Just another alif site

Archive for July, 2012

PTS 100 , si Vespa imut

Kali ini saya akan membahas tentang salah satu kendaraan roda dua favorit saya, yaitu Vespa PTS 100. Kenapa saya bilang Vespa imut, hal ini dikarenakan bodi nya yang memang kecil, di luar negeri Vespa semacam ini disebut Vespa Smallframe. Awal kali kenal dengan Vespa Smallframe adalah ketika guru Bahasa Jerman saya dulu di SMA 5 Surabaya memakai PTS 90. Bisa dibilang itulah pertama kali saya jatuh cinta dengan Vespa. Sayang karena agak susah mencari Vespa Smallframe, akhirnya waktu itu saya menjatuhkan pilihan ke Vespa Super 150.

PTS 100 merupakan produk PT Dan Motor Indonesia yang mendapatkan license pembuatan dari Piaggio Italia. Dia punya saudara kembar tapi tak serupa, yaitu PTS 90. Angka yang tertulis merepresentasikan besar kubikasi mesin. Secara kasat mata, yang membedakan kedua jenis Vespa ini adalah emblem. Pada PTS 100 terdapat emblem “100 special” diatas taillamp, dan emblem “P 100 TS” di box bagasi kiri. Selain itu, speedometer PTS 100 mencapai angka 120 km/h. Cuma ya jangan harap bisa memacu PTS 100 sampai kecepatan segitu, buat saya PTS 100 cocok buat jalan santai, menikmati jalanan kota Gresik yang lenggang, dengan sensasi getaran dari mesin 2 tak yang diasupi oleh karburator Dell Orto 19. Untung setiap kali pulang kampung ke Gresik, ada saudara yang dengan senang hati meminjamkan PTS 100 nya ke saya. Sehingga saya pun bisa memadu kasih dengan cinta pertama saya.

Summer Palace: Istana Musim Panasnya Kaisar China

Summer Palace merupakan istana yang berada di bagian utara kota Beijing. Dengan luas area 2,9 Km persegi, kompleks istana ini terdiri dari 2 bagian, yaitu danau Kunming dan Bukit Panjang Umur. Uniknya danau Kunming merupakan danau buatan, hasil tanah pengerukan danau ini ditimbun untuk dijadikan Bukit Panjang Umur.  Bangunan utama Summer Palace-nya sendiri terletak diatas Bukit Panjang Umur. Pada Desember 1998, tempat ini ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site.
Untuk menuju bangunan utama, kita akan melewati koridor yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan yang menceritakan dongeng masyarakat China. Ada tentang kisah perang 3 kingdom, hingga cerita tentang Monkey King yang menemani biksu Tong ke barat dalam perjalanan mencari kitab suci.


Danau Kunming juga dilengkapi dengan perahu naga untuk para pengunjung. Jadi buat pengunjung yang gak mau capek-capek mengitari kompleks Summer Palace, bisa naik perahu ini. Tapi jika ingin sedikit olahraga, pengunung juga bisa berjalan kaki memutari danau Kunming atau lewat jembatan seventeen arch.


Summer Palace hanya dibuka untuk periode tertentu. Jadi biar gak kecewa kalau kamu udah kadung kesini ternyata tutup, ada baiknya cek dulu web nya di http://www.ebeijing.gov.cn/Travel/Sightseeing/Summer_Palace/ .

5 Tips Kenalan dengan Cewek di KRL

Kehidupan sebagai perantau yang tinggal di pinggiran Jakarta memiliki banyak cerita tersendiri. Karena Jakarta macet nya dah gak waras, saya pun mencoba untuk berpikir waras dengan mengandalkan KRL sebagai moda transportasi harian.
Sebenarnya ada motif lain sih, ternyata peminat KRL lumayan banyak yang cakep. Well, sekarang saya sudah menikah. Jadi tips ini sudah tidak berguna untuk saya. Jadi ada baiknya saya tulis di blog ini untuk teman-teman yang masih belum beruntung dalam perihal jodoh. Berikut akan saya jabarin tips-tips untuk mendapatkan kenalan di KRL:

  1. Be patient… Kebiasaan penumpang kereta selalu naik pada jadwal dan gerbong favoritnya. Kalau memang situasi dan kondisi tidak memungkinkan, jangan terlalu memaksakan untuk kenalan pada saat itu juga. Terlebih kalau keberanian untuk berkenalan belum ada. Siapkan mental mu untuk memulai kisah dengan cewek incaranmu ini. Selalu akan datang kesempatan untuk bertemu dengan cewek ini.
  2. Be a gentleman, berilah tempat duduk kamu kepada cewek yang ingin kamu ajak kenalan. Tapi ingat, jangan lansung ajak kenalan. Ikuti cewek tersebut sampai turun di stasiun yang dia tuju. Baru mulai buka percakapan. Eh, kita turunnya sama yah. Kenalin nama gw ….
  3. Jika kamu sendiri ga dapat tempat duduk, at least usahakan jarak berdiri kalian ga jauh. Berhubung di KRL tidak ada informasi kereta sedang berhenti di stasiun apa, mungkin pertanyaan simple ini bisa digunakan sebagai pick up line “ini dah sampai stasiun mana ya?” . Kalau pick up line dibalas dengan hangat, maka langkah selanjutnya sama dengan poin ke-2, turun di stasiun yang sama dengan si doi, lanjut deh ke perkenalan.
  4. Kenali juga stasiun tempat dia biasa naik kereta. Seperti kita tahu, KRL suka telat, jadi biasakan untuk berdiri menunggu dekat dia. Untuk mulai percakapan, mungkin bisa dengan bertanya “maaf mbak, ini yang mau lewat Commuter line atau ekonomi yah?” . Tapi ingat, jangan lansung minta kenalan. Terkadang cewe kurang suka kenalan dengan orang baru di stasiun, berhubung stasiun-stasiun di Jakarta memang kurang kondusif. Balik lagi ke poin pertama, be patient!
  5. Pada poin ini, saya anggap kamu sudah kenalan dengan cewe ini. Tapi perkenalan kalian hanya sebatas perkenalan singkat, tanpa kelanjutan. Nyali kamu pun juga masih ciut untuk kembali melakukan pembicaraan yang lebih dalam karena banyak orang di stasiun ataupun dalam gerbong. Apabila ada gangguan, sehingga perjalanan KRL jadi terganggu, jangan cepat mengumpat. Mungkin kesempatan ini merupakan jawaban untuk memulai percakapan lebih lanjut. Dengan asumsi kamu sudah tahu stasiun tujuannya, coba tawarin ke dia untuk naik taxi bareng. Dengan cara ini, selain kamu bisa punya banyak waktu untuk ngobrol, kamu juga bisa tahu alamat rumah dia.

Kira-kira sekian dulu tips dari saya. Apabila tips diatas gak berhasil untuk kamu, ya jangan salahin saya yah… Mungkin emang belom jodohnya =p
Dan ingat, sebelum ajak kenalan, perhatikan apakah ada cincin di jarinya. Jangan sampai kamu ngajak kenalan padahal ada suaminya di sebelahnya. Kalau hal ini terjadi, siap-siap pindah jadwal naik KRL, hehehe…

Keindahan Tersembunyi di Ujung Genteng

Pertama kali mendengar nama Ujung Genteng, dahi agak menyerngit karena nama nya yang unik. Setelah melakukan googling, ternyata itu adalah sebuah nama desa di selatan Sukabumi. Sudah 2x saya kesana, yaitu pada tahun 2009 dan 2010. Walaupun untuk menuju kesana memakan waktu yang cukup panjang, yaitu 7-8 jam, tapi selalu ada rasa kangen untuk kembali berkunjung.
Ujung Genteng mempunyai beberapa objek wisata menarik untuk para traveller. Jadi ada baiknya untuk membikin perencanaan yang matang sebelum berangkat kesini agar semua spot dapat tersambangi. Berikut daftar objek wisata di Ujung Genteng:
1. Curug Cikaso
Curug ini lokasinya paling depan apabila dibandingkan dengan objek wisata lain, sehingga biasanya tempat ini menjadi tempat yang pertama dikunjungi. Untuk mencapai Curug Cikaso, pengunjung akan naik perahu terlebih dahulu menyusuri sungai, ongkos sewa perahu ini adalah 75rb. Tapi menurut kabar dari teman yang kesini bulan lalu, sekarang sudah ada jalan setapak dari parkiran mobil ke lokasi curug sehingga tidak perlu lagi untuk menyewa perahu.


2. Curug Cigangsa
Lokasi curug ini baru saya ketahui ketika kunjungan saya yang kedua kali nya di Ujung Genteng. Untuk mencapai lokasi curug Cigangsa, kita perlu trekking dulu menyusuri persawahan. Uniknya apabila kita sampai di lokasi curug ini, kita akan berada di bibir atas curug ini. Jadi apabila kita ingin mengabadikan Curug ini keseluruhan, kita masih harus trekking menuruni curug lewat samping.


3. Pantai Pangumbahan
Inilah pantai yang menjadi trademark Ujung Genteng. Karena disini terdapat penangkaran penyu. Disini pengunjung bisa berkesempatan untuk melepaskan tukiki (anak penyu) untuk dikembalikan ke habitatnya, yaitu ke laut lepas. Biasanya setelah menikmati sunset, pengunjung akan datang pada malam harinya lagi untuk menyaksikan penyu betina bertelur. Untuk pergi kesini, bisa menggunakan mobil dengan menyusuri pantai Ujung Genteng. Tapi siap-siap aja menerjang genangan air yang cukup tinggi apabila air pasang datang di perjalanan menuju kesini.


4. Pantai Cipanarikan.
Garis pantai yang panjang dan pasir putih yang halus seakan memanjakan kita untuk bermain pasir ataupun bermain dengan ombak. Pantai Cipanarikan merupakan lokasi yang pas untuk mengabadikan momen sunset. Pantai ini merupakan terusan Pantai Pangumbahan. Hanya saja karena akses yang sulit, pengunjung harus menyewa ojek untuk pergi kesini.


5. Tanah Lot
Well, jujur saya gak tahu nama aslinya apa, tapi banyak pengunjung yang memberi nama tempat ini sebagai Tanah Lot, karena kemiripan bentuk dengan objek wisata tanah lot yang ada di Bali. Hanya saya, disini yang mirip batu karangnya, tanpa pura diatas batu karang tersebut. Tanah Lot terletak di dalam kompleks penginapan Amanda Ratu.


6. Pantai Aquarium
Pantai ini berair jernih dan tenang. Tapi berhubung banyak koral putih kecil-kecil, sehingga agak sakit apabila kita melangkahkan kaki di pantai ini.


7. Tempat Pelelangan ikan
Pergi ke pantai tak lengkap rasanya apabila tidak makan seafood. Jika ingin mendapatkan ikan yang masih segar dengan harga murah, datang saja ke pasar ikan. Dijamin puas deh beli ikan disini dengan harga yang murah.


8. Goa Lalay
Saran saya untuk kesini pake sandal jepit dan celana pendek aja biar gampang bersihin kaki. Karena terdapat genangan air yang cukup tinggi di dalam goa ini. Kabarnya sih goa nya bisa tembus sampai ke pantai, tapi berhubung suasana gelap dan bau, kami tidak teruskan sampai ke pantai.


Sebenarnya masih banyak objek wisata yang ada di Ujung Genteng, misal Pantai Ombak 7 yang terkenal untuk tempat surfing. Tapi berhubung akses kesana juga susah, jadi saya juga belum pernah kesana, sehingga saya tidak share di tulisan ini.
Untuk penginapan di Ujung Genteng ada banyak pilihan. Dari hotel bagus seperti Amanda Ratu Resort (saya kurang rekomen karena rada mahal), sampai dengan penginapan yang dikelola masyarakat setempat seperti Pondok Adi atau Pondok Hexa. Kalau saya lebih milih untuk tinggal di Pondok Hexa, bisa nyewa 1 bungalow dengan isi 2 kamar tidur, dan dilengkapi juga dengan ruang tamu, semua kamar pun pake AC. Karena 1 kamar bisa diisi 3-4 orang, biaya menginap di Pondok Hexa tergolong sangat murah.

Dengan keberagaman objek wisata yang ditawarkan, Ujung Genteng telah menjadi primadona masyarakat Jakarta dan Jawa Barat untuk berlibur murah meriah. Total biaya yang biasa saya keluarkan untuk pergi kesini bersama teman-teman menghabiskan rata-rata 250rb-350rb per orang, tergantung pilihan tempat penginapan kita. Cukup murah bukan, ayo berkunjung ke Ujung Genteng!

Taman Safari Cisarua Bogor

Menyaksikan ribuan koleksi satwa dari dekat dengan konsep kebun binatang masa kini dimana satwa dilepas bebas seperti di habitat aslinya. Tidak hanya satwa endemik Indonesia tapi juga satwa langka dunia. Hal ini serasa melakukan perjalanan wisata di hutan belantara dunia, sambil menikmati keindahan panorama yang sejuk di lereng Gunung Pangrango.
Paragraf diatas merupakan tulisan yang tertera di brosur yang dibagikan ketika kita masuk ke Taman Safari. Well, sebenarnya acara pergi ke sini tidak direncanakan. Karena urusan di siang hari sudah beres, dan berhubung sudah cuti juga, maka kami putuskan pergi ke Taman Safari. Lagian lebih enak ke Taman Safari di hari kerja, karena apabila weekend pasti daerah Puncak macet baget.


Sesuai dengan deskripsi yang ada di brosur, kita bisa bertemu dengan berbagai macam hewan dari berbagai benua. Dari gajah sumatra, sampai dengan singa afrika. Semua hewan-hewan tersebut dikelompokkan dalam berbagai zona. Untuk binatang buas, terdapat pemisah berupa pagar tinggi, sehingga apabila kita hendak masuk ke zona tersebut, kita harus memberhentikan mobil terlebih dahulu, menunggu pintu gerbang untuk dibuka.

Sebaiknya memang datang pagi untuk kesini, karena banyak wahana dan show yang dapat kita nikmati di dalam taman safari. Untuk menikmati show nya, kita harus mencermati jadwal yang ada di brosur. Sayang karena kami datangnya sudah agak sorean, jadi hanya bisa menyaksikan Elephant Show. Harga tiket masuk yang mahal ( 100 ribu per orang dan 15 ribu per mobil ), menjadi terasa murah apabila dibandingkan dengan banyaknya free show yang seharusnya bisa kami tonton. Sedangkan untuk wahana permainan, terdapat biaya tambahan.

Ok gpp, next time harus spare time yang cukup untuk berkunjung kesini. Lagian Taman Safari juga tidak terlalu jauh dari Jakarta. Apalagi ternyata ada penginapan bergaya caravan di dalam kompleks Taman Safari, sepertinya patut dicoba untuk merasakan tidur di dalam caravan, seperti di film-film barat =D

Setelah melihat hewan-hewan di Taman Safari dan sesekali memberikan makanan ke hewan-hewan tersebut, giliran perut kami yang perlu diberikan makanan. Hm, sepertinya mampir di restoran Cimory menjadi pilihan yang oke. Jadi sebelum masuk tol, kami mampir dulu untuk dinner di Cimory. Cisarua Mountain Dairy merupakan nama lengkap dari perusahaan yang punya restoran dan bisnis yoghurt ini. Di restoran tersebut kita juga bisa melihat pabrik yoghurt yang biasa kami beli di minimarket.  Di pintu keluar restoran terdapat toko oleh-oleh, rasanya mata kembali digoda untuk membeli makanan kecil untuk teman-teman kantor. Jadi banyak pengeluaran deh di hari cuti ini. Tapi gpp, yang penting hati senang =) Untuk foto-foto lebih lengkap, silahkan klik disini.

Roadtrip ke Desa Sawarna

Cuaca cerah akhir-akhir ini memang harus dimanfaatkan untuk bikin trip ke Pantai. Lewat sebuah diskusi kecil, akhirnya terpilihlah Desa Sawarna sebagai destinasi liburan team Purapala kali ini. Desa Sawarna merupakan sebuah desa kecil di daerah Bayah-Lebak, Banten. Untuk menuju kesana, kami melalui rute Jakarta-Tol Jagorawi-Ciawi-Cibadak-Cikidang-Pelabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna. Karena minimnya petunjuk jalan akan keberadaan desa Sawarna, kami sempat kebablasan ke Malingping.
Perjalanan dari Jakarta dimulai jam 3:30  sabtu dini hari, agak telat dari jadwal karena kami harus mengantarkan Rani pulang ke rumahnya di Harapan Indah karena badannya panas, alhasil peserta trip kali ini yang tadi nya 7 orang berkurang menjadi 6 orang. Selama perjalanan kami beberapa kali berhenti, Pit stop pertama kami di Rest Area Cibubur untuk beli bensin+cemilan, Pit stop kedua di Cikidang untuk sholat Subuh, Pit Stop ketiga di Pantai Karanghawu (Pelabuhan Ratu) untuk sarapan bubur.

Kami juga sempat berhenti untuk foto-foto di Perkebunan Karet. Dan ternyata sebenarnya desa Sawarna sudah dekat dari perkebunan karet ini, tapi karena kami kebablasan, kami baru sampai di penginapan jam 11 siang. Jadi nanti patokannya kalau sudah nurunin bukit perkebunan karet, lihat aja sebelah kiri ada belokan dan terdapat papan di sebelah jalan bergambar Batu Tanjung Layar.


Kami menginap di Cariang Resort. Walaupun nama nya pake Resort, tapi jangan bayangkan penginapan ini seperti  penginapan mewah kayak di Bali. Cariang resort hanya penginapan sederhana dengan tarif 150rb/ orang, sudah termasuk biaya makan 3x. Walau sederhana, tapi buat kami sudah cukup buat tempat istirahat. Apalagi makanan yang disajikan pun sangat enak. Dengan pemandangan sawah dan pantai, hidup terasa tenang dan damai. Penginapan ini sudah dilengkapi dengan AC, tapi karena listrik di desa Sawarna kurang stabil, AC nya sering mati karena voltase nya naik turun.


Setelah makan siang, kami pun memulai petualangan ke Goa Langir. Dari penginapan, kami berjalan kaki menyusuri sawah, peternakan kambing, perkampungan warga. Goa Langir tidaklah terlalu besar, jadi kami juga tidak terlalu lama disini.

Pantai berpasir putih yang ada di depan Goa sangat menggoda kami untuk segera bermain ke pantai. Langit tampak biru sempurna, tanpa awan sedikit pun. Walaupun hari begitu cerah, tetapi anehnya kami tidak merasakan kepanasan. Angin yang berhembus sepoi-sepoi terasa nyaman, kami merasakan kebebasan dari polusi yang selama ini menjadi musuh setia di Jakarta. Puas bermain-main dan berfoto-foto di pantai, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat, menikmati minum kelapa dan main kartu.


Waktu menunjukkan jam 16.30, kami pun bergegas untuk mengejar sunset di Pantai Tanjung Layar. Untuk menuju kesini kami naik mobil selama 5 menit, dilanjut dengan jalan kaki selama 15 menit. Turun dari mobil, kami harus melewati jembatan gantung yang lumayan bikin jantung deg-degan karena jembatannya goyang ke kanan dan ke kiri. Untuk naik jembatan ini, kami harus membayar retribusi 2000 rupiah. Hamparan pasir putih luas pantai Ciantir menjadi sajian awal, ombak yang bersahabat menjadi arena bagi sebagian orang yang memang udah niat main basah-basahan. Untuk yang gak mau basah, ada yang bermain voli, ada juga yang bermain sepakbola, yang suka foto-foto pun lansung berlomba mencet tombol shutter.


Ketika matahari sudah mulai beranjak turun lagi, kami meneruskan berjalan kaki ke Pantai Tanjung Layar, sebuah Pantai yang dikelilingi karang dan terdapat 2 buah batu yang sangat besar berbentuk seperti layar. Suasana di Pantai Tanjung Layar ini kurang begitu menyenangkan karena kami berbarengan dengan sebuah rombongan besar anak muda yang lagi hunting foto rame-rame. Selepas matahari terbenam, kamipun kembali ke penginapan untuk makan malam dan istirahat.


Menurut jadwal, jam 4 pagi kami harus sudah bangun pagi untuk memulai trekking mencari sunrise. Tapi jadwal pun molor, sehingga kami pun baru berangkat jam 5. Perjalanan pagi buta ini diawali naik mobil sekitar 5 menit. Selepas parkir mobil, lagi-lagi kami harus melewati jembatan gantung yang agak mirip dengan jembatan yang kemaren sore kami lewati. Trekking menuju sunrise point lumayan menguras energi karena jalanan yang kami lewati berbatu-batu dan medan yang naik turun. Yah, hitung-hitung olahraga pagi =) Untung kami datang tepat pada waktunya, sunrise yang menjadi tujuan kami trekking kesini baru saja dimulai. Lansung kami sibuk mencari spot foto masing-masing untuk mengabadikan sunrise di Lagoon Pari.

Setelah matahari naik sempurna, kami bersantai sejenak di satu-satunya warung yang ada disitu sambil minum teh manis hangat dan indomie rebus untuk mengisi perut. Setelah perut terisi barulah kami lanjut jalan ke bagian pantai Lagoon Pari yang lain, dimana disini pasir putih yang lebih lembut menjadi spot yang pas untuk kembali berfoto-foto. Tak lupa kelapa muda menjadi menu wajib team Purapala.


Pantai Karang Taraje yang berada di sebelah Lagoon Pari, menjadi spot terakhir kami pagi ini. Pemandangan disini sungguh indah. Ombak-ombak besar khas pantai Selatan Jawa menjadi suguhan menarik ketika bertabrakan dengan batu karang. Apalagi tidak banyak orang yang kesini, sehingga kami bisa puas mengabadikan keindahan landscape Karang Taraje.


Kami pun berangkat pulang ke jakarta sekitar jam 12:30. Rasanya belum rela untuk meninggalkan desa Sawarna yang indah ini. Potensi keindahan pantai yang dimiliki desa Sawarna ini bisa diadu dengan Pantai-pantai di Bali. Sayang sepertinya pemerintah daerah setempat belum serius menggarap potensi pariwisata disini. Jalan yang rusak tanpa petunjuk arah yang jelas, dan kurang baiknya kualitas listrik di desa Sawarna perlu untuk segera diperbaiki. Walaupun di satu sisi, sebenarnya saya malah menikmati suasana sepi desa ini. Semoga apabila desa Sawarna sukses dikomersialkan dan ramai oleh pengujung, alam desa Sawarna masih dapat tetap terjaga. Untuk melihat foto-foto lebih lengkap, silahkan klik disini.