Just another alif site

anak-anak Saonek

11 Juni 2011, cuaca tampak cukup cerah hari itu, tapi ternyata arus laut cukup keras menghadang, dan angin yang berhembus kencang itu segera merubah langit cerah menjadi berawan mendung. Kami yang tadinya tidak memakai life jacket, lansung berebut memakainya. Hari itu sebenarnya kami hendak pulang dari Pulau Waigeo ke Sorong untuk mengejar pesawat ke Makasar. Kurang dari 30 menit kami di laut, akhirnya sang nahkoda memutuskan agar kami berlindung dulu di Pulau Saonek, karena apabila kami nekat menerobos ombak, bisa-bisa kapal yang terbuat dari fibreglass ini bisa pecah. Walaupun mesin kapal yang saya naikin cukup kencang, yaitu 2×200 PK, tapi tetap saja tak mampu untuk membelah ombak. At that moment, I was so scared.

KM Fajar

Pulau Saonek adalah sebuah pulau kecil yang menjadi penghubung bagi para turis yang hendak ke Kepulauan Raja Ampat. Dari Sorong terdapat kapal yang tiap hari pulang pergi ke pulau ini. Tarif kapal reguler tersebut adalah Rp 120 ribu / orang. Tapi tentu saja kapal reguler ini tidak secepat kapal yang kami pakai, bisa 2x lipat lebih lama. Begitu kapal merapat ke dermaga, saya lansung terkagum dengan kejernihan air pulau ini.

jernihnya dermaga pulau Saonek

Di pulau ini terdapat satu BTS Combat milik Telkomsel. BTS inilah yang melayani komunikasi di Kabupaten Raja Ampat, dimana letak pusat administrasinya ada di Pulau Waiwo. BTS ini menggunakan tenaga dari genset diesel. Pulau ini juga dilengkapi dengan sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya.

PLTD

PLTS

Walaupun pulau ini sudah terjangkau oleh sinyal Telkomsel dan juga listrik, tapi fasilitas umum masih terasa memprihatinkan, khas daerah tertinggal. Bangunan yang berdiri di pulau ini rata2 bangunan semi permanen. Dan ketika saya menemukan bangunan sebuah TK, kondisinya nampak memprihantinkan. Tapi ya mendinglah, daripada ga ada sama sekali. Memang yang susah di negeri ini adalah bagaimana merawat fasilias umum. Satu yang membuat saya terharu, Bendera Merah Putih masih berkibar disini, walaupun hari itu adalah hari sabtu. Sebuah bukti bahwa warga Saonek cinta akan Indonesia.

TK Saonek

Jam menunjukkan pukul 12.00 WIT, dan langit cukup cerah, kami pun memutuskan untuk mengakhiri acara keliling Pulau Saonek ini dan kembali ke dermaga. Tapi dari kejauhan, laut masih menunjukkan riak dimana-mana, tanda ombak masih cukup ganas. Tapi karena kami ingin mencoba peruntungan mengejar pesawat, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan laut kami, dan naasnya, kapal yang saya tumpangi mengalami kerusakan pada salah satu mesinnya. Dan seperti diduga, kami pun ketinggalan pesawat😦

Habis gelap, terbitlah terang - Pulau Saonek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: