang.

Waisak adalah hari suci umat Buddha. Waisak mempunyai makna tersendiri buat saya, karena saya terlahir di hari Waisak. Waisak selalu dirayakan pada bulan Mei, di malam bulan purnama. Waisak sendiri merupakan peringatan atas 3 peristiwa penting dalam perjalanan Sang Buddha (Trisuci Waisak), yaitu lahirnya Pangeran Siddharta, transformasi pangeran Siddharta menjadi Budha di Bodhgaya, dan wafatnya Budha Gautama.

Peringatan Waisak di Indonesia dipusatkan di Candi Borobudur. Borobudur yang terletak di Magelang Jawa Tengah ini dibangun sekitar tahun 800 SM pada masa dinasti Syailendra. Pembangunannya dimulai oleh Raja Samaratungga dan diselesaikan oleh putrinya, yaitu Ratu Pramudawardhani. Candi ini pernah di bom oleh ekstrimis Islam pada tahun 1985. Pada tahun 1991, Borobudur ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia oleh UNESCO.

Peringatan Waisak ini diawali dengan prosesi pengambilan air berkat di Temanggung dan penyalaan obor dari sumber api abadi Mrapen. Tapi proses tersebut tidak kami ikuti karena jalanan yang sudah sangat ramai oleh masyarakat yang menunggu pawai para Biksu dan acara kesenian. Jadi kami putuskan untuk ikut berdiri di tepi jalan untuk menikmati rangkaian acara. Acara pawai ini cukup lama, karena memang pesertanya sangat banyak. Dari mulai barisan para Biksu, acara kesenian daerah, dan pawai kostum tokoh-tokoh cerita China (Monkey King, 3 Kingdom, dll).

Relik Sang Buddha

parade para biksu dari berbagai negara ASEAN

Kesenian Reog Ponogoro pun turut serta

Monkey King

Barongsai

Hari menjelang sore, dan kami pun bergegas ke candi Borobudur untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya. Inti acara di malam hari adalah semedi pada detik-detik puncak bulan purnama, dan pelepasan lampion ke langit Borobudur. Presiden SBY pun datang sekitar jam 8 untuk memberi sambutan peringatan Waisak, kemudian dilanjutkan dari pentas drama oleh para peserta yang tadi siang ikut pawai dengan kostum-kostum cerita Monkey King. Acara berlansung dengan damai dan lancar, sesuai dengan spirit Buddha.

altar dengan background Candi Borobudur

indahnya Borobudur di malam hari

prosesi doa dan penyalaan lilin

hm, ini biksu dari mana yah?

doa di malam purnama

lampion membentuk garis-garis merah di langit

Dahsyatnya Merapi

Gunung Merapi merupakan gunung vulkanik paling aktif di Indonesia. Nama Merapi sendiri merupakan gabungan dari kata Meru dan Api. Meru adalah bahasa hindi dari gunung. Gunung yang terletak 28 Km utara Yogyakarta terakhir meletus pada Oktober 2010.

Cerita yang saya tulis ini merupakan cerita lama pada akhir Mei 2007. Waktu itu saya gabung dengan rombongan milis indobackpacker, kami ber-7 naik mobil innova. Dari Yogyakarta, kita tinggal mengambil arah ke jalan Kaliurang, dari situ nanti kita tinggal mengikuti penunjuk jalan untuk sampai ke lokasi ini. Sesampai di lokasi parkiran, pandangan kami lansung terarah pada tempat jualan makanan, maklum kita belum sarapan dari pagi. Berhubung saya gak bisa makan berat di pagi hari, jadinya saya putuskan untuk makan jadah tempe saja untuk mengisi perut. Sebelum masuk, kita perlu untuk membayar retribusi terlebih dahulu, tapi saya sudah lupa besarannya berapa.

Anggota team di Parkiran

Warung Jadah Tempe mbah Carik

taman bermain air

Begitu kita masuk ke dalam kawasan hutan Merapi, kita tinggal mengikuti jalur setapak yang mudah terlihat. Pepohonan rimbun di sepanjang jalan membuat aktivitas mendaki ini terasa nikmat karena pasokan oksigen yang segar. Sesuatu yang sangat langka kami nikmati di Jakarta. Di tengah jalan, kita akan bertemu dengan bekas sungai yang mengalirkan lahar, dimana lahar yang telah dingin akan membentuk batuan yang sangat cantik.

hijau dimana-mana

sungai lahar dingin

Masih ingat kan dengan kisah mbah Maridjan, sang juru kunci gunung Merapi. Sang mbah akhirnya menutup hayatnya pada erupsi 2010. Beruntung ketika kami kesana pada tahun 2007, kami masih berkesempatan untuk mengunjungi rumah beliau.

rumah mbah Maridjan

Kami mengakhiri perjalanan kami pada batas gardu pandang. Disini bisa kita lihat sisa-sisa kedahsyatan erupsi Merapi di tahun 2006. Dapat kita lihat beberapa rumah yang tertutup debu sampai ke atap.

reruntuhan rumah penduduk

jalur lahar

Bertemu Andi di Makassar

Sebenarnya sudah 2x saya maen ke Makassar atau yang sempat kita kenal dengan nama Ujung Pandang. Yang pertama tahun 2007, kemudian di tahun 2009. Di tahun 2010 dan 2011 cuma mampir transit aja. Pengalaman pergi pada tahun 2007 sungguh berkesan, makanya 2 tahun kemudian ingin lebih jauh berkelana ke Tana Toraja. Sayang pada kunjungan kedua dah harus masuk RS pada hari pertama kedatangan, gara2 kena cacar 😦

Jadi kali ini yang akan saya share tentulah pengalaman lama di tahun 2007. Waktu itu hari Jumat ketika datang ke Makassar. Begitu sampai sana, lansung harus cari masjid untuk Solat Jumat. Pilihan jatuh pada Masjid Raya Makassar. Masjid ini terletak di 5°7’50″S   119°25’11″E . umur masjid ini sebenarnya cukup tua. Diresmikan pada tahun 1949, dan sempat menjadi Masjid terbesar di Asia Tenggara saat itu dengan daya tampung sampai 60.000 jamaah (tapi sampai ke halaman). Masjid ini mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1999 dengan bantuan dana dari Pak Jusuf Kalla, dengan mengambil gaya arsitektur Timur Tengah

Masjid Raya Makasar

Setelah sholat, tentu saja waktunya makan siang 🙂 Setelah bertemu dengan rekan kantor bernama mbak Maylia, saya berangkat untuk menyantap Sop Saudara. Sop kuah khas daerah Makassar ini berisi daging sapi atau kerbau yang dirangkum dengan aneka bumbu yang saya gak tahu detailnya, hehehe…. Yang penting rasanya maknyus!

Sop Saudara

Sebagai kota yang berbatasan lansung dengan laut, tentu saja Makassar menawarkan beragam restoran seafood. Jadi tentu saja saya sempatkan juga untuk menyantap hidangan laut di kota ini. Yang paling sering ditawarkan disini adalah otak2, yang tentu saja untuk jenis makanan ini rasanya selalu ditawarkan di restoran seafood manapun di daerah lain. Penilaian saya akan kualitas seafood Makassar, masih kalah sama otak2 khas hometown saya yaitu Gresik 🙂

otak-otak

Karena kegiatan kantor selama di Makassar cukup padat, tidak banyak tempat yang saya kunjungi. Sebelum pulang saya sempatkan untuk bertemu dengan teman induction program ketika masuk Telkomsel, yaitu bro Andi Tauhid. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami putuskan untuk pergi ke benteng tua legendaris, yaitu Fort Rotterdam. Walaupun namanya berbau Belanda, tapi sebenarnya benteng ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa Tallo, dimana awalnya bernama benteng Ujung Pandang atau biasa juga disebut benteng Panyyua. Dibangun pertama kali pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X dengan mengambil bentuk dasar segi empat, dan arsitektur bergaya portugis. Benteng ini dulunya digunakan sebagai markas pasukan katak kerajaan Gowa. Setelah perjanjian Bungayya, benteng ini menjadi milik Belanda, dan kemudian dialihfungsikan sebagai pusat penyimpanan rempah-rempah untuk Indonesia Timur. Kini, Fort Rotterdam dialihfungsikan menjadi Museum La Galigo. Museum ini digunakan untuk memamerkan sejarah kerajaan Gowa Tallo dan masyarakat Makassar. Sayang beberapa properti display dan interior museum ini terkesan kurang terpelihara.

bro Andi Tauhid dan miniatur kapal tradisional

alat-alat tradisional petani

dekorasi pernikahan khas rakyat Makassar

ex gudang penyimpanan rempah-rempah

Patung Sultan Hasanudin di depan tembok Fort Rotterdam