Just another alif site

Sebenarnya sudah 2x saya maen ke Makassar atau yang sempat kita kenal dengan nama Ujung Pandang. Yang pertama tahun 2007, kemudian di tahun 2009. Di tahun 2010 dan 2011 cuma mampir transit aja. Pengalaman pergi pada tahun 2007 sungguh berkesan, makanya 2 tahun kemudian ingin lebih jauh berkelana ke Tana Toraja. Sayang pada kunjungan kedua dah harus masuk RS pada hari pertama kedatangan, gara2 kena cacar😦

Jadi kali ini yang akan saya share tentulah pengalaman lama di tahun 2007. Waktu itu hari Jumat ketika datang ke Makassar. Begitu sampai sana, lansung harus cari masjid untuk Solat Jumat. Pilihan jatuh pada Masjid Raya Makassar. Masjid ini terletak di 5°7’50″S   119°25’11″E . umur masjid ini sebenarnya cukup tua. Diresmikan pada tahun 1949, dan sempat menjadi Masjid terbesar di Asia Tenggara saat itu dengan daya tampung sampai 60.000 jamaah (tapi sampai ke halaman). Masjid ini mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1999 dengan bantuan dana dari Pak Jusuf Kalla, dengan mengambil gaya arsitektur Timur Tengah

Masjid Raya Makasar

Setelah sholat, tentu saja waktunya makan siang🙂 Setelah bertemu dengan rekan kantor bernama mbak Maylia, saya berangkat untuk menyantap Sop Saudara. Sop kuah khas daerah Makassar ini berisi daging sapi atau kerbau yang dirangkum dengan aneka bumbu yang saya gak tahu detailnya, hehehe…. Yang penting rasanya maknyus!

Sop Saudara

Sebagai kota yang berbatasan lansung dengan laut, tentu saja Makassar menawarkan beragam restoran seafood. Jadi tentu saja saya sempatkan juga untuk menyantap hidangan laut di kota ini. Yang paling sering ditawarkan disini adalah otak2, yang tentu saja untuk jenis makanan ini rasanya selalu ditawarkan di restoran seafood manapun di daerah lain. Penilaian saya akan kualitas seafood Makassar, masih kalah sama otak2 khas hometown saya yaitu Gresik🙂

otak-otak

Karena kegiatan kantor selama di Makassar cukup padat, tidak banyak tempat yang saya kunjungi. Sebelum pulang saya sempatkan untuk bertemu dengan teman induction program ketika masuk Telkomsel, yaitu bro Andi Tauhid. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami putuskan untuk pergi ke benteng tua legendaris, yaitu Fort Rotterdam. Walaupun namanya berbau Belanda, tapi sebenarnya benteng ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa Tallo, dimana awalnya bernama benteng Ujung Pandang atau biasa juga disebut benteng Panyyua. Dibangun pertama kali pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X dengan mengambil bentuk dasar segi empat, dan arsitektur bergaya portugis. Benteng ini dulunya digunakan sebagai markas pasukan katak kerajaan Gowa. Setelah perjanjian Bungayya, benteng ini menjadi milik Belanda, dan kemudian dialihfungsikan sebagai pusat penyimpanan rempah-rempah untuk Indonesia Timur. Kini, Fort Rotterdam dialihfungsikan menjadi Museum La Galigo. Museum ini digunakan untuk memamerkan sejarah kerajaan Gowa Tallo dan masyarakat Makassar. Sayang beberapa properti display dan interior museum ini terkesan kurang terpelihara.

bro Andi Tauhid dan miniatur kapal tradisional

alat-alat tradisional petani

dekorasi pernikahan khas rakyat Makassar

ex gudang penyimpanan rempah-rempah

Patung Sultan Hasanudin di depan tembok Fort Rotterdam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: