Just another alif site

Archive for February, 2012

Steakhotel by HolyCow!

Holycow! Nama ini begitu terkenal setahun belakangan ini di kalangan pecinta steak di Jakarta. Konon kabarnya ada teman yang sampai antri 1,5 jam demi menyantap steak disini. Kabarnya daging wagyu yang disajikan disini sangat enak seperti sajian di hotel, tapi dengan harga kaki lima.
Ok, segera kami meluncur ke Jalan Radio Dalam Jakarta Selatan. Kami pun melambatkan mobil untuk mencari Holycow di pinggir jalan sebelah kanan apabila kita datang dari arah PIM. Neon sign warna merah menandakan lokasi Holycow, hanya saja letak neon sign nya tidak terlalu tinggi, karena Holycow sendiri merupakan warung kaki lima di depan sebuah ruko. Tendanya yang berwarna merah, dengan tulisan “Hello Carnivores!”, seakan menyapa kami. Tidak banyak meja yang disediakan karena memang lokasi usahanya juga tidak terlalu besar. Beruntung kami tidak perlu masuk waiting list karena ada meja kosong saat kami datang. Tanpa perlu terlalu lama mempelajari daftar menu, kami segera memesan steak Wagyu Rib Eye dengan tingkat kematangan medium seharga IDR 98rb. Untuk minum disediakan pilihan ice tea seharga IDR 13,5rb dengan opsi dapat di-refill.

Holycow Steak di Jalan Radio Dalam

Dengan meja yang tidak terlalu banyak, membuat pelayanan Holycow optimal. Waktu tunggu sampai pesanan datang cukup cepat, sekitar 15 menit. Hm, sajian di piring cukup sederhana: steak, french fries, bayam, saos. Sederhana apabila dibandingkan dengan sajian steak di restoran besar yang biasanya menyajikan banyak varian sayur seperti kacang panjang, wortel, dll. Tapi sepertinya memang makan steak intinya ya daging steak! Tanpa perlu dipusingkan dengan bermacam sayuran yang mungkin sebagian orang tidak suka. Bagi kami, sajian piring Holycow ini sederhana tapi cerdas.
Tanpa banyak omong, kami segera memotong daging dan menyantap. Daging yang lembut, membuat kita tidak perlu banyak tenaga untuk memotong. Mengunyah daging wagyu pun juga sangat bersahabat buat gigi kita. Semua bagian daging yang disajikan di piring ini sangat lembut, gigi kita pun tidak bekerja terlalu keras untuk mengunyah, sehingga mulut kita pun dapat berkonsentrasi dalam merasakan kegurihan daging ditambah saus blackpepper.

Wagyu Rib Eye

Tanpa terasa, hanya beberapa menit saja piring sudah bersih. Rupanya saking enaknya, kami sibuk melahap tanpa banyak bicara. Holycow steak memang maknyus! Btw, buat yang tidak suka bawa uang cash terlalu banyak, tersedia EDC untuk membayar via debit BCA atau kartu kredit.

Maja House: Great City Light View, and Great Dining

Bandung memang gak ada matinya untuk urusan kuliner. Dengan kontur tanah di pegunungan, banyak bertebaran restoran-restoran dengan view kota Bandung dari atas. Kali ini tujuan makan malam kami adalah Maja House yang terletak di Jalan Sersan Bajuri no 72.
Konsep interior restoran ini berbeda dengan beberapa restoran sejenis yang sering saya kunjungi seperti the Valley atau the Peak. Maja House terlihat lebih casual dan bangku-bangkunya cocok untuk nongkrong bareng dengan teman-teman. Bagian dalam restoran ini bisa juga dijadikan sebagai dance floor dengan menyingkirkan bangku-bangku nya keluar ruangan. Kayaknya memang pada malam tertentu tempat ini menjadi tempat dugem.

Maja House Bar and Resto

Kami pun memilih bagian luar restoran ini dimana bangkunya berbentuk kasur dengan meja kecil di sisi nya. Menu yang kami pesan adalah Buffalo Wings, Spaghetti Oglio Olio, Lasagna, Chicken Roll dengan dessert Chocolate Fondants with Vanilla Ice Cream.

our dining

Overall, menurut saya tempat ini boleh juga dikunjungi sebagai referensi tempat gaul alternatif. Arsitektur bangunan modern minimalis dengan interior yang bagus plus pemandangan city light kota Bandung menjadi sajian utama sebenarnya dari restoran ini, karena untuk urusan makanan saya kurang begitu menemukan keistimewaan jika dibandingkan dengan harga makanan yang dipatok. Mungkin karena lidah saya kurang cocok dengan makanan yang berbau eropa. Karena menurut @dhinidounsky dan @dinurrahma makanannya enak… Ya selera orang memang relatif šŸ™‚

Meriahnya Perayaan Cap Go Meh

Cap Go Meh merupakan penutupan perayaan tahun baru China, dimana biasanya dirayakan pada hari ke 15 setelah Imlek. Perayaan ini hampir merata diadakan di berbagai kota di Indonesia, kabarnya paling meriah adalah di kota Singkawang. Untuk kita warga Jakarta yang ingin ikut merasakan kemeriahan ini, kita bisa datang ke beberapa vihara yang ada di Jakarta. Salah satunya adalah Vihara Toa Se Bio di Jalan Kemenangan III di daerah Glodok, yang merupakan Vihara tertua di Jakarta karena konon telah berdiri sejak abad ke-15.
Sebenarnya pengalaman yang saya ceritakan di tulisan ini adalah pengalaman lama di tahun 2007. Berbekal informasi dari sebuah milis, saya berangkat ke daerah Glodok dengan menggunakan busway. Setibanya disana, ratusan orang dengan berbagai latar belakang usia, suku, dan agama telah bercampur baur di tepi jalan Hayam Wuruk. Rupanya kedatangan saya pas, karena arak-arakan belum dimulai. Rute arak-arakan dimulai dari Vihara Toa Se Bio menuju jalan Mangga, Pancoran, Toko Tiga, dan kembali lagi ke Jalan Kemenangan III.

Arak-arakan ini diisi oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari drum band, komunitas sepeda onthel, atraksi tatung, dan yang pasti adalah atraksi barongsai dan tarian naga. Beberapa warga keturunan China memberikan angpao kepada penari Barongsai agar dibukakan pintu rejeki.

memberikan angpao ke barongsai

Berbagai patung dewa-dewi juga diarak. Bagi saya yang bukan beragam Budha, yang saya kenali tentu saja patung dewi Kwan Im yang merupakan dewi welas asih. Dan yang terpenting dalam acara Cap Go Meh ini adalah mengangkatĀ  Toa Pekong, yang merupakan perwujudan permohonan umat agar dihindarkan dari segala malapetaka.

menggotong patung Toa Pekong

Suasana di Vihara Toa Se Bio tak kalah ramai nya dengan di jalanan. Bau dupa menjadi tercium walaupun kita masih di halaman Vihara. Di sepanjang pintu masuk, berjejer para pengemis yang mengharapkan angpao dari para pengunjung Vihara. Terdorong rasa keingin tahuan akan isi Vihara, saya pun memberanikan diri untuk melangkahkan kaki masuk ke dalam Vihara. Salah satu patung yang saya lihat adalah patung Cheng Goan Cheng Kun, konon beliau merupakan utusan dari Dinasti Chin yang namanya kemudian dijadikan nama resmi Vihara ini. Entah kenapa nama Toa Se Bio yang sering kita dengar sebagai nama Vihara ini, mungkin karena nama Cheng Goan Cheng Kun terlalu susah untuk dilafalkan.

Vihara Cheng Goan Cheng Kun

Perayaan Cap Go Meh ini sudah selayaknya masuk dalam kalender pariwisata Jakarta. Hal ini menguatkan bahwa Indonesia merupakan negeri yang multi etnis dan multi kultural, dimana hal ini bisa mengangkat citra Indonesia sebagai negara yang penuh toleransi. Untuk foto-foto lebih lengkap, silakan klik disini.

Temple of Heaven: Kuil Sembahyang Agar Masa Panen Lancar

Temple of Heaven adalah kompleks kuil Taoist seluasĀ 2,73 kmĀ², yang berlokasi di tenggara kota Beijing. Kuil ini dipergunakan oleh para kaisar dari dinasti Ming dan Qing untuk upacara tahunan agar mendapat hasil panen yang bagus.
Kuil ini dibangun pada 1406 sampai 1420 oleh kaisar Yongle, dan sempat direnovasi oleh kaisar Qianlong pada abad ke 18. Bangunan ini ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1998.

Temple of Heaven

Kompleks kuil ini tidak hanya ramai dikunjungi oleh para turis saja, tetapi juga ramai oleh para warga Beijing sendiri. Kehadiran taman tematik yang luas di kompleks ini menjadi oase bagi masyarakat Beijing yang jenuh dengan hutan beton yang semakin menjadi di kota Beijing. Masyarakat Beijing yang kesini rata-rata adalah kaum lansia, dimana mereka menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama, main catur, ataupun melakukan atraksi kesenian seperti melukis kaligrafi.

street art performance at Temple of Heaven