Just another alif site

Archive for the ‘travelling’ Category

Melintas Waktu ke Masa Lalu di House of Sampoerna Cafe

Selain Museum, House of Sampoerna Surabaya juga menyediakan Cafe yang nyaman untuk hang out. Berbagai sajian khas Barat maupun Asia dapat kita nikmati di Cafe yang bergaya Art Deco ini. Selain menikmati sajian makanan, cobalah untuk menikmati setiap detail bangunan The Cafe ini. Detail kayu jati dan kaca-kaca patri pada jendela memberikan efek pencahayaan yang romantis.

Minuman yang ditawarkan disini pun cukup unik: ada wedang kunyit asem, kopi rempah, jembatan merah, asem-asem seger, dll. Harganya pun cukup terjangkau. Bagi yang ingin merasakan atmosfer masa lalu yang romantis, cafe ini layak untuk dikunjungi.

Advertisements

Rekreasi ke Taman Wisata Alam Hutan Bakau PIK

Siapa sangka di dekat kawasan rumah-rumah mewah Pantai Indah Kapuk, terdapat cagar alam seluas 99 Hektar. Disana kita bisa menemukan hutan mangrove yang dihuni beragam satwa seperti burung, biawak, ikan, dll. Untuk menemukannya pun cukup mudah, ada beberapa papan petunjuk yang mengarahkan ke lokasi tersebut sejak kita keluar tol PIK. Atau kalau mau gampang, patokannya Gedung Yayasan Tzu Chi.

Untuk masuk ke Taman Wisata Alam Hutan Bakau PIK, kita terlebih dahulu harus membayar biaya 10 ribu / orang dan tambahan 5 ribu kalau bawa mobil. Setelah kita memarkirkan mobil, kita akan melewati pos penitipan barang, dimana nanti kita akan diminta untuk menunjukkan bukti karcis yang kita beli ketika masuk di gerbang. Disitu kita juga ditanya apakah membawa kamera digital. Ternyata kalau pake kamera digital kita dikenakan biaya 1 juta. Dan ternyata kamera pocket pun juga kena aturan serupa, tau gitu kamera pocket nya gak gw keluarin dari tas. Untung baterei HP masih ada 50%, jadi cukuplah untuk mengambil foto dan video selama disana.

Untuk melihat hutan mangrove, kita bisa mengikuti jalan setapak yang dibuat dari kayu. Terdapat juga menara pandang untuk melihat hutan dari atas sekaligus untuk mengamari burung / birdwatching. Disediakan juga perahu untuk berkeliling mengitari hutan. Terdapat beberapa pilihan perahu dari yang kelas VIP (motorboat) sampai yang perahu kayu dengan dayung. Kami putuskan untuk mengambil paket perahu VIP dengan kapasitas 6 orang dengan biaya 200 ribu untuk 40 menit.

Tempat ini memang cocok untuk liburan bersama keluarga atau bisa juga untuk tempat pacaran. Masih di Jakarta, pemandangan yang masih asri, dan udara yang bersih akan menjadi suguhan yang dapat menyegarkan kepala kita. Sayang masih saja ada sampah 😦

Pasar Seni Jakarta 2013

Rasanya di Jakarta ini selalu saja ada acara menarik tiap hari nya. Kali ini saya menyempatkan datang ke acara yang bertajuk Pasar Seni Jakarta 2013. Acara ini berlansung dari tanggal 3-5 November 2013, dengan mengambil tempat di Parkir Timur Senayan. Acara ini diprakarsai oleh Ikatan Alumni ITB. Ingatan saya jadi terlintas ke masa lalu dimana di kampus ITB rutin diselenggarakan acara Pasar Seni setiap 4 tahun sekali. Tapi kalau di kampus ITB, yang punya gawe adalah Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

Tiket masuk sebesar 15 ribu / orang, dapat bonus voucher Speedy Internet sebesar  IDR 5,000 , dan kupon undian untuk meraih grandprize motor. Lokasi acara dibagi menjadi 4 zona, yaitu zona air, zona api, zona api dan zona tanah. Terus terang saya sendiri gak terlalu ngerti ama konsep-konsep zona ini, karena gak ada katalog yang diberikan. Jadi saya keliling saja semua sudut acara untuk melihat apa saja yang dipamerkan. Untungnya di setiap instalasi seni, diberikan informasi mengenai nama instalasi nya, seniman yang bikin, dan deskripsi / cerita dibalik pembuatan karya seni tersebut.

Hal pertama yang lansung menarik perhatian saya adalah “Finding Lunang” karya Iwan Effendi. Sebuah karya yang awalnya dibikin beliau untuk acara ArtJog 2013. Instalasi ini menurut saya sangat menarik karena dibikin dari kayu dan berputar-putar seperti komedi putar.

mtf_sFIbY_370

Instalasi bambu banyak menghiasi di berbagai sudut. Menurut saya yang paling menarik adalah instalasi kapal bambu dengan ukuran yang cukup besar. Karena terbayang saja bagaimana susahnya merangkai instalasi tersebut kemudian membengkokkan bambu untuk membuat kerangka lambung kapal.

mtf_sFIbY_372

Di salah satu sudut zona air, disediakan sebuah kolam memanjang untuk lintasan balapan perahu kotok, mainan perahu yang terbuat dari limbah kaleng. Digerakkan dengan tenaga panas yang dihasilkan oleh minyak tanah yang dibakar. Mainan ini mengingatkan saya waktu masa kecil di Gresik, setiap ada pasar malam saya selalu beli mainan ini untuk diadu dengan temen di kampung.

mtf_sFIbY_374

Setelah zona air, kami masuk ke sebuah tenda tempat pameran beberapa karya instalasi pop art. Ada beberapa karya yang menurut saya menarik, yaitu sebuah speedboat yang bodi kapalnya terbuat dari VS Beetle yang dibalik. Ada juga lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro yang dibuat ala karakter kartun Tin Tin.

Di bagian belakang venue event ini ada pameran mobil listrik buatan dalam negeri. Entah apa hubungannya pekan seni dengan mobil listrik. Sepertinya bagian ini agak dipaksakan untuk masuk dalam event Pekan Seni Jakarta. But its oke lah, saya jadi bisa melihat dari dekat mobil listrik yang digembar-gemborkan oleh Pak Dahlan Iskan.

mtf_sFIbY_381

Di pintu keluar acara terdapat deretan payung berwarna warni yang digantung diatas. Pas banget untuk dijadikan background foto sebelum meninggalkan event ini. Menurut saya, penyelenggaraan Pekan Seni Jakarta 2013 ini perlu ditingkatkan lagi promosinya. Karena menurut saya yang datang pada hari terakhir penyelenggaraan, animo masyarakat yang datang kurang rame. Semoga untuk event berikutnya, event bagus ini bisa lebih rame dan lebih meningkat kualitas karya yang dipamerkan.

mtf_sFIbY_383

 

 

Menikmati Lereng Merapi dengan Jeep Willys

Willys, sebuah Jeep buatan USA yang masuk ke Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Untuk mencoba merasakan kehandalan mobil ini, bisa kita lakukan dengan mengunjungi Terminal Tlogo Putri, di Kaliurang, Yogyakarta (atau lebih tepatnya Sleman). Hanya saja jangan kaget, kalau sejumlah modifikasi telah dilakukan di jeep willys yang ada disini. Bagian mesin dan transmisi telah diganti dengan punya Kijang 80’an. Hal ini dilakukan karena faktor susahnya mendapatkan spare part original maupun KW Willys. Akibat dari modifikasi ini, sistem penggerak 4 roda nya pun sudah tidak berfungsi.

Terakhir kali ke Merapi sekitar tahun 2007. Waktu itu dari terminal Tlogo Putri saya dan teman-teman melakukan trekking ringan, ceritanya bisa dibaca pada tautan ini. Kali ini saya ingin melakukan hal yang berbeda, yaitu ingin naik jeep willys untuk menikmati keindahan Gunung Merapi. Wisata Jeep ini bari ada di Merapi pada tahun 2008. Ketika sampai di Tlogo Putri, deretan jeep sudah berderet menunggu pengunjung. Disini ada 2 macam kendaraan, yaitu Hardtop (Toyota FJ40) dan Willys. Sebelum datang kesini, saya telah melakukan reservasi sebelumnya melalui telepon karena takut kehabisan jeep mengingat kami berkunjung kesini saat musim liburan sekolah. Harga paket untuk menyewa Jeep ini beragam. Kami sendiri mengambil paket yang termurah, yaitu 250ribu / jeep. Harga ini sudah termasuk biaya driver, bensin, dan asuransi Jasa Raharja. Jeep Willys sendiri bisa memuat 4 penumpang + 1 driver. Menurut info sih paket termurah ini durasinya 1,5 jam. Tapi berhubung kami kebanyakan foto-foto, jadinya kami menghabiskan waktu 2 jam =)

Ada beberapa point pemberhentian selama perjalanan. Point pemberhentian ini bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto-foto. Setiap point pemberhentian menawarkan hal-hal yang berbeda. Pada point pertama kita disuguhi trek kecil dengan beberapa handycap untuk speed off road. Pada Point berikutnya kita akan disuguhi sebuah batu besar yang mirip dengan wajah manusia, sehingga batu ini dinamakan batu alien. Ada juga sebuah rumah warga yang dijadikan museum sisa-sisa bencana erupsi Merapi 2010. Disitu diperlihatkan beberapa barang yang dapat menggambarkan betapa dahsyatnya erupsi pada waktu itu. Ada beberapa bangkai sepeda motor yang hanya berupa sasis. Tulang hewan ternak warga. Yang menarik buat saya adalah beberapa botol minuman yang bentuknya menjadi bengkok terkena panas lahar. Tak terbayang, betapa panasnya lahar hasil erupsi Merapi. Di akhir perjalanan, kita akan disuguhi kejutan dimana badan kita akan sedikit basah karena jeep nya melintas sebuah sungai kecil.

Erupsi di Gunung Merapi memang sebuah bencana bagi sebagian besar masyarakat terutama warga di lereng Merapi. Hanya saja ada juga yang merasakan untung dibalik erupsi ini. Selama perjalanan, kita sering berpapasan dengan truk pengangkut pasir dan batu. Rupanya material muntahan erupsi menjadi tambang bagi para pengusaha material bangunan.

20130702-225452.jpg

Sampoerna Theater: “Theater Luas Hawa Tjukup”

Jika sedang di Surabaya, sempatkanlah untuk berkunjung ke House of Sampoerna. Kompleks seluas 1,5 Hektar yang awalnya dibangun untuk sebuah panti asuhan yatim piatu khusus laki-laki. Kompleks bangunan bergaya kolonial Belanda ini juga dikenal sebagai Sampoerna Theater dibeli oleh Liem Seeng Tee pada tahun 1932. Atas prakarsa Sim Tjiang Nio, istri Seeng Tee, auditorium sentral dari kompleks ini dimanfaatkan sebagai gedung pertunjukkan dan mulai beroperasi pada tahun 1933.

Sampoerna Theater

Awalnya Sampoerna Theater dikenal dengan nama Bioscoop Dapoean yang merujuk kepada kawasan dimana bioskop ini berdiri. Di kemudian hari, Sampoerna Theater dikenal sebagai gedung pertunjukkan yang megah dan nyaman dengan kapasitas 1.000 orang. Hal ini tertuang pada semboyan “Theater Luas Hawa Tjukup” yang tertulis pada setiap iklan film yang diputar disini.

Keberadaan Sampoerna Theater juga menjadi saksi perkembangan perfilman pada era 1930-1960an, dimana gedung ini memutar berbagai jenis film mulai dari film bisu, film hitam putih hingga film bersuara dan berwarna, baik dari luar maupun dalam negeri. Seperti yang dapat dilihat dari koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum House of Sampoerna, yaitu piringan hitam, iklan bioskop tahun 1930-1960an, maupun berbagai poster film yang pernah diputar di Sampoerna Theater seperti film Stowaway (1936), Northern Pursuit (1943), Niagara (1952) yang dibintangi oleh Marlyn Monroe (peraih Golden Globe award tahun 1961). Selain difungsikan sebagai tempat pemutaran film, berbagai pentas budaya seperti sirkus China dari Shanghai maupun drama dari Beijing dan Hongkong digelar disini. Tidak mengherankan bila Sampoerna Theater menjadi satu-satunya gedung pertunjukan di Surabaya yang memiliki panggung berputar dan lantai buatan untuk efek khusus. Charlie Chaplin mengunjungi teater ini ketika ia datang ke Surabaya tahun 1932. Gedung bioskop ini juga pernah digunakan oleh Dr. Ir. Soekarno, yang nantinya menjadi presiden pertama Indonesia, untuk serangkaian pidato-pidato untuk mendukung perlawanan Indonesia terhadap penjajah.

Poster Film Nasional

Pada masanya, Sampoerna Theater juga merupakan satu-satunya bioskop di Surabaya yang memberikan penawaran menarik bagi para penonton, yaitu dengan diadakannya undian berhadiah. Pengundian dilakukan oleh portir dengan mengundi nomor seri yang tertera pada karcis masuk. Berbeda dengan bioskop lain yang mayoritas portirnya laki-laki, kebanyakan portir yang bertugas di Sampoerna Theater adalah perempuan. Sampoerna Theater berhenti beroperasi di tahun 1963 karena auditorium sentral difungsikan menjadi tempat pelintingan tembakau.

Poster Film Asing

Pesona Pantai Kuta, Lombok Selatan

Setelah puas menjelajahi Gili Trawangan, kami melanjutkan perjalanan ke bagian Selatan Pulau Lombok. Dari Pelabuhan Teluk Kodek, kami naik taxi Blue Bird ke bagian Selatan Pulau. Bukannya sok kaya naik taxi, tapi emang gak ada angkutan umum bok! Kalau pergi nya rombongan mungkin masih bisa urunan untuk nyarter Elf, tapi berhubung kami cuma berdua, naik taxi merupakan pilihan yang paling rasional.
Kami sempat berhenti sejenak di tengah jalan untuk melihat kemolekan Pantai Senggigi, pantai yang pertama kali dikomersialkan di Lombok. Tapi kalau dibandingkan dengan Pantai di Gili Trawangan ya masih kalah jauhlah, hehehe…
Sopir taxi yang mengantarkan kami cukup komunikatif dalam menjelaskan Lombok. Termasuk menawarkan ke kami untuk berkunjung ke desa wisata untuk melihat wanita Lombok membikin tenunan. Tapi berhubung waktu kami terbatas, kami minta lansung saja ke Hotel Novotel, satu-satunya hotel berbintang di daerah Lombok Selatan. Sesampai hotel, kami lansung jatuh cinta dengan arsitektur hotel ini, perpaduan antara rumah tradisional Lombok dengan nuansa modern. Kami mendapat kamar dengan type vila, dengan private garden dan private pool.


Hotel Novotel Lombok ini terkesan eksklusif, karena lansung menghadap ke Pantai Kuta. Beberapa unit vila nya pun ada yang lansung menghadap ke pantai, dan tentu saja tarif nya lebih mahal dari unit yang kami sewa. Karena Pantai Kuta ini merupakan halaman belakang Hotel Novotel, berbagai fasilitas hotel tersedia juga di pantai, semisal lapangan bola voli pantai, kolam renang, bar, restauran, dan gubuk-gubuk kecil untuk gogoleran. Butiran pasir Kuta sungguh ajaib, bentuk nya seperti merica dengan berbagai warna seperti bumbu dapur. Dari berbagai pantai yang pernah kami kunjungi di Indonesia, baru kali ini kami melihat pasir pantai semacam ini.

Dari Pantai ini, kita juga bisa menikmati sunset. Sayang sore itu sunset kurang sempurna karena terdapat awan tipis di cakrawala.

Kehidupan malam di Lombok Selatan ini boleh dikata tidak ada. Karena memang kawasan Selatan Lombok baru saja mulai dibangun beberapa tahun belakangan ini. Dengan adanya bandara baru Lombok yang menggantikan bandara Selaparang, diharapkan dapat memicu pertumbuhan daerah Lombok Selatan, karena memang secara jarak, lokasi bandara baru Lombok lebih ke dekat ke bagian Selatan. Untung di hotel tersedia hiburan yang menemani kami sepanjang acara makan malam kami. Berbagai tarian dari tradisional, hingga yang ‘sedikit’ modern disajikan oleh pihak hotel.

Selain sunset, kita juga bisa menikmati sunrise dari Pantai ini. Jadi jangan malas-malas bangun pagi yah, karena pemandangan sunrise di Pantai Kuta juga sangat menawan. Matahari muncul dari belakang bukit-bukit kecil yang mengelilingi Pantai Kuta.

Sayang kami hanya punya waktu semalam untuk menikmati Pantai Kuta Lombok. Berhubung kami masih ada schedule flight ke Bali, terpaksa kami meninggalkan hotel yang sangat romantis ini. Oiya, sehari sebelumnya kami sudah memesan taxi blue bird untuk menjemput kami di Hotel untuk mengantar kami ke Bandara. Karena ternyata airport transfer yang disediakan oleh pihak hotel tidak gratis, dan harganya malah lebih murah kalau naik taxi.

Gili Trawangan: everyday is car free day!

Sebenarnya ini cerita lama ketika honeymoon di bulan Februari 2011, tapi gak ada salahnya untuk menceritakan kembali lewat blog ini. Singkat cerita, tibalah kami berdua di bandara Selaparang, bandara lama di Lombok. Terus terang kami bingung bagaimana caranya untuk pergi ke Gili Trawangan. Maklum, kami memang kurang perencanaan dalam honeymoon kami. Akhirnya kami mengambil jalan paling gampang: naik taxi BlueBird! Toh tema kali ini adalah honeymoon, jadi ya mencari kenyamanan boleh lah. Untuk mencari taxi bluebird, kita perlu jalan kaki keluar dari area bandara, karena di dalam bandara dikuasain oleh taxi yang gak pake argo.

Akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Bangsal. Sebuah pelabuhan kecil dimana dari situ kami naik kapal umum untuk menyeberang ke Gili Trawangan, biaya yang kami keluarkan cukup murah, yaitu hanya 10ribu rupiah per orang. Naik kapal umum ini mirip angkot, penumpang duduk saling berhadapan, dengan barang-barang diletakkan di tengah. Standar keamanan pun nampak tidak diterapkan disini. Jumlah orang yang naik sih memang sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia, tapi muatan barang yang diangkut sepertinya melewati batas. Para penumpang juga tidak diberi jaket pelampung. Setelah 25 menit, sampailah kami di Gili Trawangan.

Kami naik cidomo (seperti andong) untuk melanjutkan ke tempat kami menginap, yaitu Hotel Vila Ombak. Gili Trawangan merupakan pulau dengan konsep hijau. Tidak boleh ada kendaraan bermotor di pulau ini. Jadi transportasi yang tersedia hanya ada 2 macam: sepeda dan cidomo. Setelah beres check in, kami pun memutuskan menyewa sepeda untuk transportasi kami selama di Gili Trawangan. Harga sewanya 50ribu / hari. Tapi sepeda nya juga kurang terawat sih, untung medan jalanan di Gili Trawangan datar-datar saja. Jadi tidak ada masalah buat kami untuk menggenjot sepeda yang kurang enak ini.

Vila Ombak merupakan hotel yang cukup unik, karena kamar-kamar yang disediakan bergaya tradisional khas Lombok. Tiap unik kamar berbentuk rumah panggung, dengan kamar tidur di lantai atas, dan kamar mandi terbuka di bagian belakang kamar. Konsep eco friendly pun dikedepankan oleh hotel ini. air yang digunakan untuk shower, flush wc, dan wastafel menggunakan air laut. Sedangkan untuk air tawar, disediakan keran yang mengucur ke sebuah gentong kecil di sebelah shower.

Pulau Gili Trawangan ini sangat kecil, sehingga kita bisa berkeliling ke seluruh pulau hanya dengan bersepeda. Sayang ketika kami berada di sana, cuaca lebih sering tidak bersahabat dengan kami. Jadi hari-hari kami juga lebih sering dihabiskan di kamar hotel, ya iyalah namanya juga sedang honeymoon, hehehe…. Dan begitu ada kesempatan untuk bersepeda, kami pun segera mengayuh, apalagi kami memang suka bersepeda.

Di Gili Trawangan ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk tempat snorkling. Biasanya di dekat spot tersebut terdapat persewaan snorkel dan life vest. Biaya nya pun cukup murah, per snorkel hanya 15 ribu. Sayang karena memang cuaca yang kurang baik, kami tidak bisa berlama-lama snorkling karena arus yang cukup kuat menguras tenaga kami.

Sepertinya memang kami kurang beruntung, selama 3 hari 2 malam kami berada di Gili Trawangan, baru terakhirnya cuaca cerah muncul. Langit yang biru seperti menggoda kami untuk datang kembali ke Gili Trawangan suatu saat nanti. Untuk perjalanan pulang kali ini, kami naik private speed boat ke Pelabuhan Teluk Kodek, yang lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Bangsal tempat kami berangkat. Sebelum naik speed boat ini, kami diharuskan untuk memakai life vest, karena memang speed boat ini cukup kencang, perjalanan ini ditempuh dengan waktu cuma 10 menit. Gili Trawangan memang pulau yang cocok untuk honeymoon, selain karena konsep eco friendly-nya, pulau ini juga relatif lebih sopan dan jauh dari kesan hura hura nya kehidupan malam Kuta Bali.