Just another alif site

Roadtrip to Pangandaran

roadtrip to pangandaran

Bulan Juni lalu, saya bersama teman-teman kantor mengadakan roadtrip ke Pangandaran. Dengan kendaraan 1 buah Avanza, kami bertujuh mengawali start dari Wisma Mulia. Perjalanan kali ini memakan waktu cukup lama, karena kami masih belum terbiasa dengan jalur selatan yang sempit. Terlebih kami terjebak macet yang cukup lama di Nagrek. Rute kami adalah sbb: Jakarta – Tol Cikampek – Tol Cipularang – Cileunyi – Garut –  Tasikmalaya – Ciamis – Banjar – Banjarsari – Kadangherang – Pangandaran – Batu Karas.

Pangandaran mempunyai garis pantai yang panjang, sehingga ada beberapa obyek wisata pantai disana. Tempat wisata yang pertama kali kami datangi adalah Pantai Karang Nini, sebuah tempat yang menyuguhkan pantai dengan deretan karang batu, dimana salah satu karang tersebut mirip dengan wajah seorang nenek. Untuk menuju lokasi ini, kita harus memasuki kawasan hutan yang dikelola perhutani. Mobil kami pun terpaksa berjalan pelan-pelan karena jalan menuju pantai yang rusak. Di dekat pantai, tersedia areal parkir kendaraan yang cukup luas. Setelah merenggangkan otot tubuh setelah perjalanan panjang, kami segera menuju ke pantai. Penamaan pantai ini tidak lepas dari legenda seorang nenek yang menunggu suaminya yang hilang di laut selatan ketika sedang mencari ikan. Setelah memohon kepada Penguasa Laut Selatan, suaminya dikembalikan tetapi dalam bentuk karang yang menyerupai sang suami (karang balekambang). Akhirnya sang nenek pun meminta untuk menjadi batu karang juga agar cinta bisa abadi. Dan jadilah karang Nini (Nini adalah bahasa sunda dari nenek). Entah apa karena daya imajinasi saya yang kurang yah, tapi saya tidak berhasil menemukan rupa seorang nenek pada batu yang dimaksud.

Pantai Karang Nini

Selepas dari Pantai Karang Nini, kami menuju ke Batu Karas, lokasi kami menginap untuk 2 malam ke depan. Kami menginap di penginapan Pondok Putri dengan rate 330rb rupiah/room/day. Tidak banyak yang bisa kami lakukan karena hujan deras menghalangi kami untuk menikmati sunset di batu Karas. Malamnya kami makan di warung Kang Ayi yang tak jauh dari penginapan, sambil cari-cari magic mushroom:)

Keesokan harinya, kami masih belum mendapatkan keberuntungan, awan gelap menutupi sang matahari terbit. Sunrise pun masih belum bisa kami nikmatin. Setelah sarapan, kami bergegas untuk ke pantai batu karas. Cukup ramai pantainya pada hari itu. Pantai Batu Karas ini sangat terkenal dengan ombak nya yang enak digunakan untuk olahraga surfing. Tak tahan dengan godaan ombak yang terus datang bergulung-gulung, saya menyewa papan wave board untuk menikmati ombak Batu Karas. Untuk sewa board cukup murah, cuma 10rb rupiah.

Pantai Batu Karas

Berhubung hari Jumat, rombongan kami yang cowok harus menunaikan sholat jumat dulu. Setelah itu barulah kami menuju ke Green Canyon. Tidak jauh untuk menempuh Green Canyon dari lokasi penginapan. Ternyata apabila hari Jumat, Green Canyon baru buka pada siang hari, sehingga terjadi penumpukan pengunjung yang sudah datang sejak pagi hari. Nomor antrian yang kami dapat adalah 75. Tiket masuk batu karas adalah 75 ribu untuk 1 perahunya. Untuk mengisi waktu, kami memutuskan untuk pergi makan siang dulu di restoran Seafood yang paling ternama di daerah Batu Karas, yaitu Tirta Bahari.

Restoran Seafood Tirta Bahari

Hari itu kami tidak begitu beruntung, hujan yang turun sepanjang 3 hari berturut-turut membuat Green Canyon menjadi Brown Canyon. Walaupun keindahannya sedikit berkurang, tapi tidak menyurutkan kami untuk menikmati indahnya batu-batu Karas yang menjadi dinding sungai.

Green Canyon

Di beberapa spot dinding batu muncul mata air. Hasrat untuk segera nyebur pun tidak tertahan lagi. Setelah perahu merapat, satu persatu dari kami segera nyebur dan menyusuri derasnya sungai dengan berpegangan ke tali yang disediakan oleh guide untuk menuju ke spot batu lompat indah. Satu persatu dari rombongan kami pun mencoba untuk mengadu nyali untuk melompati batu setinggi 6 meter tersebut.

Loncat Indah

Keesokan paginya, kami harus sudah mempersiapkan diri untuk pulang ke Jakarta. Searah dengah perjalanan pulang, kami mengunjungi beberapa tempat wisata. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah jembatan gantung. Nothing special dengan jembatan ini, tapi suasana pedesaan dan kesahajaan penduduk setempat yang membuat kami terkesan.

jembatan gantung

Perjalanan pun kamu lanjutkan dengan menyusuri pantai pangandaran, dan kami pun berhenti sejenak di Pantai Batu Hiu. Pantai ini mempunyai karakter yang sama dengan Pantai Karang Nini, yaitu menonjolkan sculpture batu karang yang berbentuk seperti ikan hiu. Ombak besar yang menghajar bebatuan pantai ini membuat kami tidak bisa terlalu mendekati bibir pantai untuk menikmati pemandangan. Sebuah rambu peringatan bahaya Tsunami terpasang di pantai ini, menandakan pantai ini titik bahaya apabila sewaktu-waktu Tsunami datang.

Pantai Batu Hiu

Selain tempat wisata air, daerah Pangandaran juga menyajikan tempat wisata budaya berupa workshop wayang golek. Ada beberapa workshop yang tersebar di Pangandaran. Wayang golek yang terbuat dari kayu ini mereka jual dengan harga 500 ribu untuk satu boneka nya. Walaupun kami tidak membeli satu pun wayang, tapi para pengrajin dengan ramah melayani pertanyaan-pertanyaan kami.

wayang golek

wooden puppet workshop

Comments on: "Roadtrip to Pangandaran" (1)

  1. Waaaah… Dokumentasi nya kereen…
    Nice post…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: