Just another alif site

Archive for August, 2012

Pesona Pantai Kuta, Lombok Selatan

Setelah puas menjelajahi Gili Trawangan, kami melanjutkan perjalanan ke bagian Selatan Pulau Lombok. Dari Pelabuhan Teluk Kodek, kami naik taxi Blue Bird ke bagian Selatan Pulau. Bukannya sok kaya naik taxi, tapi emang gak ada angkutan umum bok! Kalau pergi nya rombongan mungkin masih bisa urunan untuk nyarter Elf, tapi berhubung kami cuma berdua, naik taxi merupakan pilihan yang paling rasional.
Kami sempat berhenti sejenak di tengah jalan untuk melihat kemolekan Pantai Senggigi, pantai yang pertama kali dikomersialkan di Lombok. Tapi kalau dibandingkan dengan Pantai di Gili Trawangan ya masih kalah jauhlah, hehehe…
Sopir taxi yang mengantarkan kami cukup komunikatif dalam menjelaskan Lombok. Termasuk menawarkan ke kami untuk berkunjung ke desa wisata untuk melihat wanita Lombok membikin tenunan. Tapi berhubung waktu kami terbatas, kami minta lansung saja ke Hotel Novotel, satu-satunya hotel berbintang di daerah Lombok Selatan. Sesampai hotel, kami lansung jatuh cinta dengan arsitektur hotel ini, perpaduan antara rumah tradisional Lombok dengan nuansa modern. Kami mendapat kamar dengan type vila, dengan private garden dan private pool.


Hotel Novotel Lombok ini terkesan eksklusif, karena lansung menghadap ke Pantai Kuta. Beberapa unit vila nya pun ada yang lansung menghadap ke pantai, dan tentu saja tarif nya lebih mahal dari unit yang kami sewa. Karena Pantai Kuta ini merupakan halaman belakang Hotel Novotel, berbagai fasilitas hotel tersedia juga di pantai, semisal lapangan bola voli pantai, kolam renang, bar, restauran, dan gubuk-gubuk kecil untuk gogoleran. Butiran pasir Kuta sungguh ajaib, bentuk nya seperti merica dengan berbagai warna seperti bumbu dapur. Dari berbagai pantai yang pernah kami kunjungi di Indonesia, baru kali ini kami melihat pasir pantai semacam ini.

Dari Pantai ini, kita juga bisa menikmati sunset. Sayang sore itu sunset kurang sempurna karena terdapat awan tipis di cakrawala.

Kehidupan malam di Lombok Selatan ini boleh dikata tidak ada. Karena memang kawasan Selatan Lombok baru saja mulai dibangun beberapa tahun belakangan ini. Dengan adanya bandara baru Lombok yang menggantikan bandara Selaparang, diharapkan dapat memicu pertumbuhan daerah Lombok Selatan, karena memang secara jarak, lokasi bandara baru Lombok lebih ke dekat ke bagian Selatan. Untung di hotel tersedia hiburan yang menemani kami sepanjang acara makan malam kami. Berbagai tarian dari tradisional, hingga yang ‘sedikit’ modern disajikan oleh pihak hotel.

Selain sunset, kita juga bisa menikmati sunrise dari Pantai ini. Jadi jangan malas-malas bangun pagi yah, karena pemandangan sunrise di Pantai Kuta juga sangat menawan. Matahari muncul dari belakang bukit-bukit kecil yang mengelilingi Pantai Kuta.

Sayang kami hanya punya waktu semalam untuk menikmati Pantai Kuta Lombok. Berhubung kami masih ada schedule flight ke Bali, terpaksa kami meninggalkan hotel yang sangat romantis ini. Oiya, sehari sebelumnya kami sudah memesan taxi blue bird untuk menjemput kami di Hotel untuk mengantar kami ke Bandara. Karena ternyata airport transfer yang disediakan oleh pihak hotel tidak gratis, dan harganya malah lebih murah kalau naik taxi.

Gili Trawangan: everyday is car free day!

Sebenarnya ini cerita lama ketika honeymoon di bulan Februari 2011, tapi gak ada salahnya untuk menceritakan kembali lewat blog ini. Singkat cerita, tibalah kami berdua di bandara Selaparang, bandara lama di Lombok. Terus terang kami bingung bagaimana caranya untuk pergi ke Gili Trawangan. Maklum, kami memang kurang perencanaan dalam honeymoon kami. Akhirnya kami mengambil jalan paling gampang: naik taxi BlueBird! Toh tema kali ini adalah honeymoon, jadi ya mencari kenyamanan boleh lah. Untuk mencari taxi bluebird, kita perlu jalan kaki keluar dari area bandara, karena di dalam bandara dikuasain oleh taxi yang gak pake argo.

Akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Bangsal. Sebuah pelabuhan kecil dimana dari situ kami naik kapal umum untuk menyeberang ke Gili Trawangan, biaya yang kami keluarkan cukup murah, yaitu hanya 10ribu rupiah per orang. Naik kapal umum ini mirip angkot, penumpang duduk saling berhadapan, dengan barang-barang diletakkan di tengah. Standar keamanan pun nampak tidak diterapkan disini. Jumlah orang yang naik sih memang sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia, tapi muatan barang yang diangkut sepertinya melewati batas. Para penumpang juga tidak diberi jaket pelampung. Setelah 25 menit, sampailah kami di Gili Trawangan.

Kami naik cidomo (seperti andong) untuk melanjutkan ke tempat kami menginap, yaitu Hotel Vila Ombak. Gili Trawangan merupakan pulau dengan konsep hijau. Tidak boleh ada kendaraan bermotor di pulau ini. Jadi transportasi yang tersedia hanya ada 2 macam: sepeda dan cidomo. Setelah beres check in, kami pun memutuskan menyewa sepeda untuk transportasi kami selama di Gili Trawangan. Harga sewanya 50ribu / hari. Tapi sepeda nya juga kurang terawat sih, untung medan jalanan di Gili Trawangan datar-datar saja. Jadi tidak ada masalah buat kami untuk menggenjot sepeda yang kurang enak ini.

Vila Ombak merupakan hotel yang cukup unik, karena kamar-kamar yang disediakan bergaya tradisional khas Lombok. Tiap unik kamar berbentuk rumah panggung, dengan kamar tidur di lantai atas, dan kamar mandi terbuka di bagian belakang kamar. Konsep eco friendly pun dikedepankan oleh hotel ini. air yang digunakan untuk shower, flush wc, dan wastafel menggunakan air laut. Sedangkan untuk air tawar, disediakan keran yang mengucur ke sebuah gentong kecil di sebelah shower.

Pulau Gili Trawangan ini sangat kecil, sehingga kita bisa berkeliling ke seluruh pulau hanya dengan bersepeda. Sayang ketika kami berada di sana, cuaca lebih sering tidak bersahabat dengan kami. Jadi hari-hari kami juga lebih sering dihabiskan di kamar hotel, ya iyalah namanya juga sedang honeymoon, hehehe…. Dan begitu ada kesempatan untuk bersepeda, kami pun segera mengayuh, apalagi kami memang suka bersepeda.

Di Gili Trawangan ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk tempat snorkling. Biasanya di dekat spot tersebut terdapat persewaan snorkel dan life vest. Biaya nya pun cukup murah, per snorkel hanya 15 ribu. Sayang karena memang cuaca yang kurang baik, kami tidak bisa berlama-lama snorkling karena arus yang cukup kuat menguras tenaga kami.

Sepertinya memang kami kurang beruntung, selama 3 hari 2 malam kami berada di Gili Trawangan, baru terakhirnya cuaca cerah muncul. Langit yang biru seperti menggoda kami untuk datang kembali ke Gili Trawangan suatu saat nanti. Untuk perjalanan pulang kali ini, kami naik private speed boat ke Pelabuhan Teluk Kodek, yang lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Bangsal tempat kami berangkat. Sebelum naik speed boat ini, kami diharuskan untuk memakai life vest, karena memang speed boat ini cukup kencang, perjalanan ini ditempuh dengan waktu cuma 10 menit. Gili Trawangan memang pulau yang cocok untuk honeymoon, selain karena konsep eco friendly-nya, pulau ini juga relatif lebih sopan dan jauh dari kesan hura hura nya kehidupan malam Kuta Bali.