Just another alif site

Akhir-akhir ini pemberitaan di media massa selalu diwarnai mengenai konflik di Papua, terutama kehadiran Freeport yang setelah sekian lama mengeruk emas dan tembaga dari tanah Papua, tetapi kesejahteraan rakyat Papua sendiri masih belum ada peningkatan yang signifikan. Pada tulisan kali ini saya tidak akan ikut mengomentari konflik Papua atau kehadiran Freeport yang penuh kontroversi, tapi saya ingin share pengalaman ketika berkunjung ke Freeport.
Pemberitaan ini mengingatkan saya akan kunjungan pertama kali di tanah Papua sekitar akhir tahun 2007 silam. Yaitu kunjungan ke Timika dan Tembagapura. Sebelum pergi ke Tembagapura, saya perlu mempersiapkan kartu identitas khusus agar bisa memasuki kawasan Tembagapura. Awalnya kaget juga ketika diminta untuk mengurus administrasi ini, tetapi setelah tiba disana, barulah saya paham. Ternyata Freeport sangat berkuasa disana, KTP kita tidak berlaku, plat mobil kita juga tidak berlaku. Mobil-mobil di kawasan Kuala Kencana dan Tembagapura memiliki identitas sendiri yang ditulis di lambung mobil. Jadi Freeport seperti mendirikan negara dalam Negara Indonesia.
Flight malam Garuda dari Jakarta ke Timika memakan waktu 6 jam, dengan berhenti sekali di Denpasar. Pemandangan hutan mendominasi ketika kita sudah mendekati Timika. Hijaunya pepohonan hutan Papua seakan ternoda ketika saya melihat sungai yang berwarna abu-abu. Ternyata warna tersebut disebabkan oleh limbah tailing Freeport. Sungguh ironis perusahaan kelas dunia dengan penghasilan puluhan trilyun rupiah per tahun, tapi bisa dengan gampangnya membuang limbah tanpa mendapat teguran dari pemerintah. Terlihat beberapa penduduk lokal berusaha mencari sisa-sisa emas di sungai tersebut.
Bandara Mozes Kilangin mempunyai runway yang cukup bagus dibandingkan beberapa bandara di Indonesia yang pernah saya datangi. Pendaratan pun berlansung mulus. Setelah turun dari pesawat, saya lalu berjalan ke terminal kedatangan untuk mengambil bagasi. Walaupun memiliki runway yang cukup bagus, tetapi tidak demikian dengan terminal nya. Fasilitas conveyor belt yang khas di tiap terminal kedatangan tidak tersedia. Barang-barang bagasi pun dilempar begitu saja oleh petugas lapangan. Ya begitulah kondisi bandara Moses Kilangin pada tahun 2007, tapi kabarnya sekarang terminal nya sudah memakai gedung baru yang representatif. Setelah mengambil barang, saya pun pergi ke hotel Sheraton dengan diantar sopir kantor.


Hotel Sheraton merupakan satu-satunya hotel berbintang di Timika. Kamar-kamar hotel dibangun dengan menggunakan konstruksi rumah panggung, koridor yang menghubungkan gedung utama dengan kamar ditutupi oleh kasa untuk mencegah nyamuk masuk. Begitu pula dengan jendela kamar, ditutup oleh kasa nyamuk agar para penghuni hotel tidak diserang oleh nyamuk papua yang terkenal akan keganasannya. Ada satu hal yang cukup mengganjal di hotel ini, ternyata breakfast tidak termasuk ke tarif kamar, kita akan dikenakan charge apabila sarapan di hotel.


Perjalanan ke Tembagapura memakan waktu sekitar 2 jam, mobil yang digunakan haruslah yang memiliki double gardan alias 4WD. Selama perjalanan ke Tembagapura, mata saya dimanjakan oleh pemandangan yang baru kali itu saya lihat. Hutan dengan pepohonan yang tinggi, dibelah oleh jalan yang cukup lebar dengan 2 pipa besar untuk mengalirkan hasil penambangan dr Tembagapura ke pelabuhan Timika, dan tower transmisi listrik tegangan tinggi dengan konfigurasi tower yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Pada pos pemeriksaan pertama, kartu identitas diperiksa dengan scanner. Setelah pos pemeriksaan ini, barulah double gardan mobil Toyota Land Cruiser kami aktifkan. Medan jalan yang kami hadapi sangat curam sudut kemiringannya. Pada hari tertentu kami berpapasan dengan beberapa truk trailer yang berisikan dinamit. Sekali konvoi, saya hitung ada 11 truk trailer. Paling apes kalau ketemu. konvoi truk trailer ini pas jalan nanjak, karena jalannya sangat amat lambat! Jadi kami harus ikutan jalan lambat pula sampai dapat celah untuk mendahului.

Semakin mendekati Tembagapura, maka pemandangan yang disajikan semakin eksotis. Maklum, baru kali itu saya melihat pegunungan Jayawijaya yang puncaknya merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.


Sesampai di Tembagapura, saya mengontak Teguh, teman lama di Paguyuban Ludruk ITB waktu jaman kuliah dulu. Kamipun berkeliling kompleks Tembagapura untuk melihat-lihat fasilitas seperti mess karyawan, pantry, supermarket, fasilitas olahraga, sampai kantor imigrasi. Untuk berkeliling, kami naik bis shuttle yang cukup unik bentuknya. Banyaknya bule-bule yang berkeliaran dan udara yang cukup dingin di Tembagapura semakin membuat saya seakan tidak merasa sedang di Indonesia. Ternyata Indonesia ini sangat unik dan beragam keindahannya kawan:)

Well, dibalik semua kekaguman saya akan lokasi pertambangan emas dan tembaga ini, dari hati terdalam merasa sedih. Pengerukan hasil bumi besar-besaran dilakukan dengan seizin pemerintah , dan Indonesia sendiri cuma dapat 1% dari hasil tambang. Ternyata negeri ini masih terjajah kawan😦

Comments on: "Tembagapura, kota Tembaga (dan Emas)" (2)

  1. Nice pict

  2. Nice pict,, love it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: