Just another alif site

Posts tagged ‘travel’

Menikmati Lereng Merapi dengan Jeep Willys

Willys, sebuah Jeep buatan USA yang masuk ke Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Untuk mencoba merasakan kehandalan mobil ini, bisa kita lakukan dengan mengunjungi Terminal Tlogo Putri, di Kaliurang, Yogyakarta (atau lebih tepatnya Sleman). Hanya saja jangan kaget, kalau sejumlah modifikasi telah dilakukan di jeep willys yang ada disini. Bagian mesin dan transmisi telah diganti dengan punya Kijang 80’an. Hal ini dilakukan karena faktor susahnya mendapatkan spare part original maupun KW Willys. Akibat dari modifikasi ini, sistem penggerak 4 roda nya pun sudah tidak berfungsi.

Terakhir kali ke Merapi sekitar tahun 2007. Waktu itu dari terminal Tlogo Putri saya dan teman-teman melakukan trekking ringan, ceritanya bisa dibaca pada tautan ini. Kali ini saya ingin melakukan hal yang berbeda, yaitu ingin naik jeep willys untuk menikmati keindahan Gunung Merapi. Wisata Jeep ini bari ada di Merapi pada tahun 2008. Ketika sampai di Tlogo Putri, deretan jeep sudah berderet menunggu pengunjung. Disini ada 2 macam kendaraan, yaitu Hardtop (Toyota FJ40) dan Willys. Sebelum datang kesini, saya telah melakukan reservasi sebelumnya melalui telepon karena takut kehabisan jeep mengingat kami berkunjung kesini saat musim liburan sekolah. Harga paket untuk menyewa Jeep ini beragam. Kami sendiri mengambil paket yang termurah, yaitu 250ribu / jeep. Harga ini sudah termasuk biaya driver, bensin, dan asuransi Jasa Raharja. Jeep Willys sendiri bisa memuat 4 penumpang + 1 driver. Menurut info sih paket termurah ini durasinya 1,5 jam. Tapi berhubung kami kebanyakan foto-foto, jadinya kami menghabiskan waktu 2 jam =)

Ada beberapa point pemberhentian selama perjalanan. Point pemberhentian ini bisa dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto-foto. Setiap point pemberhentian menawarkan hal-hal yang berbeda. Pada point pertama kita disuguhi trek kecil dengan beberapa handycap untuk speed off road. Pada Point berikutnya kita akan disuguhi sebuah batu besar yang mirip dengan wajah manusia, sehingga batu ini dinamakan batu alien. Ada juga sebuah rumah warga yang dijadikan museum sisa-sisa bencana erupsi Merapi 2010. Disitu diperlihatkan beberapa barang yang dapat menggambarkan betapa dahsyatnya erupsi pada waktu itu. Ada beberapa bangkai sepeda motor yang hanya berupa sasis. Tulang hewan ternak warga. Yang menarik buat saya adalah beberapa botol minuman yang bentuknya menjadi bengkok terkena panas lahar. Tak terbayang, betapa panasnya lahar hasil erupsi Merapi. Di akhir perjalanan, kita akan disuguhi kejutan dimana badan kita akan sedikit basah karena jeep nya melintas sebuah sungai kecil.

Erupsi di Gunung Merapi memang sebuah bencana bagi sebagian besar masyarakat terutama warga di lereng Merapi. Hanya saja ada juga yang merasakan untung dibalik erupsi ini. Selama perjalanan, kita sering berpapasan dengan truk pengangkut pasir dan batu. Rupanya material muntahan erupsi menjadi tambang bagi para pengusaha material bangunan.

20130702-225452.jpg

Advertisements

Sampoerna Theater: “Theater Luas Hawa Tjukup”

Jika sedang di Surabaya, sempatkanlah untuk berkunjung ke House of Sampoerna. Kompleks seluas 1,5 Hektar yang awalnya dibangun untuk sebuah panti asuhan yatim piatu khusus laki-laki. Kompleks bangunan bergaya kolonial Belanda ini juga dikenal sebagai Sampoerna Theater dibeli oleh Liem Seeng Tee pada tahun 1932. Atas prakarsa Sim Tjiang Nio, istri Seeng Tee, auditorium sentral dari kompleks ini dimanfaatkan sebagai gedung pertunjukkan dan mulai beroperasi pada tahun 1933.

Sampoerna Theater

Awalnya Sampoerna Theater dikenal dengan nama Bioscoop Dapoean yang merujuk kepada kawasan dimana bioskop ini berdiri. Di kemudian hari, Sampoerna Theater dikenal sebagai gedung pertunjukkan yang megah dan nyaman dengan kapasitas 1.000 orang. Hal ini tertuang pada semboyan “Theater Luas Hawa Tjukup” yang tertulis pada setiap iklan film yang diputar disini.

Keberadaan Sampoerna Theater juga menjadi saksi perkembangan perfilman pada era 1930-1960an, dimana gedung ini memutar berbagai jenis film mulai dari film bisu, film hitam putih hingga film bersuara dan berwarna, baik dari luar maupun dalam negeri. Seperti yang dapat dilihat dari koleksi-koleksi yang dipamerkan di museum House of Sampoerna, yaitu piringan hitam, iklan bioskop tahun 1930-1960an, maupun berbagai poster film yang pernah diputar di Sampoerna Theater seperti film Stowaway (1936), Northern Pursuit (1943), Niagara (1952) yang dibintangi oleh Marlyn Monroe (peraih Golden Globe award tahun 1961). Selain difungsikan sebagai tempat pemutaran film, berbagai pentas budaya seperti sirkus China dari Shanghai maupun drama dari Beijing dan Hongkong digelar disini. Tidak mengherankan bila Sampoerna Theater menjadi satu-satunya gedung pertunjukan di Surabaya yang memiliki panggung berputar dan lantai buatan untuk efek khusus. Charlie Chaplin mengunjungi teater ini ketika ia datang ke Surabaya tahun 1932. Gedung bioskop ini juga pernah digunakan oleh Dr. Ir. Soekarno, yang nantinya menjadi presiden pertama Indonesia, untuk serangkaian pidato-pidato untuk mendukung perlawanan Indonesia terhadap penjajah.

Poster Film Nasional

Pada masanya, Sampoerna Theater juga merupakan satu-satunya bioskop di Surabaya yang memberikan penawaran menarik bagi para penonton, yaitu dengan diadakannya undian berhadiah. Pengundian dilakukan oleh portir dengan mengundi nomor seri yang tertera pada karcis masuk. Berbeda dengan bioskop lain yang mayoritas portirnya laki-laki, kebanyakan portir yang bertugas di Sampoerna Theater adalah perempuan. Sampoerna Theater berhenti beroperasi di tahun 1963 karena auditorium sentral difungsikan menjadi tempat pelintingan tembakau.

Poster Film Asing

Pesona Pantai Kuta, Lombok Selatan

Setelah puas menjelajahi Gili Trawangan, kami melanjutkan perjalanan ke bagian Selatan Pulau Lombok. Dari Pelabuhan Teluk Kodek, kami naik taxi Blue Bird ke bagian Selatan Pulau. Bukannya sok kaya naik taxi, tapi emang gak ada angkutan umum bok! Kalau pergi nya rombongan mungkin masih bisa urunan untuk nyarter Elf, tapi berhubung kami cuma berdua, naik taxi merupakan pilihan yang paling rasional.
Kami sempat berhenti sejenak di tengah jalan untuk melihat kemolekan Pantai Senggigi, pantai yang pertama kali dikomersialkan di Lombok. Tapi kalau dibandingkan dengan Pantai di Gili Trawangan ya masih kalah jauhlah, hehehe…
Sopir taxi yang mengantarkan kami cukup komunikatif dalam menjelaskan Lombok. Termasuk menawarkan ke kami untuk berkunjung ke desa wisata untuk melihat wanita Lombok membikin tenunan. Tapi berhubung waktu kami terbatas, kami minta lansung saja ke Hotel Novotel, satu-satunya hotel berbintang di daerah Lombok Selatan. Sesampai hotel, kami lansung jatuh cinta dengan arsitektur hotel ini, perpaduan antara rumah tradisional Lombok dengan nuansa modern. Kami mendapat kamar dengan type vila, dengan private garden dan private pool.


Hotel Novotel Lombok ini terkesan eksklusif, karena lansung menghadap ke Pantai Kuta. Beberapa unit vila nya pun ada yang lansung menghadap ke pantai, dan tentu saja tarif nya lebih mahal dari unit yang kami sewa. Karena Pantai Kuta ini merupakan halaman belakang Hotel Novotel, berbagai fasilitas hotel tersedia juga di pantai, semisal lapangan bola voli pantai, kolam renang, bar, restauran, dan gubuk-gubuk kecil untuk gogoleran. Butiran pasir Kuta sungguh ajaib, bentuk nya seperti merica dengan berbagai warna seperti bumbu dapur. Dari berbagai pantai yang pernah kami kunjungi di Indonesia, baru kali ini kami melihat pasir pantai semacam ini.

Dari Pantai ini, kita juga bisa menikmati sunset. Sayang sore itu sunset kurang sempurna karena terdapat awan tipis di cakrawala.

Kehidupan malam di Lombok Selatan ini boleh dikata tidak ada. Karena memang kawasan Selatan Lombok baru saja mulai dibangun beberapa tahun belakangan ini. Dengan adanya bandara baru Lombok yang menggantikan bandara Selaparang, diharapkan dapat memicu pertumbuhan daerah Lombok Selatan, karena memang secara jarak, lokasi bandara baru Lombok lebih ke dekat ke bagian Selatan. Untung di hotel tersedia hiburan yang menemani kami sepanjang acara makan malam kami. Berbagai tarian dari tradisional, hingga yang ‘sedikit’ modern disajikan oleh pihak hotel.

Selain sunset, kita juga bisa menikmati sunrise dari Pantai ini. Jadi jangan malas-malas bangun pagi yah, karena pemandangan sunrise di Pantai Kuta juga sangat menawan. Matahari muncul dari belakang bukit-bukit kecil yang mengelilingi Pantai Kuta.

Sayang kami hanya punya waktu semalam untuk menikmati Pantai Kuta Lombok. Berhubung kami masih ada schedule flight ke Bali, terpaksa kami meninggalkan hotel yang sangat romantis ini. Oiya, sehari sebelumnya kami sudah memesan taxi blue bird untuk menjemput kami di Hotel untuk mengantar kami ke Bandara. Karena ternyata airport transfer yang disediakan oleh pihak hotel tidak gratis, dan harganya malah lebih murah kalau naik taxi.

Gili Trawangan: everyday is car free day!

Sebenarnya ini cerita lama ketika honeymoon di bulan Februari 2011, tapi gak ada salahnya untuk menceritakan kembali lewat blog ini. Singkat cerita, tibalah kami berdua di bandara Selaparang, bandara lama di Lombok. Terus terang kami bingung bagaimana caranya untuk pergi ke Gili Trawangan. Maklum, kami memang kurang perencanaan dalam honeymoon kami. Akhirnya kami mengambil jalan paling gampang: naik taxi BlueBird! Toh tema kali ini adalah honeymoon, jadi ya mencari kenyamanan boleh lah. Untuk mencari taxi bluebird, kita perlu jalan kaki keluar dari area bandara, karena di dalam bandara dikuasain oleh taxi yang gak pake argo.

Akhirnya sampailah kami di Pelabuhan Bangsal. Sebuah pelabuhan kecil dimana dari situ kami naik kapal umum untuk menyeberang ke Gili Trawangan, biaya yang kami keluarkan cukup murah, yaitu hanya 10ribu rupiah per orang. Naik kapal umum ini mirip angkot, penumpang duduk saling berhadapan, dengan barang-barang diletakkan di tengah. Standar keamanan pun nampak tidak diterapkan disini. Jumlah orang yang naik sih memang sesuai dengan jumlah tempat duduk yang tersedia, tapi muatan barang yang diangkut sepertinya melewati batas. Para penumpang juga tidak diberi jaket pelampung. Setelah 25 menit, sampailah kami di Gili Trawangan.

Kami naik cidomo (seperti andong) untuk melanjutkan ke tempat kami menginap, yaitu Hotel Vila Ombak. Gili Trawangan merupakan pulau dengan konsep hijau. Tidak boleh ada kendaraan bermotor di pulau ini. Jadi transportasi yang tersedia hanya ada 2 macam: sepeda dan cidomo. Setelah beres check in, kami pun memutuskan menyewa sepeda untuk transportasi kami selama di Gili Trawangan. Harga sewanya 50ribu / hari. Tapi sepeda nya juga kurang terawat sih, untung medan jalanan di Gili Trawangan datar-datar saja. Jadi tidak ada masalah buat kami untuk menggenjot sepeda yang kurang enak ini.

Vila Ombak merupakan hotel yang cukup unik, karena kamar-kamar yang disediakan bergaya tradisional khas Lombok. Tiap unik kamar berbentuk rumah panggung, dengan kamar tidur di lantai atas, dan kamar mandi terbuka di bagian belakang kamar. Konsep eco friendly pun dikedepankan oleh hotel ini. air yang digunakan untuk shower, flush wc, dan wastafel menggunakan air laut. Sedangkan untuk air tawar, disediakan keran yang mengucur ke sebuah gentong kecil di sebelah shower.

Pulau Gili Trawangan ini sangat kecil, sehingga kita bisa berkeliling ke seluruh pulau hanya dengan bersepeda. Sayang ketika kami berada di sana, cuaca lebih sering tidak bersahabat dengan kami. Jadi hari-hari kami juga lebih sering dihabiskan di kamar hotel, ya iyalah namanya juga sedang honeymoon, hehehe…. Dan begitu ada kesempatan untuk bersepeda, kami pun segera mengayuh, apalagi kami memang suka bersepeda.

Di Gili Trawangan ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk tempat snorkling. Biasanya di dekat spot tersebut terdapat persewaan snorkel dan life vest. Biaya nya pun cukup murah, per snorkel hanya 15 ribu. Sayang karena memang cuaca yang kurang baik, kami tidak bisa berlama-lama snorkling karena arus yang cukup kuat menguras tenaga kami.

Sepertinya memang kami kurang beruntung, selama 3 hari 2 malam kami berada di Gili Trawangan, baru terakhirnya cuaca cerah muncul. Langit yang biru seperti menggoda kami untuk datang kembali ke Gili Trawangan suatu saat nanti. Untuk perjalanan pulang kali ini, kami naik private speed boat ke Pelabuhan Teluk Kodek, yang lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Bangsal tempat kami berangkat. Sebelum naik speed boat ini, kami diharuskan untuk memakai life vest, karena memang speed boat ini cukup kencang, perjalanan ini ditempuh dengan waktu cuma 10 menit. Gili Trawangan memang pulau yang cocok untuk honeymoon, selain karena konsep eco friendly-nya, pulau ini juga relatif lebih sopan dan jauh dari kesan hura hura nya kehidupan malam Kuta Bali.

Summer Palace: Istana Musim Panasnya Kaisar China

Summer Palace merupakan istana yang berada di bagian utara kota Beijing. Dengan luas area 2,9 Km persegi, kompleks istana ini terdiri dari 2 bagian, yaitu danau Kunming dan Bukit Panjang Umur. Uniknya danau Kunming merupakan danau buatan, hasil tanah pengerukan danau ini ditimbun untuk dijadikan Bukit Panjang Umur.  Bangunan utama Summer Palace-nya sendiri terletak diatas Bukit Panjang Umur. Pada Desember 1998, tempat ini ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site.
Untuk menuju bangunan utama, kita akan melewati koridor yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan yang menceritakan dongeng masyarakat China. Ada tentang kisah perang 3 kingdom, hingga cerita tentang Monkey King yang menemani biksu Tong ke barat dalam perjalanan mencari kitab suci.


Danau Kunming juga dilengkapi dengan perahu naga untuk para pengunjung. Jadi buat pengunjung yang gak mau capek-capek mengitari kompleks Summer Palace, bisa naik perahu ini. Tapi jika ingin sedikit olahraga, pengunung juga bisa berjalan kaki memutari danau Kunming atau lewat jembatan seventeen arch.


Summer Palace hanya dibuka untuk periode tertentu. Jadi biar gak kecewa kalau kamu udah kadung kesini ternyata tutup, ada baiknya cek dulu web nya di http://www.ebeijing.gov.cn/Travel/Sightseeing/Summer_Palace/ .

Keindahan Tersembunyi di Ujung Genteng

Pertama kali mendengar nama Ujung Genteng, dahi agak menyerngit karena nama nya yang unik. Setelah melakukan googling, ternyata itu adalah sebuah nama desa di selatan Sukabumi. Sudah 2x saya kesana, yaitu pada tahun 2009 dan 2010. Walaupun untuk menuju kesana memakan waktu yang cukup panjang, yaitu 7-8 jam, tapi selalu ada rasa kangen untuk kembali berkunjung.
Ujung Genteng mempunyai beberapa objek wisata menarik untuk para traveller. Jadi ada baiknya untuk membikin perencanaan yang matang sebelum berangkat kesini agar semua spot dapat tersambangi. Berikut daftar objek wisata di Ujung Genteng:
1. Curug Cikaso
Curug ini lokasinya paling depan apabila dibandingkan dengan objek wisata lain, sehingga biasanya tempat ini menjadi tempat yang pertama dikunjungi. Untuk mencapai Curug Cikaso, pengunjung akan naik perahu terlebih dahulu menyusuri sungai, ongkos sewa perahu ini adalah 75rb. Tapi menurut kabar dari teman yang kesini bulan lalu, sekarang sudah ada jalan setapak dari parkiran mobil ke lokasi curug sehingga tidak perlu lagi untuk menyewa perahu.


2. Curug Cigangsa
Lokasi curug ini baru saya ketahui ketika kunjungan saya yang kedua kali nya di Ujung Genteng. Untuk mencapai lokasi curug Cigangsa, kita perlu trekking dulu menyusuri persawahan. Uniknya apabila kita sampai di lokasi curug ini, kita akan berada di bibir atas curug ini. Jadi apabila kita ingin mengabadikan Curug ini keseluruhan, kita masih harus trekking menuruni curug lewat samping.


3. Pantai Pangumbahan
Inilah pantai yang menjadi trademark Ujung Genteng. Karena disini terdapat penangkaran penyu. Disini pengunjung bisa berkesempatan untuk melepaskan tukiki (anak penyu) untuk dikembalikan ke habitatnya, yaitu ke laut lepas. Biasanya setelah menikmati sunset, pengunjung akan datang pada malam harinya lagi untuk menyaksikan penyu betina bertelur. Untuk pergi kesini, bisa menggunakan mobil dengan menyusuri pantai Ujung Genteng. Tapi siap-siap aja menerjang genangan air yang cukup tinggi apabila air pasang datang di perjalanan menuju kesini.


4. Pantai Cipanarikan.
Garis pantai yang panjang dan pasir putih yang halus seakan memanjakan kita untuk bermain pasir ataupun bermain dengan ombak. Pantai Cipanarikan merupakan lokasi yang pas untuk mengabadikan momen sunset. Pantai ini merupakan terusan Pantai Pangumbahan. Hanya saja karena akses yang sulit, pengunjung harus menyewa ojek untuk pergi kesini.


5. Tanah Lot
Well, jujur saya gak tahu nama aslinya apa, tapi banyak pengunjung yang memberi nama tempat ini sebagai Tanah Lot, karena kemiripan bentuk dengan objek wisata tanah lot yang ada di Bali. Hanya saya, disini yang mirip batu karangnya, tanpa pura diatas batu karang tersebut. Tanah Lot terletak di dalam kompleks penginapan Amanda Ratu.


6. Pantai Aquarium
Pantai ini berair jernih dan tenang. Tapi berhubung banyak koral putih kecil-kecil, sehingga agak sakit apabila kita melangkahkan kaki di pantai ini.


7. Tempat Pelelangan ikan
Pergi ke pantai tak lengkap rasanya apabila tidak makan seafood. Jika ingin mendapatkan ikan yang masih segar dengan harga murah, datang saja ke pasar ikan. Dijamin puas deh beli ikan disini dengan harga yang murah.


8. Goa Lalay
Saran saya untuk kesini pake sandal jepit dan celana pendek aja biar gampang bersihin kaki. Karena terdapat genangan air yang cukup tinggi di dalam goa ini. Kabarnya sih goa nya bisa tembus sampai ke pantai, tapi berhubung suasana gelap dan bau, kami tidak teruskan sampai ke pantai.


Sebenarnya masih banyak objek wisata yang ada di Ujung Genteng, misal Pantai Ombak 7 yang terkenal untuk tempat surfing. Tapi berhubung akses kesana juga susah, jadi saya juga belum pernah kesana, sehingga saya tidak share di tulisan ini.
Untuk penginapan di Ujung Genteng ada banyak pilihan. Dari hotel bagus seperti Amanda Ratu Resort (saya kurang rekomen karena rada mahal), sampai dengan penginapan yang dikelola masyarakat setempat seperti Pondok Adi atau Pondok Hexa. Kalau saya lebih milih untuk tinggal di Pondok Hexa, bisa nyewa 1 bungalow dengan isi 2 kamar tidur, dan dilengkapi juga dengan ruang tamu, semua kamar pun pake AC. Karena 1 kamar bisa diisi 3-4 orang, biaya menginap di Pondok Hexa tergolong sangat murah.

Dengan keberagaman objek wisata yang ditawarkan, Ujung Genteng telah menjadi primadona masyarakat Jakarta dan Jawa Barat untuk berlibur murah meriah. Total biaya yang biasa saya keluarkan untuk pergi kesini bersama teman-teman menghabiskan rata-rata 250rb-350rb per orang, tergantung pilihan tempat penginapan kita. Cukup murah bukan, ayo berkunjung ke Ujung Genteng!

Taman Safari Cisarua Bogor

Menyaksikan ribuan koleksi satwa dari dekat dengan konsep kebun binatang masa kini dimana satwa dilepas bebas seperti di habitat aslinya. Tidak hanya satwa endemik Indonesia tapi juga satwa langka dunia. Hal ini serasa melakukan perjalanan wisata di hutan belantara dunia, sambil menikmati keindahan panorama yang sejuk di lereng Gunung Pangrango.
Paragraf diatas merupakan tulisan yang tertera di brosur yang dibagikan ketika kita masuk ke Taman Safari. Well, sebenarnya acara pergi ke sini tidak direncanakan. Karena urusan di siang hari sudah beres, dan berhubung sudah cuti juga, maka kami putuskan pergi ke Taman Safari. Lagian lebih enak ke Taman Safari di hari kerja, karena apabila weekend pasti daerah Puncak macet baget.


Sesuai dengan deskripsi yang ada di brosur, kita bisa bertemu dengan berbagai macam hewan dari berbagai benua. Dari gajah sumatra, sampai dengan singa afrika. Semua hewan-hewan tersebut dikelompokkan dalam berbagai zona. Untuk binatang buas, terdapat pemisah berupa pagar tinggi, sehingga apabila kita hendak masuk ke zona tersebut, kita harus memberhentikan mobil terlebih dahulu, menunggu pintu gerbang untuk dibuka.

Sebaiknya memang datang pagi untuk kesini, karena banyak wahana dan show yang dapat kita nikmati di dalam taman safari. Untuk menikmati show nya, kita harus mencermati jadwal yang ada di brosur. Sayang karena kami datangnya sudah agak sorean, jadi hanya bisa menyaksikan Elephant Show. Harga tiket masuk yang mahal ( 100 ribu per orang dan 15 ribu per mobil ), menjadi terasa murah apabila dibandingkan dengan banyaknya free show yang seharusnya bisa kami tonton. Sedangkan untuk wahana permainan, terdapat biaya tambahan.

Ok gpp, next time harus spare time yang cukup untuk berkunjung kesini. Lagian Taman Safari juga tidak terlalu jauh dari Jakarta. Apalagi ternyata ada penginapan bergaya caravan di dalam kompleks Taman Safari, sepertinya patut dicoba untuk merasakan tidur di dalam caravan, seperti di film-film barat =D

Setelah melihat hewan-hewan di Taman Safari dan sesekali memberikan makanan ke hewan-hewan tersebut, giliran perut kami yang perlu diberikan makanan. Hm, sepertinya mampir di restoran Cimory menjadi pilihan yang oke. Jadi sebelum masuk tol, kami mampir dulu untuk dinner di Cimory. Cisarua Mountain Dairy merupakan nama lengkap dari perusahaan yang punya restoran dan bisnis yoghurt ini. Di restoran tersebut kita juga bisa melihat pabrik yoghurt yang biasa kami beli di minimarket.  Di pintu keluar restoran terdapat toko oleh-oleh, rasanya mata kembali digoda untuk membeli makanan kecil untuk teman-teman kantor. Jadi banyak pengeluaran deh di hari cuti ini. Tapi gpp, yang penting hati senang =) Untuk foto-foto lebih lengkap, silahkan klik disini.