Just another alif site

Siapa yang tak kenal dengan Boaz Salosa, striker Persipura sekaligus timnas Indonesia. Gocekan kaki Boaz selalu membuat penonton berdecak kagum. Tapi tulisan ini bukan membahas tentang kehebatan Boaz mengolah bola. Yang akan saya tulis adalah kota kelahiran Boaz, yaitu Sorong, ibukota provinsi Papua Barat. Ini merupakan kedua kalinya saya menginjakkan kaki di bumi Papua setelah yang pertama kali sekitar akhir tahun 2007 di Timika. Untuk mencapai sini, saya pergi dengan menggunakan Lion Air selama 5 jam dari Jakarta ke Ambon, kemudian dilanjutkan dengan naik pesawat baling-baling ATR-72 milik Wings Air dari Ambon ke Sorong selama 30 menit. Domine Eduard Osok, merupakan nama pahlawan asal Papua yang dijadikan nama bandara di Sorong dengan kode SOQ ini. Tadinya bandara di Sorong terletak di Pulau Jefman yang terletak tak jauh dari Pelabuhan Sorong, dulunya setelah dari bandara, kita harus naik perahu dulu sebelum mencapai kota Sorong. Dengan adanya bandara SOQ ini, pesawat sekelas Boeing 737 bisa mendarat disini. Kehadiran bandara SOQ sangat penting mengingat Sorong menjadi pintu gerbang bagi wisatawan yang hendak mengunjungi Raja Ampat. Kedatangan ke bumi Papua kali ini terasa istimewa dengan sambutan tarian pemuda Papua.

Sambutan pemuda-pemudi Papua

Terdapat banyak pilihan untuk tempat menginap di Sorong. Yang paling terkenal adalah hotel Royal Mamberamo karena hotel ini yang paling bagus dan bersih menurut saya. Untuk yang murah, kita bisa mencari di sekitar pantai Tembok.
Pantai Tembok merupakan area publik tempat nongkrong warga Sorong. Di pantai ini banyak rumput laut yang berserakan di tepi pantai. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem laut di Sorong masih sehat, sayang belum tergarap maksimal. Pantai tembok menjadi lokasi yang cocok untuk menikmati sunset. Kapal bertonase besar terkadang melintasi kawasan pantai ini, karena memang terdapat pelabuhan milik Pelindo II di Sorong. Kabarnya pelabuhan Sorong akan dibangun menjadi pelabuhan yang paling besar di Indonesia Timur, karena memang lokasinya cocok dijadikan sebagai pelabuhan hub untuk pelayaran dengan rute samudra Pasifik.


Setelah menyusuri Pantai Tembok, kami mengisi perut di Restoran Sunset, dimana disini merupakan tempat yang paling oke untuk menyantap hidangan seafood sambil menikmati sunset. Buat yang hobi nyanyi, restoran ini juga dilengkapi dengan beberapa ruangan karaoke. Dari pinggir restoran, kita bisa melihat atraksi menarik berupa serombongan ikan-ikan kecil yang berjumlah puluhan, dimana rombongan ikan ini sangat kompak dalam menentukan arah berenang. Kami pun mencoba untuk melempar potongan kecil makanan untuk menarik perhatian rombongan ikan ini.

Untuk berkeliling kota Sorong, kita bisa menggunakan taxi. Tapi jangan salah, disini kata Taxi digunakan untuk menyebut kendaraan umum yang lazim kita panggil angkot. Susunan bangku taxi sorong berbeda dengan angkot di Jawa pada umumnya. Susunan bangku penumpang taxi sorong menghadap ke depan semuanya.

Penduduk Sorong sangat ramah terhadap para pendatang. Ini kami buktikan ketika kami berkeliling kota dengan taxi, semua orang akan menjawab dengan ramah dan jujur apabila kami bertanya. Kami pun sempat membeli minuman kelapa muda, harganya cukup murah tanpa di mark up walaupun kami terlihat seperti wisatawan, yaitu 5rb. Kami pun mencoba kebiasaan khas rakyat Papua untuk mengunyah pinang dan kapur sirih. Seikatnya cuma 2 ribu. Baru 1 gigitan, lansung kapok, pahit banget rasanya :p

Batik rupanya telah menjadi bagian dari semua wilayah Indonesia, tak terkecuali di Sorong ini. Disini terdapat toko yang menjual Batik Papua, yaitu batik dengan motif-motif berbau Papua seperti burung Cendrawasih, patung suku asmat, honai, dsb. Setelah ditelusuri, rupanya batik-batik ini tetaplah berasal dari Jawa Tengah.  Di toko ini menjual batik dalam bentuk kain maupun pakaian jadi.

Well, walaupun magnet kedatangan kami kesini adalah Raja Ampat, tapi Sorong juga sebenarnya tidak kalah menarik untuk jalan-jalan. Keramahtamahan dan kedamaian penduduk Sorong yang terdiri dari penduduk asli (suku Moi), maupun suku-suku Papua pendatang yang lain, dan juga pendatang dari Maluku dan Jawa membuat kami masih yakin, bahwa masih ada damai di Indonesia.

Comments on: "Sorong, Gerbang Menuju Raja Ampat" (4)

  1. wah kpn ya bisa sampe sana…?
    ke pulau cendrawasih, motret underwater di raja ampat…

  2. salam kenal dr sy daus anak sorong.sungguh sy menyukai tulisan anda,yg telah mempromosikan sorong city yg tercinta.

  3. z3nd3rink said:

    wow…sorong
    I LOVE Sorong
    walau gua gak lahir di sorong tp semnjak gua dtng ke sorong smpe akhirnya nikah dan usaha di sorong… /kiss
    tetep sorong is the best bagi gua..
    tq buat yg nulis ulasan ini ^_^

  4. Bagus Wira said:

    Nice journey🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: