Just another alif site

Archive for December, 2011

Potato Head: Club Penikmat Sunset

Bali memang punya segudang tempat hangout asik untuk bersantai bersama pasangan atau teman. Kali ini kami mencoba Potato Head Beach Club Bali yang berlokasi di Jalan Petitenget – Seminyak. Bangunan club ini tidak terlihat dari tepi jalan. Untuk menuju ke lokasi, kita melewati semacam gang sebelum akhirnya menemukan bangunan unik yang dihiasi oleh ornamen jendela-jendela kayu yang berjejalan. Jadi ketika kita melintas di Jalan Petitenget, cari aja dulu plang yang bertuliskan Potato Head, dimana ini merupakan pertanda buat kita untuk memasuki gang tersebut. Untuk yang benar-benar ingin suasana tenang, mungkin bisa mencoba untuk datang kesini pada sore hari, sambil menikmati sunset. Untuk para penggemar party, malam hari waktu yang cocok karena setting-an tempat nya bisa dirubah menjadi tempat dugem. Yang pasti untuk yang lagi di Bali, kudu cobain tempat ini!

Kali ini kami ingin menikmati Potato Head dalam suasana tenang sambil menikmati sunset. Tips dari kami, usahakan untuk memesan meja dulu sebelum datang kesini pada sore hari, karena bisa dipastikan meja terisi penuh oleh para pemuja sunset. Untuk yang gak sempat pesan meja seperti kami, bisa mencoba beberapa tips berikut untuk melewati petugas di pintu depan:

  1. “Hi, temen saya tadi dah masuk duluan, saya ketinggalan soalnya parkir-in mobil dulu” > tapi bisa apes kalau ditanya nama teman nya yang tadi dah masuk siapa. Apalagi kalau kita nya ramean, masa parkir mobil aja kudu rame-rame, hehehe…
  2. “Udah pesen table nih atas nama Charlie” > rata-rata yang kesini emang bule, jadi asal nyablak aja nama orang bule kebanyakan, siapa tahu bener emang ada Charlie yang udah booking table. Sayangnya pas kami coba tips ini, gak ada yg pesan table atas nama Charlie 😦
  3. Pasang muka sok kaya, berani bayar brapa aja.

Well, tips nomor 3 yang berhasil, akhirnya kami dapat table di sisi pantai, cocok untuk menikmati sunset. Tapi ada syaratnya, yaitu minimum order 500rb. Oke lah, we’ll pay it! Abis udah jauh-jauh kesini masa gagal. Lagian kami ber-6, jadi ya urunan sajalah:)

Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, pengunjung club ini didominasi oleh orang-orang bule. Suara musik berirama soulful membikin suasana semakin cozy. Walaupun suasana seperti bukan di Indonesia, ada satu yang dijaga disini, yaitu etika. Jadi ceritanya ada bule cewe yang lagi topless di pool bar. Sesaat setelah si bule melepas bagian atas bikini nya,  tiba-tiba petugas security datang dan menegurnya. Salut untuk Club ini yang berani menegur tamu yang dirasa melanggar etika ketimuran.

Potato Head memiliki halaman belakang berupa pantai yang sebenarnya merupakan terusan jauh dari Pantai Kuta. Jadi gak salah memang kalau club ini termasuk yang paling oke untuk menikmati sunset. Beruntung bagi kami, sunset pada sore itu sangat indah.Guratan awan menambah tekstur langit Bali. Untuk para pemuja sunset, wajib hukumnya untuk datang kesini!

sunset at potatohead

Btw, ketika kami close tagihan, ternyata gak sampai 500rb, hanya 450rb sekian dah including pajak. Jadi sepertinya minimal charge nya tidak berlaku seperti yang disampaikan petugas di pintu depan. Jadi untuk yang lupa belum pesan meja pas ke Potato Head dan gak bisa masuk karena dibilang sudah full reserved, silakan mengikuti tips saya diatas yang nomor 3 🙂

Advertisements

Mengarumi Jeram Sungai Telagawaja

Dari berbagai pamflet rafting yang ditawarkan di beberapa sudut Kuta-Bali, yang selalu ditawarkan adalah paket rafting di Sungai Ayung – Ubud. Pemandangan alam Ubud yang dihiasi dengan sawah-sawah terasiring seakan sudah membayangi benak kami. Kami lansung menghubungi salah satu operator rafting yang bernama Lapama. Sayang, sungai Ayung sudah penuh. Kamipun ditawari untuk rafting di sungai Telagawaja di daerah Karangasem. Hm, selama ini yang saya tahu Karangasem merupakan pelabuhan untuk menyeberang ke pulau Lombok. Setelah googling akan sungai Telagawaja, kami pun terpaksa menerima tawaran tersebut karena tidak ada pilihan lain. Paket yang kami ambil seharga Rp 250ribu , sudah termasuk transport Hotel-Telagawaja PP, rafting+pemandu, makan siang, dan sewa handuk di end point rafting.

Perjalanan dari Kuta ke Karangasem memakan waktu 2,5 Jam.  Kami berangkat dari hotel sekitar jam 8.30. Mobil yang disediakan dari Lapama Rafting berupa Izusu Elf. Lumayan lega untuk rombongan kami yang berjumlah 8 orang. Sesampai di Telagawaja, rombongan kami dibagi dalam 2 perahu. Sebelum turun ke sungai, barang-barang berharga seperti dompet, HP, kamera disimpan di dry bag yang ikut dibawa bersama perahu karet yang kami pakai. Sedangkan tas ditaruh di mobil, dimana mobil yang kami tumpangi tadi akan stand by di end point.

Menurut saya arus nya kurang menantang karena memang sudah lama tidak turun hujan, sehingga debit air kurang begitu deras. Walaupun begitu, arus sungai sudah cukup untuk mendorong perahu karet kami membentur batu-batu kali, keadaan ini membuat kami tidak banyak mendayung selama 2 jam perjalanan rafting. Air sungai sangat bening, dibandingkan dengan pengalaman saya sebelumnya rafting di sungai Citarik – Sukabumi. Tidak beberapa lama setelah kami mulai rafting, kami lansung disuguhi pemandangan alam Bali yang eksotis. Sawah-sawah terasiring seperti di Ubud menghiasi pemandangan kiri-kanan sungai. Batu-batu besar di beberapa sisi sungai menjadi handy cap menarik untuk menabrakkan perahu karet. Di beberapa point, kami harus merebahkan badan untuk melewati jembatan bambu yang membentang rendah di sungai dan dahan-dahan pohon yang menjulur ke tengah sungai.

Beberapa mata air yang membentuk air terjun mini banyak kami temukan, baik yang hanya di pinggir sungai, sampai dengan air mata yang jatuh di tengah-tengah sungai hingga kami merasa masuk di shower sungai Telagawaja. Di tengah perjalanan kami merapat di sebuah lokasi peristirahatan. Tiap operator rafting memiliki tempat peristirahatan sendiri-sendiri di sungai ini, beruntung kami mendapat tempat peristirahatan dengan pemandangan yang fantastis. Air mata yang mengucur deras di sebuah batu karas raksasa menghiasi dinding sungai. Kami pun mandi dan foto-foto narsis. Disini terdapat penduduk lokal yang menjual minuman kaleng bersoda seharga 20rb, dan untuk sekaleng bir bintang dihargai 30rb.

mini waterfall Telagawaja

Rafting di Telagawaja ternyata lebih seru dibanding di Ayung Ubud, karena di sungai ini, kami disuguhi medan drop off setinggi 5 meter-an. Sebelum terjun, kami diperintahkan untuk merebahkan badan dan menaruh kaki kami tiduran di perahu, sehingga badan kami tidak banyak bergerak ketika perahu menghujam ke bawah. Pengalaman yang cuma berlansung beberapa detik ini menjadi momen yang seru!

drop off 1

drop off 2

Lokasi endpoint tiap operator rafting berbeda-beda. Lapama Rafting memiliki endpoint terjauh dibanding operator lain. di endpoint Lapama, terdapat dinding sungai berupa batu besar yang harus kami panjat setinggi 2 meter. Kami pun beradu lompat bebas dengan para turis dari India di batu besar ini.

Setelah merapat di endpoint, kami harus menaiki 200 anak tangga, cukup membuat badan sempoyongan karena badan yang masih basah diterjang oleh angin dingin lembah Telagawaja. Sesampai diatas, terdapat beberapa kamar mandi sederhana yang cukup bersih, dilengkapi dengan shower dan sabun mandi. Handuk kering pun tersedia untuk masing-masing peserta sehingga kita tidak perlu membawa perlengkapan mandi dari hotel. Setelah mandi, kami pun menyantap hidangan makanan siang sambil menikmati pemandangan hijaunya sawah-sawah terasiring.

lunch time

Untuk foto-foto lebih lengkap, silakan klik disini.