Just another alif site

Archive for October, 2011

Nexmedia, Layanan TV Digital dengan Teknologi DVB-T

Jumat malam kemaren iseng-iseng ke Senayan City. Ternyata ada booth Nexmedia di food court. Nexmedia adalah provider baru TV berlangganan yang memanfaatkan teknologi DVB-T. DVB-T merupakan singkatan dari Digital Video Broadcasting-Terrestrial, dimana dengan teknologi ini, konten digital audio-video dan data lain dapat dikompres dan ditransmit melalui Mpeg transport stream dengan menggunakan modulasi COFDM/OFDM.

Setelah tanya-tanya, saya memutuskan untuk mengambil paket berlangganan selama 6 bulan. Walaupun waktu di Senayan City, saya masih agak ragu karena kualitas gambar yang ada di booth tersebut sering mengalami freeze dan pecah-pecah. Alasan mereka karena frekuensi yang digunakan Nexmedia terganggu oleh penggunaan perangkat HT dengan power berlebih oleh para satpam Senayan City yang sibuk menutup Mall.
Instalasi perangkat saya lakukan sendiri, karena memang cukup mudah. Tinggal nancepin kabel antenna UHF ke decoder, dan kabel AV ke TV, dan tak ketinggalan kabel power, maka instalasi sudah selesai. Setelah memasang baterei ke remote, kini saatnya menyalakan decoder. Total waktu yang dibutuhkan untuk instalasi tak lebih dari 10 menit. Hal yang dilakukan pertama kali adalah melakukan scanning untuk mencari channel. Sesekali saya harus memutar-mutar antenna UHF internal untuk mencari signal yang lebih baik. Butuh waktu 1 hari bagi saya untuk dapat menikmati keseluruhan paket channel yang saya pilih. Selama belum aktivasi, saya hanya bisa menikmati channel SCTV dan TVRI Digital. Sayang tidak semua stasiun TV Nasional bisa dinikmati, Global TV dan MNCtv tidak termasuk dalam paket. Jadi kalau mau nonton 2 stasiun TV tersebut untuk Liga Inggris, kita harus kembali ke mode analog anntena UHF. Kualitas siaran cukup bagus, dan menurut info sales nya, layanan Nexmedia ini bisa digunakan sampai Karawaci atau wilayah Jabodetabek. Sayang ketika saya tanya apakah saya bisa menggunakan decoder ini ketika saya lagi pulang kampung ke Jawa Timur, jawabannya tidak bisa.

Fyi, Nexmedia merupakan grup Emtek yang membawahi SCTV, Indosiar dan O-Channel. Tapi herannya O-Channel kok gak masuk yah dalam paket, aneh banget. Overall, saya cukup puas dengan layanan Nexmedia. Harga yang murah, kemudahan instalasi dan simplicity dalam perangkat membuat saya merasa nyaman. Jadi slogan Nexmedia memang terbukti, Simply Entertaining. Untuk informasi lebih lanjut, bisa dibuka website mereka di http://www.nexmedia.co.id .

decoder Nexmedia

Advertisements

Alhamdulillah, Mama Akhirnya Bisa Berangkat Haji

Alhamdulillah, akhirnya kesempatan itu datang juga untuk ibunda tercinta. Perasaan senang bercampur dengan keharuan menyelimuti diri. Untuk mempersiapkan momen ini, saya dan kakak pulang ke Gresik untuk membantu Mama melayani tamu yang tak henti-hentinya datang untuk bersilahturahmi ke rumah. Tradisi silahturahmi ke orang yang hendak pergi haji ini memang sebuah tradisi yang sudah lama ada di Gresik. Mereka datang untuk mengucapkan selamat dan berdoa untuk kelancaran ibadah bagi jamaah Haji.
Tanggal 18 Oktober 2011, merupakan hari H nya. Mama berangkat ke Juanda ditemani keluarga terdekat. Dari Surabaya, mama ke Jakarta dulu untuk berkumpul dengan jamaah lainnya yang sama-sama ikut travel Haji Talbia. Saya dan kakak pun ikut menemani mama dalam pesawat GA-313 menuju ke Jakarta. Btw, walaupun pesawat GA-313 ini menggunakan armada baru 737-800NG, tetapiย  memakai motif warna merah seperti pesawat Garuda di tahun 70-80an. Tak lupa saya ambil foto pemandangan dari flight GA-313 ๐Ÿ™‚

view from GA-313

Sesampai di Jakarta, adik dan keluarga Jakarta menyambut di bandara Soekarno-Hatta. Selamat jalan Mama, semoga perjalananmu untuk menunaikan ibadah Haji diberikan kelancaran dan kemudahan disana.

Cholil Big Family

Great Wall, memang sangat Great!

Tak terbayang akhirnya bisa menginjakkan kaki di situs warisan budaya China yang masuk dalam daftar keajaiban dunia. Great Wall atau tembok raksasa merupakan benteng yang menjadi pertahanan di perbatasan utara China terhadap bangsa Mongol. Mulai dibangun dari sejak abad ke-5 BC (sebelum Masehi), dan dilanjutkan terus oleh beberapa kaisar hingga abad ke-16. Panjang tembok ini sekitar 6,259.6 km. Bagian Great Wall yang kami kunjungi tentu saja yang paling dekat dengan Beijing, yaitu Juyong Pass. Untuk menuju ke lokasi ini, kami menempuh perjalanan darat melalui jalan tol ke arah utara Beijing. Paket-paket berkunjung ke Great Wall sendiri banyak yang menawarkan di Tiananmen Square, sehingga kita tidak perlu bingung cara berkunjung ke sini. Dengan umur bangunan yang sudah tua ini, kami sangat takjub dengan masih kokohnya bangunan ini masih berdiri.

Great Wall of China

Pembangunan Great Wall sangat pesat di era Dinasti Ming. Secara teknologi, pembangunan Great Wall di era Dinasti Ming juga lebih kokoh karena telah mempergunakan konstruksi batu bata. Terlebih untuk melindungi ibu kota, Great Wall yang mengelilingi Beijing dibikin lebih kuat. Pembangunan Great Wall mulai terhenti di abad 16 ketika Dinasti Ming dapat dikalahkan olehย  invansi bangsa Manchuria, dimana setelah kemenangan bangsa Manchuria, daerah diluar Great Wall otomatis menjadi bagian dari China yang baru (Dinasti Qing).

Ada sedikit kekecewaan ketika berkunjung ke Juyong Pass ini, karena kami tidak menemukan deretan tentara Terracota. Setelah saya tanyakan ke pemandu, ternyata untuk melihat barisan tentara Terracota, saya harus ke kota Xian. Kekecewaan saya agak sedikit terobati, karena akhirnya saya menemukan beberapa patung tentara Terracota di salah satu bagian JuYong Pass.

Terracota army

Great Wall memang sangat besar dan panjang. Sepanjang mata memandang, tembok kokoh ini berdiri mengular diatas daerah pegunungan yang menjadi benteng alami di utara Beijing. Untuk menaiki anak tangga nya yang curam sangat menguras tenaga. Tak jarang kami berhenti untuk mengatur nafas sebelum melanjutkan lagi menaiki anak tangga. Semakin keatas, pengunjung semakin sedikit, menyiratkan bahwa banyak yang tidak kuat untuk terus menelusuri Great Wall. Papan peringatan pun terpasang dimana-mana untuk memperingatkan bahwa menyusuri Great Wall ini membutuhkan kondisi fisik dan psikis yang prima. Beberapa papan peringatan lain memperingatkan kami untuk tidak menggunakan handphone ketika terjadi badai, karena memang lokasi Juyong Pass ini berada di atas pegunungan, sehingga rawan terkena sambaran petir. Sayang banyak tangan-tangan jahil yang mencoret-coret papan-papan petunjuk tersebut maupun tembok Great Wall nya juga.

papan peringatan

Menurut informasi yang terpampang di LED Panel dekat loket tiket Juyong Pass, udara saat itu adalah 7 derajat Celcius, dan tingkat kelembaban 33%. Tapi udara dingin tersebut seakan tidak terasa karena perjuangan kami untuk menaiki anak tangga Great Wall lumayan membakar kalori. Yang sangat terasa adalah tingkat kelembaban yang memang kurang bersahabat bagi orang tropis, bibir pun selalu mengering walaupun kami rajin membasahi dengan air minum. Sepertinya memang harus pake lip balm, tapi lupa dibawa ๐Ÿ˜ฆ Anyway, saran saya untuk anda yang akan berkunjung ke Great Wall, jangan terlalu memforsir tenaga anda untuk berusaha mendaki Great Wall. Apalagi memang Great Wall ini sangat panjang, jadi tidak mungkin kita menyusurinya. Berikan batas waktu yang jelas ketika anda berkunjung kesini, misal maximal 2 jam. Apalagi wisata ke Great Wall sangat menguras tenaga, jangan sampai anda jatuh sakit ketika travelling karena kecapekan. Kami mengakhiri pendakian Great Wall sampai sebuah pos jaga dimana terdapat bangunan tua yang difungsikan sebagai toko cindera mata. Berhubung kami juga tidak mau membuang waktu dan energi untuk disini saja, karena masih ada schedule yang harus kami kejar hari itu.

Great Wall handicraft store

 

Belitong, Negeri Laskar Pelangi

Belitong Trip

Akhirnya kesampaian juga untuk bisa mengadakan trip ke Belitong.ย  Dengan bermodalkan promo dari Siriwijaya Air – BNI, kami dapat membeli tiket pesawat Jakarta – Tanjung Pandan PP dengan biaya 690rb. Mumpung masih belum masuk musim hujan, kami pun memilih tanggal 23-25 September 2011 untuk trip Belitong ini. Dibantu seorang kawan kantor yang memang orang asli Belitong, kami berkoordinasi dulu untuk transportasi darat dan lautnya selama disana. Hanya saja kami lumayan kesulitan mendapatkan penginapan. Akhirnya Hotel Martani terpilih menjadi penginapan kami selama 2 malam disana. Termasuk hotel yang direkomendasikan banyak backpacker karena lokasinya yang di tengah kota dan lumayan murah. Hotel ini termasuk yang tertua di Belitong, tapi menurut saya cukup oke karena lumayan bersih.

Flight pagi selalu menyiksa, karena harus bangun dini hari.ย  Karena naik flight yang jam 6.20 ,ย  kami pun berangkat dari rumah jam 4.30.ย  Untung ada teman kami yang sudah datang duluan, sehingga proses check in bisa dibantu. Flight pagi itu pun lancar dan kami tiba tepat waktu di Bandara Hanandjudin. Pengorbanan bangun pagi banget segera terobati dengan suguhan pemandangan yang memukau, walaupun ketika kami masih di udara.

Sunrise at Belitong Sky

Begitu datang, kami lansung check in dulu sekaligus menaruh barang di Hotel Martani. Setelah itu kami berburu Mie Belitong “Atep” untuk sarapan pagi kami. Harga per porsinya adalah Rp 9000. Beberapa foto selebritis yang pernah makan disini pun terpampang di dinding restoran. Menurut saya yang punya lidah Jawa Timur, mie nya kayak tahu campur tapi tanpa petis :p

Mie Belitong Atep

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju ke lokasi penambangan timah. Pulau Belitong memang terkenal dengan hasil timahnya. Dari semenjak kami di pesawat, kami bisa melihat bekas-bekas penambangan timah yang dibiarkan terbuka dan tidak direhabilitasi oleh penambang. Bekas-bekas galian ini membentuk kolam-kolam yang terisi oleh air hujan. Pemandangan kolam-kolam air bekas penambangan ini mengingatkan saya akan pemandangan akan kawah putih di Bandung Selatan.

kawah kaolin

Trip kami kali ini diikuti oleh 14 orang, dan untuk penerbangan dibagi dalam 2 kloter. 8 0rang terbang pagi, dan 6 orang sisanya terbang siang. Setelah kami menjemput kloter siang, kami melanjutkan perjalanan ke Belitong Timur lewat jalur tengah. Di tengah perjalanan, tak lupa kami menunaikan sholat Jumat di sebuah masjid kecil di tepi jalan. Perjalanan dari Tanjung Pandan ke Gantung sekitar 70 Km. Gantung, atau yang sering kita dengar dengan Gantong di film Laskar Pelangi merupakan nama kecamatan di Belitong Timur. Disini kami berkunjung ke lokasi SD Muhammadiyah yang digunakan untuk syuting film Laskar Pelangi. Saat kami kesana, tampak beberapa orang yang sedang melakukan perbaikan fisik bangunan.

SD Laskar Pelangi

Rekomendasi dari teman kerja kami yang di Belitong, kami harus mencoba kopi di Kedai Kopi Fatimah. Kopi yang disajikan disana merupakan khas olahan masyarakat Manggar. Konon Andrea Hirata (sang penulis buku Laskar Pelangi) selalu ngopi disana apabila sedang pulang kampung. Walaupun begitu bumi Belitong tidak mempunyai kebun kopi. Semua biji kopi didatangkan dari Lampung. Harga per gelas di Kedai Kopi Fatimah ini cukup murah, hanya 2 ribu rupiah saja.

kopi manggar Fatimah

Karena kami sudah terlanjur jauh-jauh ke Belitong Timur, maka kami manfaatkan untuk berkunjung ke Pantai Burung Mandi. Pasir putih terhampar luas dengan beberapa perahu nelayan yang sedang bersandar. Hal yang cukup mengganggu disini adalah ketidaktersedianya air bersih untuk toilet. Menurut wawancara dengan penduduk setempat, daerah tersebut susah untuk dibikin sumur, dan memang sudah berbulan-bulan tidak turun hujan. Sehingga para penduduk harus ke daerah pegunungan untuk mencari air bersih. Karena ada anggota rombongan yang udah kebelet banget, kamu memutuskan segera jalan pulang ke Kota Tanjung Pandan, sambil berharap menemukan masjid atau pom bensin yang bisa digunakan untuk numpang buang air. Dan ternyata, sepanjang perjalanan pun kami kesulitan mencari air bersih.

Sesampai di kota Tanjung Pandan, hari sudah malam. Atas rekomendasi dari rekan kerja kami, RM Sari Laut kami pilih sebagai tempat bersantap malam. Sesuai dengan namanya, restoran ini menyajikan aneka hidangan laut. Sebenarnya dari awal kami cukup ragu untuk masuk ke restoran ini, karena penampakannya cukup bagus untuk ukuran kantong kami, dan harga makanan pun tidak tertera di daftar menu. Alhasil setelah tagihan keluar, kami pun harus mengelus dada karena total tagihan 700ribuan, jauh dari budget kami. 1 kepiting dihargai 100ribu ๐Ÿ˜ฆ

Hari kedua trip kami dimulai pada jam 7.30 , ngaret 1 jam dari jadwal yang kami telah sepakati sebelumnya. Dengan bantuan 3 mobil operasional kantor yang libur pada hari sabtu, kami berangkat ke Tanjung Kelayang. Dari situ kami naik perahu kecil dengan ongkos sewa per-perahu 350 ribu. Karena anggota kami cukup banyak, kami menyewa 2 perahu kecil. Pulau-pulau kecil dengan batu-batu granit besar menjadi suguhan pemandangan yang indah sekali dan unik. Pulau-pulau yang sempat kami kunjungi adalah Pulau Tanjung Berlayar, Pulau Burung dan Pulau Lengkuas.

Tanjung Berlayar

Pulau Burung

Laut Belitong tak hanya indah dengan hamparan pantai pasir putihnya dan gugusan batu-batu granit raksasa, pemandangan bawah lautnya pun tak kalah menarik. Sambil menunggu makan siang kami disiapkan oleh para kru kapal di Pulau Lengkuas, kami pun snorkling tak jauh dari Pulau Lengkuas. Ikan warna-warni berenang diantara terumbu karang. Tadinya kami berencana untuk snorkling juga di Pulau Babi untuk melihat clown fish atau sering kita sebut ikan Nemo. Tapi berhubung arus kuat tiba-tiba datang, rencana pun gagal ๐Ÿ˜ฆ

Belitong underwater

Setelah bersantap siang, kami pun kembali berolahraga, yaitu olahraga naik tangga Mercusuar bekas peninggalan Belanda. Untuk masuk Mercusuar ini, kami harus cuci kaki dan menanggalkan alas kaki untuk bisa masuk ke Mercusuar. Hal ini dimaksudkan agar Mercusuar tidak dikotori oleh pasir-pasir dari kaki para pengunjung. Mercusuar ini memiliki 18 lantai, dan tinggi nya sekitar 70 meter. Usaha yang cukup berat untuk menaiki tangga ini terbayar dengan indahnya pemandangan yang kami dapat dari atas Mercusuar. Btw, di Pulau Lengkuas ini tidak ada air bersih, sehingga kalau mau menyelesaikan urusan buang air ya harus di laut ๐Ÿ™‚

Mercusuar Pulau Lengkuas

Untuk menutup wisata pantai di hari kedua, kami bergegas ke Pantai Tanjung Tinggi untuk mencari sunset. Ternyata pantai ini juga digunakan untuk syuting film Laskar Pelangi. Gugusan batu-batu granit besar tetap menjadi suguhan kami. Di lokasi ini terdapat air bersih dan musholla. Sehingga kami pun bisa menunaikan sholat sebelum matahari terbenam. Sayang sunset pada sore itu agak sedikit terganggu oleh awan tebal di horizon.

tanjung Tinggi

Sunset at Tanjong Tinggi

Hari ketiga kami gunakan untuk wisata kota di sekitar hotel. Tak lupa kami juga membeli beberapa oleh-oleh khas Belitong, terutama bubuk kopi Manggar ๐Ÿ™‚ Bahkan ketika sampai di bandara pun kami masih membeli cinderamata berupa kaos dengan tema Belitong. Desain kaos yang dijual di bandara ini cukup bagus, dan harganya pun cukup reasonable, yaitu 75ribu. Trip kali ini nyaris sempurna, sayang ada 1 insiden dimana beberapa orang dari rombongan kami terpaksa pulang keesokan harinya karena pesawat Sriwijaya mengalami robek di badannya akibat terbentur tangga. Walaupun begitu, kami semua puas dengan suguhan pemandangan alam Belitong. Apalagi di perjalanan pulang pun saya mendapat bonus pemandangan indah cakrawala ๐Ÿ™‚

cakrawala

Untuk foto-foto lebih lengkap, silakan klik disini : https://picasaweb.google.com/100405355483547146116/Belitong#