Just another alif site

Archive for November, 2011

Masjid Raya Baiturrahman, saksi bisu tsunami Aceh

Masjid Raya Baiturrahman dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 sebagai pusat ibadah rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Pada tahun 1873, peluru meriam Belanda yang ditembakkan dari Kampung Meuraxa sempat memporakporandakan masjid ini. Untuk mengambil hati rakyat Aceh, 4 tahun kemudian Masjid ini dibangung kembali oleh Belanda dengan 3 kubah. Selanjutnya diperluas menjadi 5 kubah pada masa pemerintahan Gubernur A. Hasymy dan terakhir Gubenur Ibrahim Hasan memperluas hingga menjadi 7 kubah.

Masjid ini merupakan saksi bisu kedasyatan gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004. Masjid ini masih berdiri kuat walaupun bangunan lain di sekitarnya hancur tersapu gelombang tsunami.

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

 

Tembagapura, kota Tembaga (dan Emas)

Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa selalu diwarnai mengenai konflik di Papua, terutama kehadiran Freeport yang setelah sekian lama mengeruk emas dan tembaga dari tanah Papua, tetapi kesejahteraan rakyat Papua sendiri masih belum ada peningkatan yang signifikan. Pada tulisan kali ini saya tidak akan ikut mengomentari konflik Papua atau kehadiran Freeport yang penuh kontroversi, tapi saya ingin share pengalaman ketika berkunjung ke Freeport.
Pemberitaan ini mengingatkan saya akan kunjungan pertama kali di tanah Papua sekitar akhir tahun 2007 silam. Yaitu kunjungan ke Timika dan Tembagapura. Sebelum pergi ke Tembagapura, saya perlu mempersiapkan kartu identitas khusus agar bisa memasuki kawasan Tembagapura. Awalnya kaget juga ketika diminta untuk mengurus administrasi ini, tetapi setelah tiba disana, barulah saya paham. Ternyata Freeport sangat berkuasa disana, KTP kita tidak berlaku, plat mobil kita juga tidak berlaku. Mobil-mobil di kawasan Kuala Kencana dan Tembagapura memiliki identitas sendiri yang ditulis di lambung mobil. Jadi Freeport seperti mendirikan negara dalam Negara Indonesia.
Flight malam Garuda dari Jakarta ke Timika memakan waktu 6 jam, dengan berhenti sekali di Denpasar. Pemandangan hutan mendominasi ketika kita sudah mendekati Timika. Hijaunya pepohonan hutan Papua seakan ternoda ketika saya melihat sungai yang berwarna abu-abu. Ternyata warna tersebut disebabkan oleh limbah tailing Freeport. Sungguh ironis perusahaan kelas dunia dengan penghasilan puluhan trilyun rupiah per tahun, tapi bisa dengan gampangnya membuang limbah tanpa mendapat teguran dari pemerintah. Terlihat beberapa penduduk lokal berusaha mencari sisa-sisa emas di sungai tersebut.
Bandara Mozes Kilangin mempunyai runway yang cukup bagus dibandingkan beberapa bandara di Indonesia yang pernah saya datangi. Pendaratan pun berlansung mulus. Setelah turun dari pesawat, saya lalu berjalan ke terminal kedatangan untuk mengambil bagasi. Walaupun memiliki runway yang cukup bagus, tetapi tidak demikian dengan terminal nya. Fasilitas conveyor belt yang khas di tiap terminal kedatangan tidak tersedia. Barang-barang bagasi pun dilempar begitu saja oleh petugas lapangan. Ya begitulah kondisi bandara Moses Kilangin pada tahun 2007, tapi kabarnya sekarang terminal nya sudah memakai gedung baru yang representatif. Setelah mengambil barang, saya pun pergi ke hotel Sheraton dengan diantar sopir kantor.


Hotel Sheraton merupakan satu-satunya hotel berbintang di Timika. Kamar-kamar hotel dibangun dengan menggunakan konstruksi rumah panggung, koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kamar ditutupi oleh kasa untuk mencegah nyamuk masuk. Begitu pula dengan jendela kamar, ditutup oleh kasa nyamuk agar para penghuni hotel tidak diserang oleh nyamuk papua yang terkenal akan keganasannya. Ada satu hal yang cukup mengganjal di hotel ini, ternyata breakfast tidak termasuk ke tarif kamar, kita akan dikenakan charge apabila sarapan di hotel.


Perjalanan ke Tembagapura memakan waktu sekitar 2 jam, mobil yang digunakan haruslah yang memiliki double gardan alias 4WD. Selama perjalanan ke Tembagapura, mata saya dimanjakan oleh pemandangan yang baru kali itu saya lihat. Hutan dengan pepohonan yang tinggi, dibelah oleh jalan yang cukup lebar dengan 2 pipa besar untuk mengalirkan hasil penambangan dr Tembagapura ke pelabuhan Timika, dan tower transmisi listrik tegangan tinggi dengan konfigurasi tower yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pada pos pemeriksaan pertama, kartu identitas diperiksa dengan scanner. Setelah pos pemeriksaan ini, barulah double gardan mobil Toyota Land Cruiser kami aktifkan. Medan jalan yang kami hadapi sangat curam sudut kemiringannya. Pada hari tertentu kami berpapasan dengan beberapa truk trailer yang berisikan dinamit. Sekali konvoi, saya hitung ada 11 truk trailer. Paling apes kalau ketemu. konvoi truk trailer ini pas jalan nanjak, karena jalannya sangat amat lambat! Jadi kami harus ikutan jalan lambat pula sampai dapat celah untuk mendahului.

Semakin mendekati Tembagapura, maka pemandangan yang disajikan semakin eksotis. Maklum, baru kali itu saya melihat pegunungan Jayawijaya yang puncaknya merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.


Sesampai di Tembagapura, saya mengontak Teguh, teman lama di Paguyuban Ludruk ITB waktu jaman kuliah dulu. Kamipun berkeliling kompleks Tembagapura untuk melihat-lihat fasilitas seperti mess karyawan, pantry, supermarket, fasilitas olahraga, sampai kantor imigrasi. Untuk berkeliling, kami naik bis shuttle yang cukup unik bentuknya. Banyaknya bule-bule yang berkeliaran dan udara yang cukup dingin di Tembagapura semakin membuat saya seakan tidak merasa sedang di Indonesia. Ternyata Indonesia ini sangat unik dan beragam keindahannya kawan:)

Well, dibalik semua kekaguman saya akan lokasi pertambangan emas dan tembaga ini, dari hati terdalam merasa sedih. Pengerukan hasil bumi besar-besaran dilakukan dengan seizin pemerintah , dan Indonesia sendiri cuma dapat 1% dari hasil tambang. Ternyata negeri ini masih terjajah kawan 😦

Hajjah Chalimatus “Sande” Sa’diyah

Senang rasanya hari ini bisa melihat Mama kembali ke Indonesia dengan sehat dan selamat.

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Terima kasih atas segala doa dan dukungannya sehingga ibunda kami yang tercinta, yaitu Chalimatus Sa’diyah, dapat menunaikan haji dan telah pulang dari Tanah Suci dengan sehat dan selamat. Semoga ibadah haji ibunda kami Mabrur dan Barokah. Amin.
Dengan cinta:

  • Diah Karima Muan
  • Alif Yordan Muan
  • Yehan Ersad Muan

Hajj

Singapore Flyer, Giant Ferris Tertinggi di Dunia


Singapore Flyer telah menjadi landmark terbaru Singapore. Pembangunannya memakan waktu 3 tahun, yaitu dari 2005 sampai 2008. Wahana yang merupakan Giant Ferris tertinggi di dunia dengan ketinggian 165 meter ini terletak di daerah Marina Bay. Dengan desain 28 kapsul yang dilengkapi dengan AC di tiap kapsul tertutupnya, membuat para wisatawan tak akan terganggu apabila hujan dan angin kencang menerpa.
Untuk masuk ke wahana ini, kita perlu membeli tiket sebesar SGD 29,5. Ada diskon khusus apabila kita memegang boarding pass Singapore Airlines, sehingga kami cukup membayar tiket SGD 20 per orang. Sebelum kita sampai ke kapsul, maka kita akan melewati beberapa ruangan yang memberikan informasi tentang cara kerja Singapore Flyer ini lengkap dengan alat peraga, video visual dan maket.

Singapore Flyer

Di masing-masing kapsul terdapat brosur yang memberikan informasi peta dan nama-nama objek yang bisa kita lihat dari atas kapsul. Sebuah pemandangan yang lumayan memberikan gambaran kepada wisatawan agar dapat mengetahui kira-kira apa yang menarik untuk dikunjungi setelah turun dari kapsul.

Pemandangan Singapore dari kapsul

Selesai turun dari kapsul, pengunjung akan disuguhkan toko souvenir khas Singapore Flyer. Keluar dari Flyer, kami pun beranjak pergi untuk melihat paddock Formula 1 GP Singapore yang terletak tak jauh dari Singapore Flyer. Nama-nama pembalap masih terpampang di masing-masing garasi paddock. Penempatan paddock ini sangat pas dengan latar belakang Singapore Flyer. Balapan GP F1 Singapore yang selalu dilansungkan pada malam hari menjadi semakin indah dengan lampu-lampu kapsul Singapore Flyer yang berputar.

di depan paddock Michael Schumacher

Semarak belanja di WanFuJing street

Beijing memang terkenal akan wisata sejarahnya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba berwisata ke tempat belanja. WanFuJing merupakan nama sebuah jalan yang dipenuhi oleh etalase merk-merk terkenal. Ya seperti Orchard road nya Singapore. Hanya saja, disini jalannya ditutup untuk kendaraan bermotor. Hanya pejalan kaki dan orang yang naik sepeda yang boleh masuk ke kawasan ini. Karena letaknya tak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap, kami cukup jalan kaki untuk menuju kesana.

Kesan pertama ketika memasuki areal jalan Wanfujing adalah “Inilah Surga Pejalan Kaki!”. Jalanan yang lebar bisa kami nikmati dengan nyaman, dan mata kami dimanjakan oleh aneka toko dari merk-merk terkenal di sepanjang jalan. Kami sempat bertemu dengan sepasang suami istri dari Indonesia, dan ternyata rumah mereka juga tak jauh dari rumah kami yaitu Bintaro, what a small world 🙂

Wanfujing street

Sebenarnya saya bukan termasuk maniak belanja, apalagi belanja barang-barang ber-merk. Apalagi sebenarnya Jakarta juga mempunyai toko-toko merk terkenal tersebut. Pandangan kami lalu tertuju pada sebuah gang dengan pintu gerbang khas tradisional China. Aha, inilah wisata belanja yang saya cari! Berbagai barang-barang souvenir khas China dijual disini, ada kaos, topeng, gantungan kunci, tas, dan pernak pernik lucu lainnya. Ada juga stan yang menjajakan keterampilan membuat boneka replika atau figur kecil dengan model sesuai pesanan, jadi kita pun bisa dijadikan boneka layaknya mainan figur action.

Traditional Wanfujing Market

Berbagai toko makanan tradisional menggoda selera untuk dicoba, seperti gula-gula yang sering dimakan oleh Bo Bo Ho di film-film. Kami pun mencoba untuk membeli minuman yoghurt hasil olahan industri rumahan. Yang menarik disini adalah makanan eksotis yang dijual dan dipajang di depan toko. Ada bintang laut, scorpio, kuda laut, teripang, dan hewan-hewan aneh lainnya. Untuk yang satu ini, kami absen deh untuk mencoba. Daripada perut kami bermasalah, bisa-bisa jadwal travelling kami bisa kacau. Yang patut diacungi jempol adalah kebersihan pasar ini. Suasana pasar yang terang benderang juga membuat kami merasa nyaman dan aman.

traditional and exotic food

Cycleindo 2011

Pameran sepeda bertajuk Cycleindo 2011 berlansung 4-6 November 2011 di Gedung Balai Kartini. Pameran yang digadang-gadang merupakan pameran sepeda terlengkap di Indonesia karena diikuti 40 merk sepeda ternyata berlansung biasa-biasa saja. Mungkin lebih tepat hanya pameran toko-toko sepeda saja. Saya tidak menemukan booth khusus dari pabrikan sepeda nasional macam Polgon, United, atau Wim Cycle. Padahal di acara Jakarta Fair, ketiga pabrikan nasional tersebut selali tampil all out dengan berbagai produk mereka dari lini low end hingga high end. Paling hanya satu booth yang membuat saya agak tertarik untuk berkunjung dan bertanya ke SPG nya, yaitu booth sepeda listrik Betrix. Line up model Betrix kini sangat beragam dan desainnya bagus, beda dengan yang saya kenal 5 tahun silam. Untuk lebih tahu tentang Betrix, silakan buka link berikut http://www.betrix.co.id .

CycleIndo 2011

Praktis pameran ini hanya berisi toko-toko sepeda dan aksesorisnya, dilengkapi dengan beberapa booth komunitas sepeda. Padahal secara konsep pameran sepeda ini sangat baik, terdapat area bike couching dan bike park untuk atraksi sepeda bmx. Semoga penyelenggaraan Cycleindo kedepannya bisa sukses untuk menarik pabrikan untuk membuka booth khusus. Karena bagaimanapun juga pasar sepeda nasional masih sangat besar dan merk nasional lah yang harusnya menjadi raja di negeri sendiri.