Just another alif site

Cuaca cerah akhir-akhir ini memang harus dimanfaatkan untuk bikin trip ke Pantai. Lewat sebuah diskusi kecil, akhirnya terpilihlah Desa Sawarna sebagai destinasi liburan team Purapala kali ini. Desa Sawarna merupakan sebuah desa kecil di daerah Bayah-Lebak, Banten. Untuk menuju kesana, kami melalui rute Jakarta-Tol Jagorawi-Ciawi-Cibadak-Cikidang-Pelabuhan Ratu-Cisolok-Sawarna. Karena minimnya petunjuk jalan akan keberadaan desa Sawarna, kami sempat kebablasan ke Malingping.
Perjalanan dari Jakarta dimulai jam 3:30  sabtu dini hari, agak telat dari jadwal karena kami harus mengantarkan Rani pulang ke rumahnya di Harapan Indah karena badannya panas, alhasil peserta trip kali ini yang tadi nya 7 orang berkurang menjadi 6 orang. Selama perjalanan kami beberapa kali berhenti, Pit stop pertama kami di Rest Area Cibubur untuk beli bensin+cemilan, Pit stop kedua di Cikidang untuk sholat Subuh, Pit Stop ketiga di Pantai Karanghawu (Pelabuhan Ratu) untuk sarapan bubur.

Kami juga sempat berhenti untuk foto-foto di Perkebunan Karet. Dan ternyata sebenarnya desa Sawarna sudah dekat dari perkebunan karet ini, tapi karena kami kebablasan, kami baru sampai di penginapan jam 11 siang. Jadi nanti patokannya kalau sudah nurunin bukit perkebunan karet, lihat aja sebelah kiri ada belokan dan terdapat papan di sebelah jalan bergambar Batu Tanjung Layar.


Kami menginap di Cariang Resort. Walaupun nama nya pake Resort, tapi jangan bayangkan penginapan ini seperti  penginapan mewah kayak di Bali. Cariang resort hanya penginapan sederhana dengan tarif 150rb/ orang, sudah termasuk biaya makan 3x. Walau sederhana, tapi buat kami sudah cukup buat tempat istirahat. Apalagi makanan yang disajikan pun sangat enak. Dengan pemandangan sawah dan pantai, hidup terasa tenang dan damai. Penginapan ini sudah dilengkapi dengan AC, tapi karena listrik di desa Sawarna kurang stabil, AC nya sering mati karena voltase nya naik turun.


Setelah makan siang, kami pun memulai petualangan ke Goa Langir. Dari penginapan, kami berjalan kaki menyusuri sawah, peternakan kambing, perkampungan warga. Goa Langir tidaklah terlalu besar, jadi kami juga tidak terlalu lama disini.

Pantai berpasir putih yang ada di depan Goa sangat menggoda kami untuk segera bermain ke pantai. Langit tampak biru sempurna, tanpa awan sedikit pun. Walaupun hari begitu cerah, tetapi anehnya kami tidak merasakan kepanasan. Angin yang berhembus sepoi-sepoi terasa nyaman, kami merasakan kebebasan dari polusi yang selama ini menjadi musuh setia di Jakarta. Puas bermain-main dan berfoto-foto di pantai, kami pun kembali ke penginapan untuk istirahat, menikmati minum kelapa dan main kartu.


Waktu menunjukkan jam 16.30, kami pun bergegas untuk mengejar sunset di Pantai Tanjung Layar. Untuk menuju kesini kami naik mobil selama 5 menit, dilanjut dengan jalan kaki selama 15 menit. Turun dari mobil, kami harus melewati jembatan gantung yang lumayan bikin jantung deg-degan karena jembatannya goyang ke kanan dan ke kiri. Untuk naik jembatan ini, kami harus membayar retribusi 2000 rupiah. Hamparan pasir putih luas pantai Ciantir menjadi sajian awal, ombak yang bersahabat menjadi arena bagi sebagian orang yang memang udah niat main basah-basahan. Untuk yang gak mau basah, ada yang bermain voli, ada juga yang bermain sepakbola, yang suka foto-foto pun lansung berlomba mencet tombol shutter.


Ketika matahari sudah mulai beranjak turun lagi, kami meneruskan berjalan kaki ke Pantai Tanjung Layar, sebuah Pantai yang dikelilingi karang dan terdapat 2 buah batu yang sangat besar berbentuk seperti layar. Suasana di Pantai Tanjung Layar ini kurang begitu menyenangkan karena kami berbarengan dengan sebuah rombongan besar anak muda yang lagi hunting foto rame-rame. Selepas matahari terbenam, kamipun kembali ke penginapan untuk makan malam dan istirahat.


Menurut jadwal, jam 4 pagi kami harus sudah bangun pagi untuk memulai trekking mencari sunrise. Tapi jadwal pun molor, sehingga kami pun baru berangkat jam 5. Perjalanan pagi buta ini diawali naik mobil sekitar 5 menit. Selepas parkir mobil, lagi-lagi kami harus melewati jembatan gantung yang agak mirip dengan jembatan yang kemaren sore kami lewati. Trekking menuju sunrise point lumayan menguras energi karena jalanan yang kami lewati berbatu-batu dan medan yang naik turun. Yah, hitung-hitung olahraga pagi =) Untung kami datang tepat pada waktunya, sunrise yang menjadi tujuan kami trekking kesini baru saja dimulai. Lansung kami sibuk mencari spot foto masing-masing untuk mengabadikan sunrise di Lagoon Pari.

Setelah matahari naik sempurna, kami bersantai sejenak di satu-satunya warung yang ada disitu sambil minum teh manis hangat dan indomie rebus untuk mengisi perut. Setelah perut terisi barulah kami lanjut jalan ke bagian pantai Lagoon Pari yang lain, dimana disini pasir putih yang lebih lembut menjadi spot yang pas untuk kembali berfoto-foto. Tak lupa kelapa muda menjadi menu wajib team Purapala.


Pantai Karang Taraje yang berada di sebelah Lagoon Pari, menjadi spot terakhir kami pagi ini. Pemandangan disini sungguh indah. Ombak-ombak besar khas pantai Selatan Jawa menjadi suguhan menarik ketika bertabrakan dengan batu karang. Apalagi tidak banyak orang yang kesini, sehingga kami bisa puas mengabadikan keindahan landscape Karang Taraje.


Kami pun berangkat pulang ke jakarta sekitar jam 12:30. Rasanya belum rela untuk meninggalkan desa Sawarna yang indah ini. Potensi keindahan pantai yang dimiliki desa Sawarna ini bisa diadu dengan Pantai-pantai di Bali. Sayang sepertinya pemerintah daerah setempat belum serius menggarap potensi pariwisata disini. Jalan yang rusak tanpa petunjuk arah yang jelas, dan kurang baiknya kualitas listrik di desa Sawarna perlu untuk segera diperbaiki. Walaupun di satu sisi, sebenarnya saya malah menikmati suasana sepi desa ini. Semoga apabila desa Sawarna sukses dikomersialkan dan ramai oleh pengujung, alam desa Sawarna masih dapat tetap terjaga. Untuk melihat foto-foto lebih lengkap, silahkan klik disini.

Comments on: "Roadtrip ke Desa Sawarna" (4)

  1. hai, boleh tau CP cariang resort???

  2. Adi Nugroho said:

    Menuju Desa Sawarna bisa pakai mobil pribadi ya? Ga perlu nitip mobil di mana gitu trus sambung pakai jeep kan?

    • bisa banget pake mobil pribadi…disini malah ga perlu pake jeep. paling kalau males jalan kaki menyusuri pantai, tinggal pake ojek aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: